1
Kesakitan yang kurasa saat ini membuatku sangat terpuruk. Semua orang menyalahkanku atas apa yang aku rasakan. Bahkan di kala aku tidak melakukan apa-apa, ucapan dan tatapan orang-orang seakan memangsaku hidup-hidup. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Apa salah jika aku merasa kesal pada keadaan?. Apa salah jika aku merasa kecewa terhadap orang-orang yang ada di dekatku?. Tahukah kalian jika aku merasa kecewa terhadap diri sendiri?. Satu yang bisa aku harapkan untuk dapat melihat, merasakan dan mengerti perasaanku, kekasihku. Rasanya tidak salah jika aku mengaharapkan rasa simpati darinya. Aku bukan tipikal manusia yang pintar mencurahkan apa yang sedang aku rasakan. Aku pun tidak begitu pintar menggambarkan perasaanku. Di saat aku mencoba untuk mengutarakannya dan akhirnya dia tahu, kekasihku tidak bisa menjadi teman yang aku harapkan. Aku tidak kekurangan rasa cintanya. Aku merasa cukup mendapatkan rasa itu darinya. Namun ada kalanya, aku membutuhkan peranan yang sesungguhnya. Mungkin bentuk seperti itu yang tidak aku dapatkan.
Di tengah rasa sakit hati yang menyesakan dada, aku tersudut dalam hening dan muramnya kamar. Perutku juga terasa lapar. Belakangan ini pola makanku tidak teratur. Selera makanku hilang. Sepulang kuliah, aku hanya mendengarkan musik dan membaca Kamus Panduan Belajar Bahasa Perancis Cepat. Konsentrasi dan fokusku entah sedang berada di mana?. Aku merasa kesal sekali. Rasanya seperti dadaku terhinmpit batu dan aku tidak bisa bernafas dengan normal. Langkahku pun kurasakan seperti orang tak normal, sempoyongan. Di meja makan, kekasihku telah menyiapkan makanan buatku. Soto ayam. Makanan favorit kami. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil piring, sendok dan garpu. Aku ambil nasi yang sudah ada di meja makan. Aku sinduk nasi ke atas piringku. Hanya satu kali sinduk, dan itu pun tidak banyak. Lalu terdiam sejenak. Aku bingung. Makan di ruang televisi atau di meja makan saja. Biasanya aku selalu makan sambil melihat tayangan televisi. Jarang sekali kami menggunakan meja makan untuk makan. Aku simpan piringku di meja makan. Aku berlalu menuju ruang televisi. Dan beberapa saat kemudia aku kembali ke meja makan. Aku tarik kursi meja makan dan duduk. Aku dekatkan mangkok soto ayam dengan piring nasiku. Kemana nafsu makanku?. Aku tidak memasukan makanan ke dalam mulutku. Yang aku lakukan hanya memaminkan makananku. Mengaduk-ngaduk kuah soto. Membolak-balik daging ayam yang tenggelam dalam kuah soto yang kekuning-kuningan itu. Rasa sesak di dadaku masih ada. Kekesalan itu masih berdiam di diriku. Di tambah lagi, sebelum kekasihku keluar rumah, aku sempat adu mulut. Beradu argument tentang siapa yang paling egois, tentang nilai-nilai sebuah hubungan kekasih. Rasanya ingin kuteriakan saja dan membalikan semua ucapan dia ke mukannya, namun bagaimanapun aku tak sanggup mengatakannya. Dan aku tidak mau memperpanjang perdebatan. Biar saja, yang penting aku tahu satu hal, bahwa kekasihku adalah seorang anti kritik kelas kakap.
Rasa sayang timbul melihat nasiku sudah tak karuan. Akhirnya aku memaksakan diri untuk membuka mulutku dan mengarahkan makanan masuk ke dalam kerongkongan melalui mulutku. Aku kunyah makanan dalam mulutku. Aku kunyah cukup lama. Sambil mengunyah, pikiranku tidak terisi oleh pikiran untuk menelan makanan itu, malah pikiranku tersugesti kalau, merokok adalah satu hal yang nikmat untuk dilakukan di tengah kekalutanku, kesakitanku, kekesalanku atau apalah. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan kata yang tepat. Aku merasa bagaikan kehidupanku telah diambil dan dibawa pergi. Kemudian aku mengambil rokok dan lighter dari dalam tasku. Aku duduk di ruang tv. Hasrat untuk menonton tv pun tak ada. Aku hanya ingin merokok, merokok dan merokok. Jantungku berdetak kencang. Sesak di dadaku tak kunjung hilang. Di kepalaku seakan diisi oleh sejuta pikiran yang entah datang dari mana?. Aku hisap terus rokokku. Tangan dan jari-jariku gemetaran. Rokok yang aku pegang terlihat goyang, ikut bergetar, namun aku tetap terus menghisap rorkokku itu. Ternyata benar, di saat kau merasa rumit dengan semuanya, dan tak ada yang bisa memahami keadaan, maka rokok adalah pelarian yang tepat untuk mencurhkan dan mengerti semuanya. Batang demi batang rokok tak terasa sudah memenuhi asbak. Dan pikiranku pun sudah mulai sedikit tenang. Namun rasa sesak di dada masih ada. Seakan batu besar masih kerasan di dadaku. Pikiranku menyulutkan ide buatku untuk mandi. Yah, sepertinya berendam air hangat cukup nikmat dilakukan di tengah cuaca sore kota Bandung yang mendung dan dingin. Aku menyiapkan air panas di dalam bath tube. Aku tanggalkan pakaianku. Sebelumnya, aku sudah membawa sebotol red wine milik kekasihku yang tersimpan di dalam lemari es. Aku mencurinya. Sebelumnya aku jarang sekali melakukan rendaman air hangat apalagi sambil menikamti wine. Aku tidak menggilai minuman ekstrak anggur ini. Tidak seperti kekasihku, yang gemar sekali meminum wine dan sering berendam air hangat. Tubuh telanjangku masuk ke dalam bath tube yang sudah terisi oleh air hangat, dan tangan kiriku memegang segelas anggur. Dengan berendam, aku harap pikiranku dan rasa sesak yang tak karuan ini bisa hilang dan aku kembali merasa normal.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Aku lakukan hal itu berulang-ulang. Sigh! Perlahan dadaku terasa ringan. Seakan batu itu mulai lunak. Ku teguk wine dan dapat kurasakan ketajaman sari buah anggur mengalir ke dalam tenggorakanku. Pikiran-pikiran yang ada di kepalaku serasa teratur bergerak, Tak ada lagi pikiran-pikiran suram dalam keplaku. Kehangatan air menyentuh tubuhku membuatku ingat akan kenikmatan yang rasanya sudah lama sekali tidak aku rasakan. Aku tersenyum. Aku pejamkan mataku. Aku bawa pikiran di kepalaku menuju tempat memori-memori indah. Aku teringat masa kecilku. Kebahagian yang murni sekali. Masa kecilku sangat menyenangkan. Aku berlari di lapangan yang luas. Bermain bola sepak bersama teman-temanku dulu. Senyum-senyum polos terpancar. Teriakan-teriakan penuh suka terdengar. Lingkungan yang asri tergambar dalam ilusiku. Aku gemar sekali menaiki pohon mangga milik tetanggaku bersama teman-temanku. Ingatanku seakan memproyeksikan gambaran masa-masa itu. Slide berganti. Pikiranku membawaku pada memori masa-masa bangku sekolah menengah atas. Aku sangat bahagia sekali waktu SMA. Aku memiliki teman banyak yang begitu perhatian padaku. Walaupun dulu aku adalah seorang yang cukup pendiam dan pemalu. Namun teman-temanku selalu berusaha membuatku menjadi seorang yang periang. Mereka mengajakku untuk melakukan hal-hal baru. Aku orang yang tidak pernah konsisten dengan sebuah kegemaran. Teman-temanku pernah mengenalkanku tentang dunia pecinta alam. Aku sempat menggemarinya, dan selalu tertantang untuk berpergian mendaki gunung. Namun seingatku, kegemaran pecinta alamku itu hanya bertahan selama 6 bulan saja. Pernah juga aku tertarik dengan dunia bersepeda. Ketika itu, pacarku adalah seorang yang hobi sekali bersepada dan memiliki komunitas bersepada yang punya nama CRC, singkatan dari Cycling Road Community. Kegiatan pacaranku adalah tidak lain dan tidak bukan bersepeda mengelilingi kota. Bersama teman-teman komunitasnya, aku dan pacarku pernah bersepeda Bandung-Pangandaran. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena menghabisakn waktu yang panjang. Aku tidak ingat berapa hari waktu yang kami tempuh saat itu. Yang aku ingat hanya setelah itu, hubunganku dengan pacarku Feni, kandas. Berakhirnya hubungan kami berimbas kepada kelangsungan kegemaranku terhadap dunia bersepeda. Lucu memang bila mengingatka hal semacam itu.
Aku membuka mataku dan kembali meneguk wine. Tawa kecil terbentuk di bibirku. Ku tatap langit-langit kamar mandi. Pikiranku ku biarkan bebas. Aku berharap aku dapat melihat proyeksi masa lalu yang indah kembali. Ku rasakan hawa sore sudah berganti malam dan dapat kudengar suara rintik hujan di luar. Kembali ku teguk wine-ku dan kembali dapat kurasakan wine membuat tubuhku tambah hangat. Rintikan hujan di luar ku dengar semakin keras. Hujan belakangan ini memang selalu deras, namun tak pernah berlangsung lama. Suara hujan di luar seolah menstimulasi pikiranku. Sambil kuperhatikan suara hujan, aku memejamkan kedua mataku kembali. Pikiranku sedikit kupaksa untuk membawa diriku membuka kembali berkas-berkas memori yang ku simpan di dalam otak kiriku. Aku melihat hujan turun dari langit membasahi jalanan. Membasahiku yang sedang berjalan sendirian. Kepala ku gerakan tak karuan. Mataku memejam kecut ketakutan. Air hujan terus menyerang tubuhku hingga ku basah kuyup. Lalu aku melihat serpihan beling berserakan di lantai. Aku melihat celana jins yang tergeletak sembarangan di atas sofa. Sosok wajah penuh nafsu binatang terlihat sangat jelas dan terasa sangat dekat dengan wajahku. Aku melihat bayangan hitam seorang. Aku mendengar suara amarah. Aku mendengar suara rintihan dan kenikmatan iblis. Tubuhku terkoyak-koyak. Dan kudengar suara gelas jatuh. Aku membuka kedua mataku. Nafasku tak beraturan. Aku melihat pecahan beling di atas lantai kamar mandi dan diwarnai oleh warna merah wine. Aku memcoba mengatur nafasku dan memcoba untuk tenang. Entah mengapa memori hitam itu menyelinap ke dalam pikiranku dan membuatk jantungku berdebar kencang. Aku basuh mukaku dengan air hangat, lalu kubenamkan kepalaku tenggelam terbaring di dasar bath tube.
Bersambung…
*****

coMeNt y a.dJ
BalasHapusjUjUr aWaLnYa q g nGeRti gA aDa pRoLoguEnYa..
tPi mKinLma d bCa bRu dKit"mLai nGErti tPi aLurNya kMn"y msh meMbinguNgkan hehe :-D
baca lanjutannya. kalo belum biasa dengan alur back forward kaya gini emang pusing... baca kelanjutannya
BalasHapusbaca lanjutannya. kalo belum biasa dengan alur back forward kaya gini emang pusing... baca kelanjutannya
BalasHapusbaca lanjutannya. kalo belum biasa dengan alur back forward kaya gini emang pusing... baca kelanjutannya
BalasHapussama kayak mega. Kang haji juga bingung, mau dibawa kemana cerita ini...
BalasHapusHehehe...