Rabu, 07 Juli 2010

The Man, The Music, The Madness, The Murderer and The Motion Picture (AMADEUS - 1984)

Sebuah kenyataan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya terproyeksi melalui sebuah film peraih 8 Oscar termasuk Best Picture pada tahun 1984, Amadeus. Film berplot tentang kisah komposer yang melanglang buana di dunia pada awal kemahsyurannya hingga kini, Wolfgang Amadeus Mozart masih menghanyutkan hati manusia yang setia duduk sambil memasang telinga mereka untuk mendengarkan karya terbaiknya seperti : Don Gioavanni dan Die Zauberflote. 

Penulis Peter Shaffer dan sutradara Milos Forman mengusung hikayat seorang seniman spectaculer terkenal dan terbaik di Eropa menjadi sebuah karya biopik berkelas. Kisah luar biasa Mozart diceritakan oleh seorang komposer handal Antonio Salieri. Bakat Musik yang diberikan Tuhan unutuk Mozart membuat Salieri iri dan marah pada Tuhan hingga akhirnya Salieri memutuskan keyakinannya dan berencana untuk menghilangkan Mozart dari keeksistensiannya..

Jujur, film ini mengecewakan. Bukan secara teknik atau kualitas cerita atau naskah yang ada di dalam film ini. sendiri, melainkan pada kenyataan yang terefleksi melalui karakter Mozart itu sendiri. Yeah, I was felt an emphatic sense to Salieri.

The Man : Siapa yang sangka bahwa ternyata pencipta Instrument terindah dunia adalah seorang yang arogant, pervert, vulgar, slacker, dan sangat urakan tidak punya rasa hormat. Memang tidak ada yang salah dengan itu semua, tapi terkadang itu semua malah menjadi Sebua- Paradoks-yang-kadang-sangat-mengganggu-untuk-diketahui. And those are very unpleasant. Hebatnya adalah Tom Hulce mampu menghidupkan karakter "asli" kepada khalayak penonton yang sama sekali tidak tahu seperti apa rupa dan sifat Mozart.




The Music : Persaingan antara Salieri dan Mozart terjadi begitu dingin. Musik adalah sebuah alat tempur yang mereka pegang dalam otak jenius mereka. Dan Musik menjadi sebuah keindahan, tidak peduli bagaimana latar belakang, warna kulit, suku-budaya bahkan lidah sekalipun. Selain menginspirasi dan meng-impulsive otak bayi-bayi dalam kandungan, Instrument-instrument yang diciptakan Mozart mampu menimbulkan rasa iri pada diri Salieri. Keindahan yang memiliki beribu arti memang diakui oleh Salieri. Akibatnya, Salieri kehilangan kepribadian dia sebelumnya. Betapa bercabangnya kekuatan Musik klasik pada masa itu sehinnga mampu membunuh karakter yang telah dibangun dalam diri seseorang.



The Madness : Hilangnya keyakinan, cemburu, tekanan yang begitu hebat, kebuntuan menyatu bermutasi menjadi sebuah kegilaan yang tidak bisa ditolak. Mozart melakukannya di luar batas di tengah niat jahat Salieri. 

The Murderer : Keironisan motif terjadi begitu tiba-tiba adalah periode yang akan membawa Mozart pada akhir hayat yang menyedihkan. Dan sebuah karya akan dimainkan.

The Motion Picture : Indahnya Musik adalah sebuak zat yang mampu menghidupkan nuansa cerita seni yang terkandung dalam balutan emosi perasaan manusia menjadi sebuah Motion Picture maha agung. Mozart telah banyak membuat banyak opera melalui tangan dingin yang dianugerahkan Tuhan, fantasinya, dan tentunya adalah orang-orang terdekatnya adalah sumber inspirasi yang berharga. Hebatnya lagi Motion Picture yang diciptakannya pada era itu memiliki  kekuatan untuk merubah keyakinan seseorang. Sungguh karya yang alami. Masterpiece yang tertoreh dalam sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar