Senin, 23 Agustus 2010

Rachel Getting Married

   Dengan pengambilan gambar gaya amatir, membuat pagar penghalang antara Kim dan keluarganya terproyeksi nampak begitu jelas. kesederhanaan penggarapan naskah cemerlang ini dilakukan dalam wadah inspiratif sebuah drama keluarga. Tidak ada features yang berperan unutk menyokong kesempurnaan Rachel Getting Marrie. Anda hanya disuguhkan tradisi warga Amerika tentang proses pernikahan.
   Dipercaya memerankan karakter junkies Anne Hathaway mampu keluar dari personal chic disetiap karakter yang memang terkesan sudah sangat melekat di dirinya. Sebut saja The Princes's Diary, The Devils Wears Prada, Bride Wars atau dalam zona karakter glammor lawas ala Brokeback Mountain. Amunisi sederhana nan minim tidak menjadi sebuah kekurangan. Malah sebaliknya. Naskah begitu kuat, begitu mengisi setiap adegan yang disajikan. Jenny Lumet sang penulis cerita ini, memberikan gambaran problematika yang terjadi di dalam lingkup keluarga dengan sangat nyata dan tepat. Diambil dari prespective of sisterhood, chemistry antara Kim dan Rachel melebur menjadi molekul bersenyawa. Begitu menggigit. 
   Sang sutradara Jonathan Demme berhasil menyuguhkan sisi kelam dalam tekanan batin yang dialami seorang ex-user dalam kelilingan hikuk-pikuk suasana penuh kegembiraan menjelang perkawinan. Cukup cerdik memang. Menggabungkan sebuah situasi kontradiktif yang mencerminkan bahwa tak selamanya apa yang dilihat mata sebuah kebahagian, ternyata memiliki sebuah noda hitam yang memicu munculnya 'perang dingin' yang terjadi. Hal ini mereprensetasikan masalah-masalah yang terjadi di dalam sebuah keluarga. Rachel getting Married mengangkat issue itu dalam kemasan yang cukup sempurnaan.
   Kebersamaan dalam sebuah keluarga adalah faktor penting yang dibutuhkan agar dapat bertahan. Ego bukanlah jalan keluar, melainkan jalan buntu yang akan menyebabkan masalah baru. Setidaknya itulah yang dapat dipetik dari Rachel yang akan menikah. Begitu menggugah.

Minggu, 15 Agustus 2010

The Illusionist : It's a trick, It's an Illusion

    Seakan bersembunyi dibalik kalimat it's a trick, it's an illusion Neil Burger menyelesaikan misteri yang tidak nampak bagai misteri dengan penuh siasat. Secret revealed  The Illusionist tidak dieksekusi dengan begitu jelas. terlihat semu. Bila dibandingkan dengan The Prestige, sajian materi ilusi The Illusionist lebih menawan memang dan cukup artistik. Namun sayangnya storyline The Illusionist lebih condong pada 'dilema' cinta Duchess Von Teschen yang melibatkan sang illusionist sendiri serta tak lepas dengan issue nepotisme dalam dinding-dinding kerajaan. The Prestige (Nolan) lebih bijak dalam menggarap ladangnya menjadi satu sumber nyawa yang utuh dan menjabarkan 'point' dengan pintar. Bertolak belakang dengan Burger yang hanya menyelesaikan pekerjaan rumah tidak sepenuhnya gamblang menjadi sesuatu yang patut dinantikan. Twist terjawab tidak sesuai dengan mindset yang tanpa sengaja telah ia tanamkan dalam atmosfer The Illusionist. 

    Pecinta Edward Norton dijamin tidak akan kecewa menikmati paket akting darinya. Karena terasa sekali bahwa perform yang dia berikan begitu memukau. Progres kualitas mengagumkan begitu nyata mengalir dari setiap tindak-tanduk Norton. Bila ditanya siapa 'superhero' sebenarnya maka orang yang layak mendapat selendang bertulisan ' The One who Save the Day ' selain Ed adalah Paul Giammati. Berperan sebagai Inspector Uhl, Tangan kanan sang Leopold. Pilihan 'bijak' yang ia lakukan berhasil menguak teka-teki dibalik kalimati it's a trick, it's an illusion. 

    Keeksotisan cinematography yang diframekan adalah bagian modal yang menonjol. Set panggung pertunjukan dibuat begitu sederhana dengan angle kamera menyoroti Norton yang duduk di kursinya yang terbuat dari kayu. Dari sudut itu aura keheningan, magic dan hasrat yang abstrak bertranformasi menjadi luapan emosi yang begitu ril. Sungguh terasa. 
anyway, unutk level mind-blowing The Illusionist menberikan clique twist. Jangan berharap akan detail yang kuat dan terjaga di sini. Niat untuk tidak menyuapi penonton dengan pola detail malah berubah menjadi boomerang. Ditambah dengan akhir Happily ever after semakin meruntuhkan cerdasnya struktur naskah menjadi abu yang gampang unutuk dilupakan.

Sabtu, 14 Agustus 2010

The Prestige : ADABAKADABRAAAAA


   Belum kenyang dengan Inception, Sir Christopher Nolan berhasil membuat saya memukau lagi. Lulus dengan hasil mengesankan merubah Image superhero Batman menjadi "cult" superhero dalam Batman Begins dan meneruskannya menjadi sebuah masterpiece dalam The Dark Knight.. Bravo!!

   Nolan sebelumnya  sukses merampungkan puzzle dunia ilusi lewat karyanya The Prestige. Persaingan penuh obsesi illusionist dalam pencarian sebuah trik menjadi pengkajian khusus bagi sutradara berdarah United Kingdom ini. Plot dibuka dengan pengenalan 3 fase penting dalam dunia hiburan ilusi yang dikenal dengan sebutan The Pledge, The Turn dan The Prestige yang mana membawa kita traveling ke dunia pola pikir Nolan tentang magic dan trick. The Prestige inilah yang dijadikan Nolan sebagai jantung dalam tubuh cerita sepenuhnya. Peleburan materi dalam catatan Nolan membuat The Prestige sesuatu yang matang dalam segala aspek.
Sepertinya sudah menjadi kesenangan untuk Nolan menghadirkan twist dalam setiap filmnya. Halnya Inception yang mana Nolan menjabarkan dengan apik twist bertingkat dengan mengandalkan media Subconscious-state dengan menggabungkan 5 level dan berakhir fenomenal. The Prestige lebih mengungkap twist pada teritori aman, lurus menuju kepada pembuktian bahwa tidak ada yang namanya Magic dalam dunia ilusi. Trick adalah segalanya yang dibutuhkan. Mengetahui akan rahasia di balik trick ilusi, The Prestige cukup mencenangkan. 

   Kemampuan akting Chistian Bale memang seperti sudah besrsetubuh dengan vision yang hidup menjadi sebuah idealisme Nolan dalam membuat karya. Alhasil performa Bale sebagai Alfred Borden layak untuk diacungi jempol. Karakter ilusionis Angier (Hugh Jackman) mampu di-explore sangat menawan oleh Nolan. Tak hanya cerita saja Nolan bermain twist, dalam karakter siapa yang sesungguhnya culas dihadirkannya penuh emosi empati dan berujung kepada ketakubaran yang membawa akhir hayat seorang ilusionist.

Kamis, 05 Agustus 2010

Salt Feels so Good

   Evelyn Salt terjebak dalam hempitan CIA ketika sebuah peng-expose-an jati diri dibongkar secara tak terduga mengrah kepada siapa Evelyn Salt sebenarnya menjadi awal spionase trendy untuk penutup Summer Movie 2010. Konflik politik antara Amerika-Rusia didalangi oleh grup radikal dalam payungan guru besar bernama Vassilly Orlov. 
Dengan cerita tipikal seperti ini, aura trilogy The Bourne terasa terlintas dalam pikiran kita karena Salt dan Bourne setidaknya adalah sebuah genre film yang mengawinkan satu watak peran dengan tekanan issue politic melalui kecanggihan maupun kecerdasan para Secret Agent. 
   Matt Damon yang didapuk unutk memerankan karakter Jason Bourne bermain sangat impressive dan begitu melekat, sama halnya dengan Angelina Jolie yang dipercaya dalam proyek SALT sebagai pilihan terakhir yang tepat ketika pada akhirnya aktor sekelas Tom Cruise tidak bisa ikut serta. Damon maupun Jolie menunjukan performa ruthless dan determined dalam setiap laga mereka. Karisma seperti itu tak ayal begitu gampang dilahap oleh sosok sexy si Angelina Jolie, karena tak dipungkiri bahwa pesona wanita tangguh mustahil untuk dipisahkan dari dirinya. Sehingga membuat perbaduan selaras dalam grafik premis yang tergambar.
   Terlepas dari pengeksekusian karakter, paket Bourne dan SALT berbeda. Keindahan kota-kota negara Eropa disajikan dalam Bourne dengan konsisten hingga terkesan sebagai nilai jual tersendiri dan itu terjadi sampai The Ultimatum yang memuaskan. Tidak beda dengan film kebanyakan , Salt hanya mengeksplor sisi kota New York dan gedung putih saja seperlunya. Bukannya impossible untuk Salt tidak melakukan travel panjang layaknya Bourne karena tampak jelas bahwa misi Salt belum benar-benar berakhir. 

Consider of Jolie's an excellent job, I would not mind if it will be continued. If it does pour me more Salt, please!!!!

An Eduction : Everybory did mistakes anyway

    Kompromi Sang produser Finola Dwyer dan script writer Nick Hornby memasangkan artis sekelas Peter Sarsgaard, Carey Mulligan dan Alfred Molina dalam mini proyek berdasarkan memoir Lynn Barber yang diberi title An Education adalah "taruhan" yang tepat. Lewat sutradara Lone Scherfig rankai karakter-karakter dalam film ini dibangun sangat pas dengan bawaan karisma masing-masing artis. 

    Jenny Mellor adalah seorang siswi cerdas dan berbakat serta memiliki ambisi untuk bisa masuk Oxford. Tekanan bertolak belakang dari ayahnya memberi bumbu manis dalam konflik keluarga. Namun masalah sebenarnya datang dari si Tua keladi David, orang asing yang langsung memberikan kehidupan segar unutk Jenny baik secara Verbal ataupun Inverbal. Rutinitas Jenny berubah begitu drastis. Bentuk perhatian dari guru-gurunya tidak mampu mengalahkan indahnya dunia seni tua Eropa yang dibawa oleh David dan teman-temannya. 

   Tentang proses pendewasaan (coming of age) dan sistematika penemuan jati diri, An Education kurang menggigit. Sempitnya lahan cerita kurang memungkinkan unutk bisa diperluas. Bahkan karena faktor itu pula An Education sangat mudah untuk ditebak akan kemana cerita ini berakhir. Twist tentang siapa David dihadirkan sangat clique. Lain beda dengan Almost Famous yang memang memiliki tema tentang proses pendewasaan dan core of story yang kompleks. Dimana seorang ABG harus menghadapi langsung kehidupan dunia industri musik dengan aspek yang meliputi ; Bands life ( Groupies, sex, drugs, conflicts), job pressure, serta school and family things.

   Kesederhanaan An Education dilapisi oleh bakat akting natural Carey Mulligan. Tidak diragukan lagi jika Oscar memasukan namanya sebagai contender Best Actress bersaing dengan nama senior Meryl Streep dan pemenang Best Actress Sandra Bullock, berkat kerja Mulligan yang cemerlang. 

   Dalam satu setengah jam lebih An Education menyuguhkan pesan tentang sebuah kesalahan manusiawi yang terjadi di kehidupan manusi. Dalam sebuah proses menemukan jati diri atau ketika kita ingin mencapai goal dalam hidup ini, "salah jalan" mungkin adalah cara yang tepat unutk mengingatkan kita pada tujuan kita semula. Dan tidak sedikit pula orang yang pernah masuk pada jalan yang salah berhasil menemukan titik balik hidup mereka.