Senin, 14 Oktober 2013

IF LIVE IS MOVIE AND MOVIE IS LIFE




Untuk sebagian orang, khususnya mereka yang jatuh hati pada cara menikmati film dengan otak sebagai sendok dan garpu, atau mereka yang suka cara memanjakan mata dengan melihat adegan indah, dahsyat, dan ledakan seru, genre Drama Romantic/Comedy sudah pasti bukan pilihan pertama untuk dilihat. Atau mungkin genre ini adalah genre yang bisa memenuhi hasrat mereka dengan menyaksikannya di balik lemari (?)

Ayolah, akui saja jika Rom-Com itu adalah sebuah guilty-pleasure yang kau jadikan sebagai pelarian dari kegalauan kisah cinta yang rumit. Setidaknya, rom-com berupa sajian yang secara empiris, mampu membuat hati anda semua teriris. Paling tidak, anda bisa berucap "GW BANGET!" dengan seemosional itu atau mengumpat dalam hati.

Genre yang satu ini sering disebut "Chic-Flick" di mana label itu memberi batasan gender pada penikmat film. Secara tidak langsung, Drama Romantic/Comedy dicap 'girly' karena kebanyakan cerita di ambil dari point of view perempuan, sehingga kaum maskulin merasa 'enggan' untuk mengambil sajian drama mellow nan flamboyan dari pajangan rak DVD.

"Duuuuuude! Are you kidding me? P.S I Love You, Serendipity, When in Rome, Leap Year, Bridgette Jones, While You Were Sleeping, He's Just Not That Into You? And, what the hell on earth is this? SEX-AND-THE-CITY? Is it porn?___Are seriously serious gonna watch all these stuffs? Get out!!!"

Mungkin, (khususnya lelaki) di sini pernah menerima reaksi seperti itu. Tapi janganlah berkecil hati karena, when it comes to guilty-plesure, it really works pleases you and kills you. Percayalah, genre Drama Romantic/Comedy ini memiliki kandungan vitamin yang tersembunyi dan mampu menyentuh sisi sensitiv kaum adam, dan ketika itu jatuh, tidak hanya menyentuh, tetapi mampu membuatmu diam membisu. Atau, secara tragis kau akan mengeluh pada entah siapa dengan berkata sambil memeluk guling, "If life is movie and movie is life..!". Dan ketika layar kaca memudar dan menjadi hitam, satu kata yang terlontar adalah, "SAMPAH!!!"
Admit it.

Tapi, tunggu dulu, sepertinya stereotype "Chic-Flick" tidak lagi bisa berdiri kokoh untuk Drama Romantic/Comedy, karena dipenghujung tahun 80, Cameron Crowe telah membuat pedoman "Chic-flick" yang menempel di genre ini dipertanyakan. Lewat Say Anything, Crowe memberikan sajian yang baik yang akan membuat pria nyengir melihat pola tingkah laku Lloyd. Drama Romance/Comedy dihamparkan dengan greget yang alami lewat akting menawan dari John Cussack yang masih sangat muda saat itu. Kemudian, still from the delicate hands of Crowe, di tahun 1996, Crowe hadir bersama Tom Cruise dan Renee Zellweger, dalam drama yang sudah pasti film ini sangat membekas sekali di kepala anda.. atau hati anda, apalagi jika mendengar kalimat Tom Cruise, "You complete me!", saya jamin memory pikiran anda akan melakukan pemindaian secara cepat dan mengingat satu film yang sensasional. Yup, Jerry Maguire. Drama Romantic/Comedy yang menuai banyak pujian dan akan selalu mentereng di dalam list anda jika diminta untuk membuat daftar film Drama Romantic/Comedy sepanjang masa, bukan?
Admit it.

Dalam menyampaikan sebuah perasaan, especially, perasaan terdalam untuk lawan jenis, tidak harus selamanya kekeh di atmosfir galau, mellow, dengan iringan musik irama minor, tapi bisa secara gamblang disampaikan dengan cara penuh attitude dan confidence. Formula baru dalam menggarap Drama Romantic/Comedy dilakukan oleh Stephen Frears di tahun 2001 lewat High Fidelity. Berkisah tentang Gordon, pemilik record store yang mengalami pasang surut sebuah hubungan. Lagi-lagi John Cussack yang dipercaya memerankan karekter yang takut untuk kembali membangun sebuah komitmen karena dibayangi oleh kisah cinta yang tidak didampingi oleh peruntungan yang baik. Frears memberikan gambar di mana penonton adalah sudut pandang ke dua. Dan itu bagus untuk lelaki agar tidak perlu merasa sendiri. High Fidelity memberikan gimmick yang tidak membosankan. Bagaimana bisa, film yang memiliki karatek central 'geek music" ini membuat anda menguap terlelap ?. Anda akan dibawa ke masa jaya musik lawas dan saya jamin perasaan nyaman serta betah akan hinggap di sofa. Pada saat film ini usai, cuma satu kata yang keluar....Rocks! Karena anda bukan pria sempurna yang kadang takut untuk berkomitmen and it what makes you save.
Admit it.

Dan film yang satu ini, saya tidak akan bicara panjang lebar, karena akan membawa kembali ke masa perdebatan panjang yang sampai sekarang tak berujung. Sebuah film yang mewakili perasaan hancur, remuk dan terinjaknya seorang pria, dan memberikan citra ganda untuk perempuan yang selalu handal dalam memecundangi pasangannya. Menciptakan dua kubu dengan egoisme masing-masing. Drama Romantic/Comedy yang fenemonal di tahun 2009. Guilty- Pleasure terbesarmu. You better get ready, Dude!
" I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps.".
Itu adalah awal dari bencana cinta seorang pria, (500) Days of Summer.
Admit it.

Yah, untuk sebagian orang, khususnya mereka yang jatuh hati pada cara menikmati film dengan otak sebagai sendok dan garpu, atau mereka yang suka cara memanjakan mata dengan melihat adegan indah, dahsyat, dan ledakan seru, genre Drama Romantic/Comedy sudah pasti bukan pilihan pertama untuk dilihat. Atau mungkin genre ini adalah genre yang bisa memenuhi hasrat mereka dengan menyaksikannya di balik lemari (?)
Anda tahu jawabannya.


^,^

posted from Bloggeroid

Selasa, 08 Oktober 2013

GRAVITY REVIEW

RYAN STONE HAD A BAD DAY!!

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan Childern of Men adalah salah dua film besutan dari sutradara berdarah latinMexico, Alfonso Cuaron. Keduanya mampu menarik sanjuangan dan menjadi buah bibir sinema yang manis. Bermain dalam teritory genre thriller, Drama, sekaligus Sci-Fi, Cuaron adalah nama yang mampu menyajikan warna dan sensasi gambar yang berkelas. Lewat sentuhannya, kisah petualangan penyihir dari Hogwarts mengalami progess yang signifikan. Adalah pilihan yang tepat ketika Warner Bross menunjuk Alfonso Cuaron menggarap halaman demi halaman jilid 3 dari novel karya J.K Rowling itu. Dan apa hasilnya? Excellent. Dari kisah Potter yang tergambar bagai jajanan anak-anak, berubah menjadi hidangan utama yang matang dengan bumbu intrik dan citra remaja yang alami. Tentunya bumbu itu bisa kita rasakan dari peubahan wujud dementors dan intrik persahabatan usia belia. Namun, tidak hanya itu saja, warna yang mebalut adaptasi novel penyihir ini pun berubah pekat dan "mendung".

Sukses melakukan renovasi pada seri Harry Potter, dua tahun setelahnya, Alfonso Cuaron kembali mendobrak mata penikmat film dengan Childern of Men. Sekali lagi dia berhasil meberikan gambar kekacauan London dengan begitu gaduh dan kalut dalam kekacauan yang terjadi di sebuah fenomena langka
beautifully. Bermain dengan cerita yang diadaptasi dari tulisan P.D James, Cuaron kembali berhasil membangun sugguhan yang solid dan asik untuk dinikmati. Sebuah prestasi yang luar biasa. Dan track record tersebut tentunya, secara otomatis menjadi jaminan para penikmat film untuk menarik kakinya ke bioskop, memanjakan mata mereka, melayang di luar angkasa, melihat pesona bumi melawan Gravity.

Gravity.
Kali ini Cuaron tidak hanya menjadi man behind camera saja, dia juga merangkai kata demi kata, menggabungknya menjadi kalimat dan bermetamorfosis menjadi sebuah cerita yang sederhana nan visioner. Memang, Gravity bukan yang pertama berdiri dalam daftar survival, tapi apa yang Cuaron tulis bisa menjadi sebuah visioner untuk kategori ini. Berkisah tentang Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) yang bekerja sama melakukan sebuah misi. Namun di tengah misi itu sedang berjalan, sebuah kecelakan terjadi yang mengakibatkan keduanya terpisah, terpental, mengapung dalam laut hitam dengan bumi sebagai karangnya. Lalu apa yang terjadi? Untuk yang satu ini, untuk mengetahuinya yang perlu anda lakukan adalah ikut melayang dan tersesat bersama Sandra Bullock dan George Clooney. Bersedia?

Sesunggunya, seperti apa yang saya utarakan sebelumnya, Cuaron ini memang pandai dan cerdik dalam memberikan sebuah pesona di setiap gambar. Terbukti dalam waktu 5-15 menit (kurang lebih), Cuaron memberikan cinta pada mata kita melalui visual bumi yang menakjubkan nan agung. Tidak hanya mata, tetapi jantung pun seakan terhenti melihat penampakan bumi dari titik pandang astronot. Saya yang tidak nyaman dengan ketinggian, mengalami hal tersebut. It takes my breath away. Serta, ada satu adegan, di mana Cuaron mengahadirkan satu gambar dengan mengekploitasi kemolekan tubuh Sandy yang berputar disertai tali menjadi sebuah kehidupan awal manusia dalam rahim lengkap dengan tali pusar. It's so beautiful. *Sigh*

Struktur Gravity bisa saya bilang, tidak hanya ditopang oleh visualisasinya saja, namun peran peraih predikat Academy Award Winner, Sandra Bullock, memiliki andil yang jelas, yang mana membuat Gravity sebagai film visioner.
Gelar Best Actres membuat dirinya matang. Sandy mampu melepas image gadis flamboyan yang galau karena pria. The Blind Side membuktikan bahwa dia layak dan Gravity adalah gema dari kualitasnya yang sempat diragukan oleh sebagian khalayak.

Jika visualisasi dari cerita yang epic adalah pondasi, dan performa Sandra Bullock adalah pilar, maka drama berupa pesan moral Gravity adalah atapnya. It occurred to me that when you lose hope...... d o n' t let go.



posted from Bloggeroid

GRAVITY

RYAN STONE HAD A BAD DAY!!

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan Childern of Men adalah salah dua film besutan dari sutradara berdarah latinMexico, Alfonso Cuaron. Keduanya mampu menarik sanjuangan dan menjadi buah bibir sinema yang manis. Bermain dalam teritory genre thriller, Drama, sekaligus Sci-Fi, Cuaron adalah nama yang mampu menyajikan warna dan sensasi gambar yang berkelas. Lewat sentuhannya, kisah petualangan penyihir dari Hogwarts mengalami progess yang signifikan. Adalah pilihan yang tepat ketika Warner Bross menunjuk Alfonso Cuaron menggarap halaman demi halaman jilid 3 dari novel karya J.K Rowling itu. Dan apa hasilnya? Excellent. Dari kisah Potter yang tergambar bagai jajanan anak-anak, berubah menjadi hidangan utama yang matang dengan bumbu intrik dan citra remaja yang alami. Tentunya bumbu itu bisa kita rasakan dari peubahan wujud dementors dan intrik persahabatan usia belia. Namun, tidak hanya itu saja, warna yang mebalut adaptasi novel penyihir ini pun berubah pekat dan "mendung".

Sukses melakukan renovasi pada seri Harry Potter, dua tahun setelahnya, Alfonso Cuaron kembali mendobrak mata penikmat film dengan Childern of Men. Sekali lagi dia berhasil meberikan gambar kekacauan London dengan begitu gaduh dan kalut dalam kekacauan yang terjadi di sebuah fenomena langka
beautifully. Bermain dengan cerita yang diadaptasi dari tulisan P.D James, Cuaron kembali berhasil membangun sugguhan yang solid dan asik untuk dinikmati. Sebuah prestasi yang luar biasa. Dan track record tersebut tentunya, secara otomatis menjadi jaminan para penikmat film untuk menarik kakinya ke bioskop, memanjakan mata mereka, melayang di luar angkasa, melihat pesona bumi melawan Gravity.

Gravity.
Kali ini Cuaron tidak hanya menjadi man behind camera saja, dia juga merangkai kata demi kata, menggabungknya menjadi kalimat dan bermetamorfosis menjadi sebuah cerita yang sederhana nan visioner. Memang, Gravity bukan yang pertama berdiri dalam daftar survival, tapi apa yang Cuaron tulis bisa menjadi sebuah visioner untuk kategori ini. Berkisah tentang Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) yang bekerja sama melakukan sebuah misi. Namun di tengah misi itu sedang berjalan, sebuah kecelakan terjadi yang mengakibatkan keduanya terpisah, terpental, mengapung dalam laut hitam dengan bumi sebagai karangnya. Lalu apa yang terjadi? Untuk yang satu ini, untuk mengetahuinya yang perlu anda lakukan adalah ikut melayang dan tersesat bersama Sandra Bullock dan George Clooney. Bersedia?

Sesunggunya, seperti apa yang saya utarakan sebelumnya, Cuaron ini memang pandai dan cerdik dalam memberikan sebuah pesona di setiap gambar. Terbukti dalam waktu 5-15 menit (kurang lebih), Cuaron memberikan cinta pada mata kita melalui visual bumi yang menakjubkan nan agung. Tidak hanya mata, tetapi jantung pun seakan terhenti melihat penampakan bumi dari titik pandang astronot. Saya yang tidak nyaman dengan ketinggian, mengalami hal tersebut. It takes my breath away. Serta, ada satu adegan, di mana Cuaron mengahadirkan satu gambar dengan mengekploitasi kemolekan tubuh Sandy yang berputar disertai tali menjadi sebuah kehidupan awal manusia dalam rahim lengkap dengan tali pusar. It's so beautiful. *Sigh*

Struktur Gravity bisa saya bilang, tidak hanya ditopang oleh visualisasinya saja, namun peran peraih predikat Academy Award Winner, Sandra Bullock, memiliki andil yang jelas, yang mana membuat Gravity sebagai film visioner.
Gelar Best Actres membuat dirinya matang. Sandy mampu melepas image gadis flamboyan yang galau karena pria. The Blind Side membuktikan bahwa dia layak dan Gravity adalah gema dari kualitasnya yang sempat diragukan oleh sebagian khalayak.

Jika visualisasi dari cerita yang epic adalah pondasi, dan performa Sandra Bullock adalah pilar, maka drama berupa pesan moral Gravity adalah atapnya. It occurred to me that when you lose hope...... d o n' t l e t.... g o



posted from Bloggeroid

Selasa, 01 Oktober 2013

HORROR ROARRR!!!!

Saya adalah termasuk yang tidak bisa mendapatkan amusement dari genre horror. Apalagi jika horror yang terlalu banyak menampilakan penampakan hantu atau creepy creature. Bilang saya penakut, I don't care. Bilang saya ciut, I don't care. Prinsip saya ketika harus merogoh kocek untuk satu buah tiket nonton, seharusnya bisa menjadi investasi yang berguna. Baik secara psikologis, inspirasi, atau hiburan. Bukan yang membuat diri ini sawan, tidak bisa tidur karena dibayang-bayang dengan rasa takut yang tak mendasar. That's useless.

Selain itu, horror sebenarnya bukan hal yang mengejutkan, karena dari beberapa genre horror yang telah saya tonton, genre ini selalu dikemas dalam packaging yang sama. Storytelling yang begitu saja. Pemikiran kita pasti terbawa ke dalam dunia penuh tanya seperti, rasa penasaran tunggal yang akan berujung pada sebuah peristiwa tragis dan gentanyangan. Very surprising enough, isn't it? Haha.

Saya tidak mendiskreditkan horror, karena jika ada perdebatan, maka selera adalah titik akhir dari semua itu.

Di tahun ini, nama James Wan begitu dipuja untuk pencinta horror atau mungkin dicemooh lewat The Conjuring yang sangat fenomenal. Salah satu film terlaris tahun ini. The Conjuring mampu menarik miliar pasang mata dunia untuk pergi ke bioskop. Yang bukan penonton bioskop pun terpancing oleh vibe The Conjuring. Film ini memang memiliki citra rasa yang unik. James Wan menghadirkan unusr kimiawi keseraman yang pekat tanpa tidak perlu terlalu sering menghadirkan sosok "jahat". Hanya butuh satu moment yang tepat untuk memunculkan beberapa hantu dan dia berhasil. Anda dibuat menutup mata di awal hingga misteri rumah tua terkuak dan terkesima melihat eksekusi pengusiran yang begitu prestis. James Wan mampu mengemas horror dari jajanan pasar menjadi jajanan etalase yang mahal.

Mari kita masuk ke dalam mesin waktu fantasi. Kita berjalan mundur ke awal millenium, di mana di sana terlahir karya horror yang diagung-agungkan dan sudah jadi klasik untuk sebagian orang. Jabat tangan M. Night Shyamalan, katakan "Good Job!" untuk The Sixth Sense. Saya tidak perlu membahas bagaimana seramnya film ini, karena mungkin andalah yang lebih berani daripada saya. :(

Tidak lama setelah itu, Nicole Kidman hadir lewat The Others. Sebuah film dengan genre serupa dan dikemas begitu prestis juga. Apanya yang prestis? Keanggunan dan Kharisma character central film ini tentunya. Nicole Kidman berperan epic. Dengan memberikan gesture theaterical seorang ibu yang posesif. Penampilan aktingnya membalut sebuah cerita horror yang berkelas. Audience akan dibawa penasaran in reverse condition that perhaps never imagine before. Mungkin kau akan tercengang mengetahui kenyataan sebenarnya yang menempel pada diri Grace. Pertanyaan itu dijaga dengan sangat apik. Sebelum James Wan, Alejandro Amenabar sudah mengetahui bagaimana menproduksi horror yang seram lewat atmosfir barang-barang tua, kabut, shot, dan karakter. Horror tidak melulu harus mengagetkan. Tidak selamanya harus bermain dengan hantu dan mengekploitir hingga puas.

Di akhir paragraf ini, saya hanya ingin bilang, itulah horror yang saya sukai dan lewat film-film di atas, saya setidaknya bisa menikmati beberapa hal dengan tidak mengesampingkan prinsip menonton. Sounds snobish, but I believe you have your own as well.

^,^

NycDjati
Thank you for your time :D

posted from Bloggeroid