Rabu, 14 Desember 2011

Chapter 2 : #2


The Black Rose
Aku belai wajah Hannah. Kami saling berpandangan satu sama lain. Perasaanku senang luar biasa. Aku merasa bahagia berbagi tempat tidur bersama kekasihku. Kesibukan Hannah membuatku sering tidur sendiri. Bercinta dengannya malam ini adalah hal yang aku rindukan. Hannah memegang tanganku. Dia menutup matanya, meresapi sentuhanku. Aku tersenyum bahagia. Aku merasa tidak sendiri. Hannah membuka matanya dan berbisik, “Don’t ever leave me, Ian!”. Kalimat yang keluar dari mulutnya membuat ku merasa seperti lelaki sejati. Lelaki yang dibutuhkan. Untuk sesaat aku merasa sempurna.
“I’ll never leave you! I’m here!”. Aku terus membelai wajahnya lembut. Aku belai rambutnya yang pendek. Hannah membuka matanya. Dia menggenggam tanganku. Dengan bibirnya yang tipis—merah muda, dia mencium tanganku. Tanganku yang satunya aku lingkarkan ke kepalaku dan membelai rambutnya.
“Kenapa kau merubah gaya rambutmu menjadi pendek seperti ini?”, tanyaku. Pertanyaan yang daritadi ingin aku sampaikan baru bisa aku katakan.
“Kau suka?”, jawabnya bertanya balik sambil tersenyum. Oh Tuhan! Senyuman yang manis sekali. Hannah tersenyum sembari menyelipkan tawa kecil dengan gigi depanya yang rapih terlihat.
“Aku suka sekali! Kau terlihat semakin cantik dan menarik dengan gaya rambutmu sekarang ini!”, kataku.
Hannah mendekati wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Kami bercumbu lagi. Aku merasakan hawa yang berbeda kembali. Sesuatu yang tak wajar dapat aku rasakan melalui indera penciumku. Sebuah aroma yang tercium dan sangat janggal dan mengganggu pikiranku.
“Hannah..”, kataku berhenti menciumnya.
“Hmm…”, gemingnya seraya terus menyerang bibirku. Aku balas serangan cumbunya sedikit demi sedikit,.
“Kau tercium berbeda?”, kataku.
Hannah tiba-tiba berhenti menyerang bibirku.
“Berbeda bagaimana maksudmu?”, tanyanya sambil menyandarkan badannya.
“Er..aku mencium aroma maskulin dari badanmu!”, jawabku. Sekilas kecurigaan terbesit di benakku. Namun aku memcoba berfikir positif. “Apa kau mengganti parfummu?”
Hannah tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terlihat tidak senang dengan pertanyaanku. Hannah memakai lingeri hitamnya, seakan tidak peduli dengan pertanyaanku. Aku kembali merasakan sesuatu yang salah.
“Hannah, Kau tidak menjawab pertanyaanku?”, tanyaku.
“Aku tidak suka pertanyaanmu itu!”, jawabnya.
“Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”, tanyaku kembali.
“Tentu saja! Pertnyaanmu itu seakan menyiratkan kecurigakan! Aku tidak suka!”, jawabnya dengan sedikit keras.
“Aku hanya bertanya apa kau ganti parfummu atau tidak! Itu saja!”, belaku. “Aku tidak merasakan ada yang salah dengan pertanyaanku..terkecuali jika kau menyembunyikan sesuatu dariku!”, jelasku.
“Apa maksudmu?”, Hannah menatapku dengan tatapan yang tegas. Tatapan itu seperti memanggil emosiku, emosi yang aku pendam sejak tadi sore.
“Maksudku sudah cukup jelas, bukan?”, aku turun dari tempat tidur bertelanjang membelakangi Hannah yang masih ada di atas tempat tidur. Hal yang tak ingin aku ketahui kebenarannya lalu-lalang di pikiranku.
“Apa? Apa kau pikir aku telah tidur dengan pria lain? Apa itu maksudmu!”, katanya dengan pelan. “OH MY GOD!” Aku tidak percaya ini!”, serunya. Aku seakan diremehkan olehnya.
“I’M NOT SAID THAT! I’M JUST ASKING YOU ONE SIMPLY QUESTION!!!! YOU ONLY NEED TO ANSWER MY QUESTION! DID YOU CHANGE YOUR BLOODY PERFUME OR NOT?”, teriakku. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Sebelumnya aku belum pernah berteriak seperti ini, membentak kekasihku, karena aku begitu menyayanginya dan menghormatinya. Hannah terdiam tersentak. Dia menatapku penuh dengan rasa takut. Sedikit aku merasa bersalah telah bicara kasar dan keras kepadanya. Aku kesal sekali. Aku muak dengan sangkalan-sangkalannya yang selalu berakhir kepada aku yang disudutkan. Ucapanku membuat Hannah terdiam. Dia menatapku tanpa berkedip.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Aku memcoba untuk menenangkan emosiku. Aku duduk di atas tempat tidur. Aku membalikan badannku sehingga aku dapat melihat ekspresi raut wajah Hannah dengan jelas. Hannah terlihat masih kaget. Dia terlihat begitu shock.
“Tolong jawab pertanyaanku, Apa kau mengganti parfummu atau tidak?”, tanyaku kembali dengan normal. Hannah tidak menjawabnya. Dia malah menamparku dan pergi begitu saja. aku terdiam. Aku tidak percaya dengan apa yang telah Hannah lakukan kepadaku. Tamparannya aku rasakan bagaikan hinaan yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa aku salah bertanya seperti itu? Ahh..aku tidak yakin. Bagaimana jika dugaanku salah? Ahh..entahlah. Satu hal yang jelas bagiku, Hannah menamparku, dia membenciku dan aku begitu mencintainya…
           
            bersambung...

Selasa, 13 Desember 2011

Women on the Book Shelf


Harmony

Badanku terasa segar sekali. Pancuran shower air hangat rasanya telah melunturkan semua lelah yang hinggap di tubuhku. Ah betapa nikmatnya mandi air hangat.  Aku ambil handuk putih yang tergantung di aksesoris kamar mandi yang serba stainless. Aku lap sekujur tubuhku yang basah hingga kering—kepala sampai ujung kaki. Setelah tubuhku kering, aku lipatkan handuk itu di pinggangku hingga menutupi lutut.
Aku bercermin. Menggerak-gerakan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Lalu aku dekatkan mukaku ke cermin, memastikan jika mukaku sudah bersih dan tidak ada jerawat yang bersarang di sana. yah, beberapa hari ini aku cukup sering mendapati jerawat hinggap di mukaku. Kadang aku suka memainkannya. Memainkan jerawat kadang bisa sangat mengasikan. Yah, ternyata mukaku sudah bersih dari jerawat. aku tegakan badanku. Melihat bayangan tubuhku di cermin, aku merasa, sepertinya aku butuh olahraga. Gumpalan lemak di perut sudah terlihat. Sudah cukup lama memang aku tidak melakukan jogging. Melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di dadaku, sepertinya tidak akan sangat sinkron jika perutku membulat.
Dari luar kamar mandi, ku mendengar suara pintu kamar tertutup. Ku dengar suara Hannah yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
Yah, aku tahu itu! Aku butuh waktu untuk mengatakannya!. Iya-iya! Ini, ini tidak semudah yang kamu pikirkan…”., sayup-sayup percakapan Hannah di telpon terdengar. Aku tidak tahu dengan siapa dia berbicara. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Walaupun dari nada bicaranya ada yang membuatku curiga.
            Aku tidak mau mendengar pembicaraan itu. Aku buka keran air. Suara air yang keluar lumayan meredam percakapan Hannah yang bocor. Sebenarnya aku masih sangat kesal dengan apa yang terjadi tadi sore—ketika Hannah pulang dari Jogja. Ingin rasanya aku menampar dia. Namun aku bukan laki-laki yang dengan mudah bisa melakukan itu. Sore itu terjadi perselisihan kecil yang membuatku merasa tak ada artinya di matanya. Perselisihan itu dapat ku lihat di dalam cermin yang seakan menjadi layar dari proyeksi memoriku.
            Bandung sore hari masih diselimuti dengan awan mendung. Hujan masih menuggu untuk turun. Seorang diri aku duduk di meja makan. Hanya ditemani dengan kopi instant dan laptopku. Tidak lupa Marlboro Light dan Lighterku.Tugas kuliahku mulai numpuk. Sedangkan deadline tinggal beberapa hari lagi. Ini salahku sebenarnya. Aku yang terlalu santai memang, jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain.
“Saya mau kamu mantau terus perkembangannya. Jangan sedikitpun kau berkedip. Ini slot yang sangat menjajikan. Tahan dulu, saham mereka pasti turun!”. Aku melihat Hannah sedang berbicara lewat ponselnya. Dari tempat dudukku, aku memperhatikan Hannah yang terlihat berbeda. Rambutnya. Hannah mengubah gaya rambutnya—dari rambutnya yang panjang bergelombang menjadi pendek, pendek sekali. Aku perhatikan, gaya rambutnya sama dengan gaya rambut Emma Watson. Aku tidak tahu apa alasan dia merubah gaya rambutnya, yang jelas aku suka sekali dengan gaya rambut baru Hannah.
            Aku beranjak dari dudukku, berjalan menghampirinya.
“Mengapa kau tak telpon aku? Aku kan bisa jemput kamu?”, tanyaku mendekat.
“Handphone-mu tak aktif!”, Hannah menjauh menuju lemari es. “Kau meminum wine-ku?”, tanyanya.
Aku merasakan sesuatu yang aneh hidup di perbincangan ini. Aku dapat mendengar nada emosi terpendam dari cara bicara Hannah. Perasaanku mulai tak enak. Yah aku merasa bersalah karena BB-ku tidak aku aktifkan karena baterai habis. Tapi aku merasakan hal yang lainnya. Apa ini masih ada kaitannya dengan pertengkaran kami yang terakhir—sebelum Hannah pergi ke Jogja?. Aku rasa bukan itu. Mungkin Hannah hanya kelelahan saja, atau mungkin sedang ada masalah pekerjaan.
“Aku hanya memakainya unt..”
“KAU MINUM WINE-KU ATAU TIDAK?”, Hannah memotong ucapkanku dengan nada yang tidak aku suka. Dia membentakku. Dan aku tidak suka pembicaraanku dipotong seperti itu. Aku berjalan mendekatinya. Aku merasa emosi, namun aku simpan emosiku itu. Aku tidak mau, ini menjadi berantakan. Aku tidak ingin bertengkar dengannya. Melihatnya datang, aku ingin bercinta dengannya, karena sudah lama kita tidak melakukan itu.
Aku dapat merasakan tatapannya begitu mengintimidasiku.
“Ya!”, jawabku seraya mendekatinya.
“Lalu apa itu? Kau merokok lagi? Selama aku tidak ada, kau merokok, hah?”, Hannah menunjukan pandangannya ke asbak yang penuh dengan puting rokok.. “Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu merokok! Dan tolong benarkan aku jika aku salah, kau berjanji untuk tidak merokok lagi, kan?”, tambah Hannah makin mengintimidasi.
Apa ini sebenarnya?. Ada apa dengan Hannah?. Aku benar-benar tidak suka dengan prilakunya. Aku seakan dipojokan olehnya. Dia seakan terus mencari kesalahanku. Aku bagaikan tempat pelampiasan masalahnya. Aku bukan tong sampah untuk menampung amarahnya dengan cara seperti ini. Aku kesal sekali. Namun, aku tidak boleh terpancing. Sekali lagi, aku tidak ingin bertengkar dengannya.
“Ya aku ingat itu, untuk berhenti tidak semudah itu! Butuh proses, sayang!”, kataku lembut sembari memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku!”, tangkisnya sambil menatapku dengan keji. Itu semakin membuat bertanya-tanya dan apakah aku bisa menahan emosiku?.
“Aku merindukanmu, Hannah! Apa apa denganmu?”, sekali lagi kataku dengan lembut.
Hannah tak menjawab pertanyaanku. Dia mengambil asbak yang penuh dengan putting rokok itu dan membuangnya ke tong sampah yang terletak tidak jauh dari situ. Aku merasakan kekesalannya dari bahasa tubuhnya dan raut wajahnya. Andaikan dia tahu bahwa aku sedang menahan emosiku. Jika hanya karena sebotol wine yang habis Hannah bertingkah seperti ini, itu artinya dia tak lebih dari wanita pelit. Aku tahu di lemari yang ada di basement, Hannah menyimpan beberapa botol wine. Aku tidak terima dibentak hanya karena sebotol wine. Nilai perasaanku tak ada harganya. Nilai perasaanku tak bisa disamakan dengan nilai wine itu.
“Ini! Aku mau kau membuangnya sendiri!”, Hannah memberikanku sisa rokokku.
Aku yakin tingkah Hannah seperti ini bukan gara-gara aku merokok. Walaupun memang dia tidak suka melihatku merokok. Dan sebenarnya juga, Hannah tak memintaku untuk berhenti merokok secara posesif. Hannah hanya menyarankanku untuk mengurangi rokok. Aku tahu bahwa di sini, aku bukan penyebab dari kekesalan Hannah dan kemarahannya. Di sini aku merasa tidak bersalah. Aku tahu juga, Hannah adalah wanita mandiri dan dewasa. Segala sesuatunya kebanyakan ia lakukan sendiri. Jadi tidak mungkin kekesalannya ini dipicu karena BB-ku yang mati. Hannah bisa pulang sendiri.
Aku memandang mata Hannah yang terlihat besar. Mungkin ini karena pengaruh dari gaya rambutnya. Suara dering handphone Hannah terdengar. Dia berjalan menuju sumber suara. Perasaanku tambah tak tenang mendengar bunyi itu. Melihat Hannah berbicara di telepon kekhawatiranku menjadi-jadi. Aku melihat Hannah berbisik-bisik. Hannah menutup pembicaraanya di telepon. Dia mengambil tasnya dan akan pergi lagi.
“Mau pergi ke mana lagi, Kau?”, tanyaku dengan agak sedikit kaget dan sinis. Apa ini? Di mana pikirannya? Baru datang sudah mau pergi lagi. Dia anggap apa aku ini?.
“Untuk apa kau tahu? Ini tidak penting buatmu!”, jawabnya.
Ini sudah keterlaluan. Aku tidak bisa lagi menahan kesabaranku. Aku berjalan mendekatinya. Menghadapinya.
“Kau tahu apa? Aku sudah muak melihat sikapmu yang kekanak-kanakan seperti ini! Marah-marah tidak jelas. Aku bicara baik-baik, kau balas dengan ketus. Dan demi tuhan, aku tidak suka kau membentakku seperti tadi!”, Yah apa yang aku tahan-tahan, keluar juga. “Aku tidak tahu apa sebenarnya yang telah aku lakukan kepadamu! Dan jawaban macam apa itu? Apa aku tidak boleh tahu tentang kesibukanmu di luar sana? Dan apa ini..baru saja kau datang, sekarang kau akan pergi lagi? Kau anggap apa aku di sini sebenarnya?”, lanjutku. Aku berusaha tidak mengelurakan emosiku dengan amarah memecah langit. “Maafkan aku jika BB-ku mati! Maafkan aku jika aku mengahbiskan wine-mu! Maafkan aku jika aku belum berhenti merokok! Maafkan aku jika aku salah!”.
Semuanya telah aku lepaskan dengan tenang. Aku memang emosi, tapi aku tidak mau emosi itu memakanku. Setelah apa yang aku ucapkan, Hannah tidak memberikan reaksi apa-apa. Dia diam. Tatapan matanya pun seakan tak berarti.
“Apa Kau tidak mau mengatakan sesuatu?”, tanyaku.
“Kau ini terlalu banyak bicara! Jika kau tidak suka aku seperti ini, mengapa tidak kau pergi saja dari sini?”, Hannah membalikan badanya dan pergi.
Kata-kata dari mulut Hannah benar-benar menyakitiku. Aku tidak percaya Hannah berkata seperti itu. Aku mendengar suara mobil dinyalakan. Aku melihat Honda Jazz putih keluar dari garasi dan melaju dengan cepat.
*****

            Aku keluar dari kamar mandi. Hannah sudah ada di kasur dengan menggunakan lingeri warna hitam, mengenakan kacamata dan memegang buku bacaan. Entah buku apa yang sedang dibacanya. Aku berjalan menuju lemariku yang sejajar dengan tempat tidur, lemari pribadiku. Kamar ini besar sekali memang. Hannah memiliki walking closet di dalam kamar ini, lemari pribadinya. Aku memakai kaos oblong biruku. Aku tanggalkan handuk dan mengenakan celana pendek. Malam ini aku tidak mau satu ranjang dengan Hannah. Aku melihat Hannah masih asik membaca. Aku ambil bantal dan guling dan melangkah pergi.
“Adrian!”, tiba-tiba Hannah memanggilku pelan.
Aku berhenti.
“Kau mau ke mana?”, tanyanya.
“Aku mau tidur di sofa!”, jawabku sambil melangkah perlahan.
“Kau tidak akan tidur denganku mala mini?”, tanyanya lagi.
Aku masih membelakanginya. Ini aneh, Hannah malam ini terasa berbeda dengan Hannah tadi sore. Nada bicaranya begitu lembut dan manis.
“Lebih baik aku tidur di bawah saja!”, jawabku sambil menoleh padanya.
“Kemarilah!”, Hannah tersenyum kepadaku. Tangganya mengepak-ngepak kasur.  Dia benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat. Tingkahnya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita. Apa ini adalah muslihatnya? Memperlakukan dengan semena-mena, lantas bersikap manis dan menggemaskan secara tiba-tiba, tanpa memikirkan perasaanku dan sakit hatiku? Apa dia pikir aku ini adalah mainan yang bisa dia perlakukan seenaknya?.
“Ayo kemarilah!”, Hannah tersenyum lagi.
Aku masih tidak bisa melupakan kejadian sore tadi. Namun melihat dia memaksaku seperti itu, memprovokasiku dengan senyumnya, wajahnya yang bening dan bahasa tubuhnya yang seksi dilapisi dengan transparannya lingeri hitam, aku tidak bisa menolak. Aku melangkahkan kakiku. Hannah tetap tersenyum kepadaku. Rasa sakitku aku kesampingkan sejenak. Aku sudah berada di sampingnya. Hannah membuka kacamatanya. Hannah memandangku. Aku memandangnya. Hannah memegang pipiku. Aku merasakan sentuhan yang telah lama aku rindukan. Aneh sekaligus lucu bagiku. Malam ini sangat kontras dengan sore tadi. Lucunya, jantungku berdebar kencang ketika tangan Hannah menjamah pipiku dan dadaku. Bagaikan pertama kalinya badanku diraba oleh lembutnya tangan wanita seperti kekasihku ini. Hannah kini mencium bibir atasku. Kami saling berpandangan selama beberapa detik. Aku kemudian mencium bibir Hannah. Hannah menciumku penuh dengan nafsunya. Tanganku berkeliaran menjamah punggung, pundak Hanna. Meremas dadanya. Bibir kami terpisah sejenak. Hannah sepertinya sudah terkuasi nafsu. Dia menaggalkan kaos oblong biruku. Meraba-raba dadaku. Kami bercumbu lagi.
Aku merasakan hawa yang beberda. Sesuatu yang tak biasa. Hal yang aneh dapat kucium. Nafsuku tak kalah memuncak, aku mulai menanggalkan lingeri Hannah dan menciumin lehernya. Bibirku menjamah dadanya. Hannah terlihat keenakan. Desahan-desahan kecil terdengar, memecut nafsuku. Yah, setelah lama aku tidak menyentuhnya, betapa aku merindukan Hannah, akhirnya kami bercinta. Tubuh dan peluh kami menyatu hingga orgasme yang nikmat tiada tara.

bersambung...

           
            

Minggu, 04 Desember 2011

Funny Games (1997)


The Poor Child
Funny Games,
Permainan yang tidak lucu sama sekali.
Sebuah liburan keluarga yang berakhir malapetaka.
Dua pria culun, gangguan jiwa, merusak liburan mereka.
Dengan  modus aneh nan sakit, memicu emosi orang secara normal
dan berakhir kepada momen berdarah.
Klise..
Namun…
Saya bisa merasakan emosi kehilangan yang disalurkan secara hening.
Penderitaan yang difilmkan serasa nyata dan memang seperti seharusnya. Tidak dilebih-lebihkan. That area went naturally.
Juga..
pengerjaan property yang baik sangat menonjol dan menjadi satu daya tarik visual.

               
               

Sabtu, 03 Desember 2011

Empat


It where the sounds come

            Serpihan roti pizza berceceran di atas sofa. Empat kardus heksagonal tertumpuk di atas meja. Tidak ada satu slice pun pizza yang tersisa. Kaleng-kaleng Heineken tergeletak di lantai. Asbak dipenuhi dengan punting rokok. Keadaan ruang TV yang tadinya rapih dan bersih, kini berubah menjadi bencana. Aku tidak bisa membayangkan jika Hanna melihat semua ini. Tentunya dia akan bernyayi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan aku hanya menunduk berguman Mengheningkan Cipta.
Wisnu sedang tidur pulas dengan celana pendeknya dan singlet hitamnya. Kakinya mendarat di pahaku. Setengah sadar, aku mencoba untuk bangkit dari sofa. Aku melihat ke arah jam dinding. Ternyata belum pagi. Aku melihat jarum panjang jam menunjuk ke angka 9 dan jarum pendek jam ke angka 1. Aku angkat pelan-pelan kaki Wisnu. Aku tidak ingin dia terbangun.
Aku berdiri. Aku berdiri sejenak untuk mengumpulkan kesadaranku. Aku mencium aroma alkohol dari nafasku. Aku berjalan menuju dapur. Aku buka lemari es, aku ambil satu botol red wine. Aku ambil gelas beling panjang. Aku berjalan mengarah ke meja makan yang ada di tengah-tengah dapur. Aku duduk. Aku letakan red wine dan gelas di atas meja. Aku sandarkan badanku pada sandaran kursi. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Wisnu yang sedang tertidur dan sampah-sampah yang berceceran.
Aku masih bersandar. Red wine yang ada di depanku aku perhatikan. Red wine itu memiliki kemasan botol yang bening transparan. Aku terus melihatnya. Warna merah yang begitu menggoda—menggairahkan dahaga. Warna merah yang sangat seksi sekali. Aku raih red wine itu. Aku perhatikan merahnya secara seksama. Semakin aku perhatikan dalam-dalam, semakin aku merasa Red Wine ini meamanggil namaku dan berbisik kepadaku. Aku deketkan botol red wine itu ke telingaku. Aku memcoba mendegarkan apa yang dikatakan oleh Red Wine ini. Aku tidak mendengar apa-apa. Lalu aku mendengus dan tertawa kecil. Dasar bodoh! Mana mungkin benda ini dapat berbicara!. Hinaku pada diriku.
Aku membuka tutup botol red wine itu. Aromanya menguap dan tercium oleh hidungku. Aromanya enak sekali menyentuh indra penciumku. Aromanya begitu seksi—seseksi merahnya. Aromanya membuatku lega dan tenang. Mungkin ini alasan mengapa Hannah begitu menyukai wine. Aku tuangkan red wine ke dalam gelas bening panjang tadi. Oh Tuhan! Indah Sekali. Aku merendahkan kepalaku dan mensejajarkan pandanganku dengan gelas. Aku menuangkan kembali red wine dengan perlahan ke dalam gelas. Aku sangat takjub sekali melihat cairan warna merah itu terjatuh memenuhi ruang dan mendominasi transparan gelas dengan merah seksinya. Merahnya menenggelamkan setengah gelas. Aku angkat gelas itu. Aku dekatkan dengan mataku. Aku tersenyum. Yah, aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan ini.
Aku bawa botol dan gelas berisi red wine ke studioku. Yah, di dalam rumah ini aku memiliki satu ruangan yang aku jadikan studio seniku, studio lukisku. Aku tidak pandai melukis sebenarnya, aku hanya menyukai warna-warna. Aku suka menuangkannya ke dalam kanvas. Aku senang sekali menungkannya di tembok. Aku suka warna. Aku duduk di depan kanvas yang masih putih. Dengan botol dan gelas bersisi red wine tentunya. Aku simpan red wine itu di meja kecil, di samping kanvas. Aku kembali memperhatikan red wine itu dengan seksama kembali. Aku pandangi kanvas yang masih bersih. Bolak-balik pandangan ku arahkan red wine—kanvas, kanvas—red wine.
Aku celupkan jariku-jariku ke dalam red wine itu. Aku percikan red wine ke atas kanvas. Kanvas itu kini terisi dengan titik-titk bercak warna merah. Namun merahnya tidak seperti yang ku harapkan. Merahnya pudar. Ahh.. ini benar-benar tidak terpikirkan olehku. Aku siram saja seluruh red wine ke atas kanvas. dan..aku terdiam melihat satu pola tekstur abstrak yang tertangkap olehku. Aku melihat samudra. Samudra Merah dengan ombak tenang yang berlari-lari. Aku mendengar hembusan ombaknya. Hembusan itu merangsangku untuk melukis. Yah..aku akan melukis. Aku akan membenamkan diriku dan emosiku ke dalam lautan warna. Aku siapkan kuas dan berberapa warna dominan yang senyawa dengan warna merah wine ini. Aku mulai menggoreskan kuasku dengan mengikuti emosi yang sedang aku rasa. Aku kerasukan merah. Aku seakan lepas dari kehidupkan. I am untouchable.
*****

TAPOUT! (Warrior 2011)


                Siapa sangka dunia petarung yang sangar, macho, maskulin.. dapat menciptakan emosi feminisme. Satu anonym yang indah. Di saat otot, peluh dan keringat, darah, luka, rasa sakit,  membaur bersama konflik batin, penyesalan, dilema, broken heart, air mata, amarah,kesungguhan dan pengampunan menjadi satu kata, Warrior.
                Warrior, sebuah karya dari sutradara Gavin O’Connor yang mampu membuat saya merinding. Berkolaborasi dengan Anthony Tambakis, Connor menyuguhkan cerita dunia petarung yang tak biasa. Apa yang dilakukan Connor dan kawan-kawan sangat tepat. Emosi film ini sangat terjaga dengan rapih. Memberikan jeda yang pas di saat emosi mulai terpancing untuk disiapkan ke level yang lebih lagi. Gimmick film ini seakan menjadi bumbu penyedap yang dapat menimbulkan citra rasa dari sebuah kematangan cerita. Walupun agak sedikit ketebak bagaimana klimaksnya film ini, tapi itu tidak lantas menjadi kekurangan film ini. Saya jamin, siapa saja yang menonton ini, pasti akan merasa terikat dengan cerita yang disuguhkan.

Warrior is the whole package…

#3


One is never enough.

Satu batang Marlboro light aku ambil. Aku simpan batang rokok di mulutku. Ku nyalakan lighter berhargaku yang aku beli sewaktu aku kerja di Korea Selatan. Lighter ini berbentuk kotak warna coklat dengan gambar butterfly metalik kecil di tengahnya, sama persis dengan tato yang ku miliki di punggung. Asap rokok mengisi beranda atas. Sambil menunggu Wisnu datang, aku mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Dari beranda atas aku dapat mengamati daerah komplek. Jalanan komplek sangat sepi. Jalanan yang basah mungkin tanda tidak ada satupun orang atau kendaraan yang melintas. Padahal, sekarang masih jam 9 malam, belum cukup larut juga. Memang jika cuaca seperti ini lebih baik berdiam diri di rumah saja. Bersenda gurau dengan keluarga atau bercengkrama dengan teman atau kekasih. Dari berandaku aku juga dapat mengamati beranda rumah orang lain. Perumahan ini memiliki tipe rumah yang sama. Sebagian masih ada yang belum terisi. Dan sebagian ada yang sudah direnovasi. Kegiatan merokokku kali ini sangat terasa nikmat sekali. faktor udara yang dingin dan pikiranku yang sedang tak karuan mungkin alasan dari kenikmatan ini. Sudah lama aku menjadi seorang perokok. Aku tidak ingat sejak kapan aku candu dengan nikotin ini. Adakalanya rokok dapat menjadi temanku yang setia. Yang selalu bisa menjadi pelarianku di kala aku sedang sendiri membutuhkan seseorang yang tak bisa ada di sampingku, hisapan dan asap rokok seakan menjadi teman berbicara. Walaupun aku sadar bahwa rokok bukanlah sesuatu yang baik, namun aku tetap melakukannya. Perokok itu adalah suatu bukti keironisan yang ada di hidup ini. Kekasihku selalu mengingatkanku untuk berhenti merokok atau paling tidak menguranginya. Semuanya masuk ke telinga kananku dan keluar dari telinga kiriku. Aku tidak pernah mendengarkannya jika dia mulai berbicara soal rokok, karena aku tahu, kalo dia adalah seorang perokok juga. Aku tidak pernah melihat dia memegang rokok atau merokok secara langsung, tapi aku dapat mencium aroma rokok dari mulutnya di kala kita sedang bercumbu saat bercinta.
Aku melihat taksi berhenti di depan rumah. Sesosok laki-laki tinggi atletis keluar dari tasik itu dengan menggunakan sweater merah. Akhirnya Wisnu datang juga. Wisnu adalah teman yang aku kenal semenjak aku masuk Kuliah dulu. Kedekatan kita dan rasa solidaritas masing-masing menjadikan kita sahabat. Wisnu seorang blasteran. Ayahnya asli orang sunda dan menikah dengan ibunya yang berkewarganegaraan Australia. Campuran Sunda-Australia menghasilkan anak pria yang tampan, tinggi dan perawakan yang sempurna. Wisnu cukup update masalah gaya. Kadang dia selalu bertindak layaknya Fashion Police kalau-kalau penampilanku ada yang tidak berkenan di matanya. Dalam masalah berpenampilan aku termasuk orang yang biasa saja. Pernah suatu ketika ada acara undangan salah satu teman yang menikah, Wisnu mencela penampilanku. Katanya aku terlihat seperti orang yang mau nge-mall ketimbang orang yang datang ke resepsi pernikahan.
Dari bawah Wisnu melihatku dan menjempoliku. Entah apa maksudnya.
“apa kau akan duduk di situ terus,hah?”, tanyanya sedikit teriak seiring laju taksi
“kau naik saja, pintunya tidak ku kunci!”
“kau ini memang pemalas..”. Wisnu berjalan menuju pintu depan rumah.
Pemalas. Itulah panggilan Wisnu buatku. Yah aku akui kalau aku memang pemalas. Tapi aku tidak sepemalas yang dia kira.
Langkah kaki Wisnu menaiki tangga terdengar. Aroma maskulinnya mulai tercium. Kurasakan tangannya menepuk pundakku.

“kau ini bagaimana sih, punya BB bukannya di-charge? Bagaimana kalau ada panggilan penting untukmu..”. sapa Wisnu yang lalu duduk di sampingku.
“kau ini yang bagaimana. Apa kau tidak tahu ada yang namanya voice mail?”
“maksudku di Indonesia ini kan jarang yang menggunakan teknologi voice mail, kalau sudah terhubung dengan mailbox, mereka lebih prefer sms ketimbang meningkalkan pesan.”
“itu salah mereka sendiri, kalau memang penting, mengapa tidak meninggalkan pesan!”
“janganlah kau samakan di sini dengan di Korea sana dong!”
“sudahlah..kau ini cerewet sekali yah..”

            Aku mengambil satu batang rokok lagi untuk aku hisap.

“Hannah kemana?”
“biasalah…sibuk urusan bisnisnya!”
“pantas kau bebas merokok. Pergi ke mana sekarang dia?”
“Jogja!”
“tapi kau baik-baik saja, kan?”
“apa maksudmu?”
“aku tahu kau habis menangis, matamu terlihat sembab, tidak seperti biasanya!”
“don’t be such a smart ass..”, sangkalku.
Aku matikan rokokku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Wisnu memandangiku secara seksama, seakan sedang memastikan apa aku menangis atau tidak.
“I know you cried, dude! Come on.. tell me what’s wrong?”

“as I know you the one who want to tell me something..mengapa jadi kau yang bertanya?”
“well, If you won’t to tell me, it’s fine! But you cried, didn’t you?”.
“yeah I did! So, what do you care?”
“what do I care? Are you kidding? Of course I do care! We’re a friend for God’s sake!  We’re bloddy bestfriend! Come on..why did you cry?”

“well, it’s not about Hannah!”
“so what is about?”
“it’s something else!”
“yeah..I’m listening!”
“shit! You never give up, don’t you!”
“you don’t know me…what is something else?”
“you don’t wanna know!”
“oh give me a break. I’m dying for it!”,
Wisnu menatap mataku sangat tajam. Matanya sudah layaknya Brooker yang sedang mengamati slot saham.
            Aku tidak dapat membayangkan apa reaksi Wisnu jika dia mengetahui apa yang membuatku menangis. Wisnu memang teman baikku dan aku percaya padanya. Namun, entahlah, aku belum merasa nyaman untuk menceritakan apa yang menjadi rahasia terbesarku. Bahkan aku sendiri belum bisa menerima semua itu. Jadi kuputuskan untuk tidak memberitahu Wisnu.
“aku tidak bisa memberitahumu! Sorry!”
Aku bisa merasakan kekecewaan Wisnu. Mukanya berubah kecut. Wisnu hanya mendengus dan menyandarkan badannya di sandaran kursi.
“oh well, me probably know nothing, but I can sense what lies within you, Ian!”.
Aku tidak mengerti maksud ucapan Wisnu. Ah, biarlah. Mungkin dia hanya mengigau kecewa.
“lalu bagaimana pertunanganmu? Hey, what don’t you tell me about that?, sahutku mengganti topik pembicaraan.
“sebenarnya itulah yang aku mau tanyakan. Aku pikir, aku akan membatalkan pertunangan ini..!”, katanya sambil menerawang ke langit.
“apa?”
“are you not listening?”
“are you insane?”
“Of course not!”

“apa kau yakin?”
“What do you think?”. Wisnu mengambil sebatang Marlboro milikku dan menyalakannya.
“menurutku ini gila! Kau tidak bisa melakukan itu..”
“tentu saja aku bisa!”. Asap rokok mengisi udara.
“tapi mengapa?”
“sederhana saja, I’m not love her!”.
“apa?”
“kau ini terlalu lama tinggal di Korea, daritadi bisanya, apa, apa, apa, dan apa! Can you say something except APA?”
“Kau benar-benar gila jika kau melakukannya!”
“are you suggesting me that I bloody mad because I’m not love her? Is that so?”
“yeah..setelah bertahun-tahun kau pacaran dengan Sinta hingga sampai dititik ini, tiba-tiba kau bilang kau tidak mencintainya? Do you think is that sane, huh?”
“aku punya alasan untuk itu!”
“Apa? Alasan kau bilang? Alasan apa? Alasan apa yang dapat Sinta tidak merasa dikhianati, huh?”.
“come on dude, can you calm down?”
“apa aku tidak terlihat tenang?”
“daripada kau cemas dengan keputuskannku, lebih baik kau cemasi rambutmu itu. Kapan terakhir kali kau ke barbershop?”
“jangan kau alihkan pembicaraan. Sekarang katakana padaku, mengapa kau baru bilang sekarang?”
Wisnu tidak menjawab pertanyaanku. Dia sedang asik menikmati hisap demi hisap batang rokok.
“hey, kau dengat tidak?”. Kataku
Wisnu tiba-tiba mematikan rokoknya ke asbak. Di memandangku. Ada apa dengan Wisnu malam ini? aku perhatikan dia hobi sekali melakukan pandangan ini. Aku melihat matanya, aku dapat merasakan ada sesuatu di dalam matanya yang tersirat. Itu seakan, memintaku untuk menyelami perasaan Wisnu dan mengerti. Ini aneh. Aku belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya bersama Wisnu. Apa yang terjadi dengan orang ini sebenarnya. Wisnu mengulurkan tangannya. Aku dapat merasakan tangan Wisnu mendarat di pahaku. Mau apa dia sekarang.
“Ian, bagaimana kalau kau order pizza? Aku lapar sekali!”. Wisnu melepaskan tangannya dari pahaku. Kini dia memegang tanganku dan mengarahkan ke perutnya.
“kau dengar itu? Cacing-cacing di perutku sudah berorasi. Teriak-teriak PIZZA! PIZZA! PIZZA!”, Wisnu tersenyum dan kemudian tertawa..
“look at that face. The bloody dramatic face of Adrian Admadjaya…HAHAHAHAHAHA!”
“Norak sekali kau ini!”.

*****

Jumat, 02 Desember 2011

My Movies Friday...



I had never been saw two movies in a row before. But My Friday seems so boring so I decided to do that. Well, film pertama yang saya saksikan adalah film berbahasa Perancis, saya tidak tahu apakah film ini produksi Perancis atau bukan, karena ada dua bahasa yang berbeda namun terlihat serupa, entahlah. Film yang berbahasa Perancis itu punya nama In The City of Slyvia. Film independent yang sangat miskin dialog, namun kaya akan visualisai prespektif kosmoplit kehidupan suatu daerah kecil di belahan Perancis sana. Tidak banyak gambar yang berbicara mengenai aspek apa yang sebenenarnya akan disampaikan. Namun…mungkin, In The City of Slyvia hanya menonjolkan tehnik yang menekankan segi art pada sinematografi. Yah..banyak frame yang menarik di film ini. Di tambah dengan observasi terhadap orang-orang di sebuah cafĂ© yang diselipkan juga di sini. That might one thing that probably would remain in my head. Sebagian besar durasi film ini, anda akan dibawa dalam situasi stalking. For all those stalker may it can suit you. You are would feel quite there. Untuk pencinta film non-mainstream tipikal In The City of Slyvia, may would say that it such a nice and deep, but for me, it was seemed slides that lead eyes to somewhere that endless.  Film ini tidak memiliki antiklimaks. So just enjoy the uhm..slides
Film berikutnya adalah, Howl’s Moving Castle. Saya bukan tipikal pencinta animasi. I’m just not that into it. Walupun begitu, saya tidak mendeskreditkan yang namanya animasi. Katakanlan saya terbuai. Yah, selama kurang lebih 2 jam, saya bisa menikmati film animasi Ghilbi Studio, Howl’s Moving Castle dengan sehat. Walaupun saya tidak merasa terikat dengan ceritanya yang berkutit dengan perang yang tidak jelas, lalu tiba-tiba muncul intervensi penyihir yang berbicara soal mantra dan kutukan. Lalu, kutukan yang tiba-tiba hilang entah dengan deskripsi apa, dan yang paling klise, tidak lain dan tidak bukan adalah true love. True love is found, War is ended. Oh Okay! That’s so uhm..wow! Namun ada beberapa dialog yang membuat saya tertawa. Scenario Nenek Sophie yang ngedumel sendiri akan keadaanya yang berubah secara tiba-tiba. Satu kalimat yang masih saya ingat dan membuat saya tertawa terbahak-bahak, “ Slow down! For Heaven’s sake, make up your mind, are you gonna let me in or not?”, dan “ If you’re a Demon, how do I know how I can trust you?”…*tepok jidat*.
Dan sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kelanjutan Novel yang akan saya buat? Sebelumnya saya belum pernah seniat ini, mudah-mudahan ini tidak bersifat temporary.
Oh well…