Selasa, 25 Juni 2013

If High School is A Game..



Ini adalah sebagian yang kau temukan.. There's so much beautiful in life that I can't take it..

THE PORTRAYS

ROYAL
Banyak orang bilang bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah dan menyenangkan. Pundak terasa ringan tanpa beban hidup yang harus dipikul. Jika kita membutuhkan uang untuk bersenang-senang, bukan hal yang sulit, hanya cukup mengulurkan tangan-meminta pada orang tua, jika mereka enggan memberi, sejumlah ide cermelang akan muncul untuk menipu mereka dan mereka tidak bisa menolak karena kebohongan berdasarkan urusan sekolah. Mau beli pakaian baru, sepatu ter-update, hingga bersenang-senang dengan teman-teman ke mall menghabiskan semua uang tanpa rasa bersalah. Mengapa tidak? Nikmat bukan? Dan itu benar. Tiada hari bagiku untuk memanjakan diri bersama penjilat-penjilat kecilku.


BIRD.
Orang memang senantiasa membual dan memanipulasi kebenaran dengan mengatakan hal bodoh semacam 'Cinta bersemi di bangku SMA'. Omong kosong. Masa SMA mereka sungguh kemunafikan. Cinta itu hal naif yang pernah kudengar. Yang aku lihat, teman-temanku yang mengalami puberitasnya masing-masing nampak tolol mengagung-agungkan cinta dan perasaan BULLSHIT itu. Hello, kalian belum bisa menghidupi diri sendiri atau sekedar membeli makan siang dari keringat sendiri sudah berani mengumbar "apapun itu, untukmu akan aku beri segalanya". TAI. Mabuk cinta? Bohong. Mereka hanya belum melihat apa itu cinta dan segala kekejaman yang dibawanya. Suatu saat mereka akan menyesal karena telah menghabiskan uang jajan bulanan, 3 bulanan mereka untuk mengajak candle light dinner orang yang di-TAI-kan di Hotel Bintang Lima.
Makan tuh cinta sampai kenyang. Nothing left, sementara ada orang lain yang berjalan dengan senyum merekah di wajahnya, dengan seragam rapi, sneakers mentereng, ringan sambil menikmati cup of juice sendirian di tengah yang sedang ditimpa kegalauan super big size.


DESK BEHIND.
Mata pelajaran. Guru. Murid. Komposisi yang tidak menarik. Terlebih jika sudah menyangkut soal matematika, fisika, biologi, kimia dan semua omong kosong lainnya. Agama, bahasa, kewarganegaraan, apa itu? Tak ada artinya. Yah semuanya omong kosong belaka dan tak berguna ketika hal yang dianggap sangat krusial di kehidupan ini harus disampaikan melalui tangan, mulut, dan postur setan dalam sosok guru yang tidak mencerminkan seorang pahlawan tanpa jasa. Ringan tangan, mengajar seenaknya, mata duitan dan cabul. Apa mereka pantas disebut guru yang selayaknya memberikan sosok panutan yang baik kepada murid? Guru macam itu tidak bisa dipercaya sebagai jembatan masa depan siswa. Buat apa aku harus memakai seragam Putih Abu jika yang kutemui guru macam itu?. Cukup di rumah saja aku merasa mata dan telinga risih.


SOCKS
Hal yang tidak menyenangkan adalah melakukan semuanya sendiri; pergi jajan ke kantin, duduk, ke toilet, hingga ke mall. Rasanya sangat tidak keren bila tidak punya geng di sekolah. Tidak ada yang menjamin reputasi. Maaf yah, aku bukan anak culun seperti mereka yang tidak punya teman. Oh, maksudku tidak ada yang mau berteman. Haha. Menyedihkan.
SMA itu masa di mana kita memiliki teman yang banyak. Teman yang pantas berteman dengan kita tentunya. Jadi, geng itu buat aku penting sekali. Banyak teman artinya reputasimu kuat dan kamu bukan orang biasa oleh karena itu aku selalu memilih teman-teman yang pantas untuk menjadi temanku dan masuk ke dalam kehidupanku. Hari paling malas yang harus aku lalui di sekolah adalah, jika teman-temanku tidak masuk secara bersamaan. Rasanya aku tak nyaman berada di kelas. Tak nyaman harus pergi ke kantin sendiri. Orang seakan melihatku dengan heran dari kejauhan. Tatapan yang tidak penting seakan menelanjanginku. Dan kadang aku terpaksa tidak pergi ke kantin hanya duduk saja di dalam kelas, kesepian di tengah anak-anak yang lain yang sedang berbincang tentang pacar, sepakbola, atau liburan. Ingin rasanya aku mengajak teman sekelasku untuk ke kantin, tapi aku enggan karena aku tidak merasa berteman dengan mereka.


HIGH CLASS.
Terserah mereka mau mengumpat di belakang atau di depanku, aku tidak peduli sama sekali. Ini masalah idealisme. Enak saja mereka yang kerjanya bermalas-malasan harus mendapatkan nilai yang sama denganku yang jelas-jelas aku mendapatkannya dengan kerja keras dan pengorbanan. Aku tidak suka dengan orang yang suka sekali mencontek pekerjaan orang lain. Jika aku memberikan jawaban pada mereka, maka secara tidak langsung aku ambil andil untuk aktivitas pembodohan. Aku tidak suka orang bodoh. Aku senang jika mereka berusaha keras untuk mendapatkan prestasi dan aku tidak suka berada pada peringkat dua. Oleh karena itu aku lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan belajar, bila libur sekolah aku pergi les. Apapun yang menyangkut dengan prestasiku agar aku bertahan, aku lakukan. Aku sadar sifatku ini membuatku memiliki sedikit teman. Tak apa, yang jelas temanku jelas. Eksklusif. Berotak dan anti nyontek. Buang umpatanmu, aku tidak peduli. Kesakitanku hanya seseaat namun aku yakin akan ada hasil buatku yang bisa aku banggakan. Ketika saat itu tiba orang tuaku akan tahu kalau aku ada.


VELVET.
Sudahlah, terima saja kenyataan. Faktanya, aku memang tampan, punya gaya keren, dan aku termasuk siswa yang cerdas. Jadi tidak perlu bingung kalau banyak perempuan yang suka dan klepek-klepek. Hey, ladies, jangan salahkan aku kalau-kalau aku tidak bisa setia. Apa yang dilandasi keterpaksaan dan popularitas itu tidak ada yang abadi. Selama kita pacaran, aku tidak merasakan perasaan cinta itu. Sebagai pria keren, tentunya aku butuh memiliki pacar lebih dari satu. Dengan berat hati rasanya, aku tidak perlu meminta maaf untuk menjadi keren.


SLUT.
Berolahraga tentunya penting sekali. Apalagi hal itu menjadi patokan mutlak kejantanan lelaki di sekolah. Jago olahraga, badan jadi atletis dan tentunya popularitas sudah di dalam genggaman. Handal dalam berolahraga, menjadikanku memiliki banyak teman. Teman-teman pria satu team basket khususnya. Pertumbuhanku berkembang dengan baik dan sempurna. Banyak keuntungan jika kita gemar berlatih fisik. Dari semua itu, dengan image atlet sekolah dan bergaul bersama teman-teman atlet lainnya yang macho memberikan dua benefit, orang tidak akan mengira aku gay dan aku bisa melihat betapa seksinya badan teman-teman priaku di ruang ganti. Oh, yah aku punya pacar wanita seperti yang lain. Jika mereka selalu bercerita tentang akhir minggu mereka yang berakhir di ranjang, aku hanya tersenyum dengan alibi aku bukan penganut seks bebas usia dini, sementara otakku bagai pelacur yang ingin menjamahi tubuh teman-temanku ini. Sinting.


CHOCOLATE.
Aku tidak secantik mereka. Wajahku tidak mulus dan putih. Rambutku tak tertata penuh gaya. Model rambut pendek yang gagal. Badanku tidak seideal mereka, Sang Populer. Hidupku pun sepi. Aku tidak punya pacar dan teman-temanku tidak keren. Kadang aku merasa aku tak berarti. Apalagi setelah guru kewarganegaraan sinting itu berhasil mempermalukan aku di depan kelas dengan memanggilku 'Black'. Rasanya aku pingin mati, tapi sebelumnya aku harus memotong guruku ini menjadi tujuh bagian. Orang bijak bilang, percaya diri itu penting. Aku tidak yakin, karena aku sendiri merasa tidak dilahirkan bersama perasaan itu. Aku merasa orang paling jelek bila disejajarkan dengan semua siswa di sekolah. Aku bahkan merasa tidak layak berada dalam foto kelas. Namun aku ingat perkataan temanku, I am who I am. Kalimat itu bisa membuatku hidup sekaligus mati.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 15 Juni 2013

Man of Steel Review



Jambul yang fenomenal dan celana dalam merah yang iconic adalah ciri khas yang melekat pada karakter superhero. Yup, Superman. Pahlawan super yang bisa terbang dan memiliki kekuatan baja tiada duanya. Tapi apa jadinya jika jambul yang fenomenal itu dan celana dalam merah yang iconic hilang? Pertaruhan yang cukup besar tentunya. Semenjak keputusan ini keluar, apa yang dilakukan oleh Zack Snyder memicu berbagai macam protes khususnya dari pihak fanboy. Argument menjadi perdebatan yang seru, menciptakan gegap gempita dan pertanyaan "what is it gonna be?". Melihat nama Christopher Nolan yang duduk di kursi produser, tentunya memancing ekspektasi positif because in Nolan we trust.

13 Juni 2013 adalah tanggal yang telah dinantikan. Di mana ketika harapan akan menjadi nyata dan pertanyaan akan terjawab lewat reboot Superman yang diberi ngaran; Man of Steel. Melihat track record dari dua nama besar itu, Zack Snyder sebagai sutradara sudah berhasil memberikan tontonan kisah kolosal Sparta yang epic dalam 300 dan pengalamannya menyajikan kompleksitas superhero dalam Watchmen layak dipuja. Plus, pengalaman Nolan lewat karya-karyanya sudah tidak perlu dipertanyakan. Dua orang ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama selalu "gelap" dalam mengarahkan nuansa film. Faktor dua sineas hebat ini sudah sepatutnya memiliki kredibilitas yang tinggi sehingga kekecewaan adalah bukan pilihan.

Planet Krypton sedang berada di ambang kehancuran. Di saat yang kacau balau, Lara dan Jor-El melakukan sebuah pilihan yang akan dilakukan oleh setiap orang tua untuk anaknya yang baru lahir agar buah hati mereka memiliki kehidupan yang ideal walau itu harus bertentangan dengan kaum sebangsanya. Intuisi keyakinan itu tergambar dalam line *"What if a child dreamed of becoming something other than what society had intended? What if a child aspired to something greater?"*. Lalu scene berganti setelah Krypton benar-benar hancur. Digambarkan Kal the son of El menajdi seorang nelayan di bumi menyelamatkan orang-orang dalam peristiwa kebakaran. Tidak lama setelah itu, mata kita ditarik ke masa lampau melalui hal-hal krusial yang di alami oleh Clark Kent. Pacing flashback ini adalah pilihan yang tepat sebagai bumbu awal dalam sebuah reboot. Sebagai anak yang berbeda dan untuk membangun aura emosional yang ada dalam diri seorang manusia yang bukan manusia, sehingga kita bisa benar-benar hanyut dalam proses pendewasaan seorang anak yang akan membawa perbedaan. Proses pendewasaan dalam hubungan antara ayah dan anak. Memberikan pengertian untuk sesuatu yang tidak dapat dipahami *"People are afraid of what they didn't understand!"*. Dalam hal mencari asal muasal, pacing flashback ini senantiasa memberikan pelajaran yang berharga.

Hal yang menarik tidak terhenti di situ. Konflik pun berubah, berjalan cepat mengarah pada ide "are we alone in this universe?" dan pertanyaan itu dijawab oleh pesan tiba-tiba Zod yang mana mengundang reaksi dunia akan ketakutan sesuai dengan apa yang dikhawatirkan Jonathan. Clark tentunya akan selalu ingat apa yang telah menjadi keyakinan ayahnya, *" My father believed that if the world found out who I really was, they'd reject me... out of fear. He was convinced that the world wasn't ready. What do you think?"*. Konflik inilah yang lebih menggugah ketimbang ambisi Zod untuk mengubah bumi menjadi Krypton yang baru. Konflik ini adalah pondasi yang kuat untuk sebuah reboot, untuk sebuah awal bagaimana kisah "Alien" ini akan berlanjut membaur bersama umat manusia di tempat yang kita sebut Bumi, dan sebuah awal di mana ketika Alterego ditemukan. Untuk itu, keikutsertaan David S Goyer sebagai penulis dalam project ini patut mendapatkan sebuah credit yang besar karena telah menciptakan cerita yang istimewa.

Henry Cavil is actually quite fit in as Superman. He's so effortless and yeah, who need that Jambul and Kolor Merah when it's not about it, when it's all about the God damn brand new of evolution. Supes is grown up in many level by the direction of Snyder now.

Sebuah reboot yang cemerlang, pondasi yang kuat untuk meneruskan tatanan kisah si manusia baja. Kemudian, apa jadinya jika jambul yang fenomenal itu dan celana dalam merah yang iconic hilang? Maka jawabannya adalah Man of Steel. MARVELOUS!!!

*Djati*

posted from Bloggeroid