Rabu, 18 Januari 2012

Chapater 2 : #4 Hometown

 Ini adalah hari pertamaku di Bandung setelah mengahabiskan kurang lebih 3 tahun bekerja di Negri Gingseng, Korea Selatan. Sore tadi aku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dengan mengunakan jasa travel aku sampai di rumahku tadi malam. Keluargaku menyambut dengan senyuman dan pelukan hangat. Jujur saja aku tidak senang pulang ke rumahku—pulang ke keluargaku. Hubunganku dengan ayah dan ibu baik-baik saja sebenarnya, namun semenjak kakak wanitaku berserta suaminya yang gila dan tak berguna itu pindah dan ikut tinggal bersama. Kakakku itu mata duitan. Wanita irit kelas kakap. Pelit buat dirinya sendiri apalagi buat orang lain. Sedangkan suaminya, tidak berguna. Berbicara saja susah. Dia tidak bisu, hanya saja tidak bisa bersosialisasi dengan orang sekitar. Kerjanya hanya diam diam dan diam. Aku curiga, apakah dia seorang autis? Aku rasa tidak. Bego mungkin iya. Kasihan anaknya yang lucu, pintar, dan menggemaskan yang baru berusia 3 tahun. Sudah tentu aku pulang membawa uang yang banyak. Selama kerja di Korea Selatan aku hidup menghemat, sebagian gaji aku simpan buat aku bawa pulang ke Indonesia. Gajiku disana lumayan besar, bisa melebihi 2 kali lipat gaji minimum di Indonesia. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan eletronik Korea. Penghasilan yang aku simpan aku rencanakan untuk aku pakai biaya kuliahku. Setelah lulus SMA tawaran bekerja di luar negri datang dari teman temannya bibi temanku. Aku dan temanku tertarik dan yah sekalian untuk mencari pengalaman, mumpung masih muda dan ada kesempatan, kami memustukan untuk pergi.



Sudah pasti kakaku senang dengan kepulanganku. Dia bisa meminta uangku dan uangku. Aku sih tidak masalah. Aku juga sadar kalau sudah menjadi kewajibanku untuk berbagi dengan keluargaku dan saudara-saudaraku. Tapi aku benci memberi kakaku. Caranya yang nora dan urakan yang sebenarnya aku tidak suka. Dia selalu meminta dengan nada teriak-teriak. Mengapa harus teriak-teriak segala? Aku bisa mendengar dan mengerti. Baginya berteriak-teriak itu bukan berteriak melainkan memang cara bicaranya saja yang seperti itu. Tapi sebelum kakaku menikahi pria bego itu, bicaranya pelan dan punya kontrol. Yang aku perhatikan, semenjak dia menikah dengan suaminya kakaku berubah seratus delapan derajat.

Sore yang cerah. Sudah lama aku tidak menghirup udara sore kota Bandung. Melihat langit yang biru dan cahaya matahari yang hangat. Aku tidak akan menyia-menyiakan sore yang sempurna. Walaupun aku masih merasa lelah, tapi rasa rinduku akan kota tercinta ini tidak bisa dikalahkan. Lelahku seakan runtuh, mati oleh rindu indah ini.

Benar-benar menyenangkan bisa merasakan air kota Bandung. Aku semakin tidak sabar untuk keluar. Sudah lama juga aku tidak belanja. Baiklah aku akan menggunakan beberapa uangku untuk memuaskan nafsu belanjaku. Yah sekalian belanja keperluan buat kuliah nanti. Aku melepas handuk dan memilih baju mana yang akan kupakai. Aku tersentak dengan pintu kamarku yang dibuka. Reflek aku kembali memungut handukku dan menutupi apa yang harus kututupi.

“Oh come on!Bisa ketuk pintu dulu sebelum membuka pintu kamar orang!”, kataku dengan sedikit membentak. Ternyata kakak iparku. Kakak ipar yang bodoh. Sepertinya dia tidak diajarkan sopan santun dan privasi di asalnya sana.

“A-Ayah menunggumu di-di meja makan!”. Dia berbicara dengan gelagat down syndrown—padahal dia bukan penderita down syndrown. Matanya tidak menatapku. Pria bego ini malah celingak-celinguk melihat isi kamarku.

“Iyah!”, jawabku singkat. Aku kembali memilah-milih baju yang akan kukenakan. Bukannya lekas pergi, kakak iparku malah berdiam diri di depan pintu dan memperhatikanku.

“Apa lagi?”, kataku sambil menoleh ke arahnya. Pria menjijikan. Dia malah memperhatikan tubuhku. Matanya seakan melucuti anggota badanku. Kenapa? Belun pernah melihat badan seperti ini? Belum pernah melihat badan orang ditato?

“Bisa Kau pergi sekarang dan tutup pintunya, hah!”. Dengan bentakanku pria bego itu pergi turun ke bawah dengan langkah yang lambat.

Akhirnya kuputuskan untuk memakai kemeja saja dan celana jins abu. Setelah merapikan rambutku dan menyemprotkan minyak wangi aku siap untuk menikmati Bandung sore hari—seperti yang dibilang Denny Malik dalam lagunya “Sore-sore, asiknya jalan-jalan sore-sore…”.

Sebelum turun ke bawah dan menghadapi Ayah yang sedang menungguku, aku pastikan semua yang perlu kubawa sudah tersimpan di tas coklatku. Aku mendengar handphone yang kuletakan di meja bergetar. Dengan sigap aku meraih handphoneku. Sebuah nama yang kukenal dengan baik muncul di layar.

“Hai!”, sapaku.

“Cieeeeeee yang baru pulang kerja rodi! Hahaha!”. Suara yang sangat bersahabat dari seberang sana membuat hatiku senang sekali. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan sahabatku ini. Yudha, dia sahabatku sewaktu SMA dulu.

“Hahahaha…bisa saja Kau ini, Dha! Bagus yah tidak menjemputku di Bandara!”

“Aduhhh…sorry, Yan! Aku akhir-akhir ini sibuk dengan persiapan pernikahanku!”

“Apa? Kau akan menikah?”. Mendengar kabar Yudha akan menikah tentunya membuaku kaget dan tidak menyangka. Wanita tomboy sepertinya akan menikah di usia dini. Yah tidak terlalu dini juga sebenarnya untuk ukuran wanita. “Wah..ada yang tidak benar di sini! Kok baru member itahu aku sekarang? Di chat kau tidak pernah menyinggung masalah ini! Ayo ada apa ini sebenarnya? Kau tidak itu dulu kan? Hahaha!”

“Hahahaha… Kau ini bercandanya kadang suka tidak lucu, Ian! Aku tidak sedang hamil kok! Aku hanya sudah merasa siap saja untuk mengurus suami nanti dan menjadi istri yang baik! Huaahahaha…! Noraknya! Hahaha!”. Di seberang sana Yudha tertawa terbahak-bahak.

“Ohhh…Sukurlah kalau begitu! Siapa nih pria yang beruntung? Chepy?”

“Chepy? Oh tidak! Pria sepertinya tidak mungkin bisa serius! Yang dipikirannya hanya main dan senang-senang! Aku bosan dengan pria seperti itu!”

Lantas dengan siapa?”

“Nah itu dia, aku menghubungi Kau sekarang mau mengundang Kau datang ke tempatku, yah snack party—beers, and stuffs also dinner! Kecil-kecilan saja, sekalian aku mau mengenalkan calon suamiku ke kalian! Aku juga sudah menghubungi Ramon kok untuk datang nanti!”

“Baiklah! Ini tepat sekali!”

“Tepat sekali bagaimana maksudmu?”

“Tepat sekali denga kedatanganku lah! Okay, kapan nih acaranya?”

“Besok malam jam 8! Oh tolong ingatkan Ramon juga yah! Aku takutnya dia lupa karena yah sekarang dia sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya! Kau punya nomer dia kan?”

“Yah! Tenang saja, nanti aku ingatkan dia! Oh Gosh…I really miss you guys! Oh sore ini kau sibuk tidak?”

“Aku masih di kantor nih, Yan! Dan selesai kantor aku ada acara dengan calon suamiku! Hahaha! Kenapa memangnya?”

“Ohh..tadinya aku mau minta kau menemaniku sore ini jalan-jalan! Tapi sudahlah, tak apa!”

“Hmmmm…mungkin kau bisa coba ajak Ramon! Siapa tahu dia sedang tidak sibuk sore ini?”

“Tidak apa-apa! Aku sepertinya lebih baik pergi sendiri saja! Ramon sepertinya juga sibuk!”. Aku membuka pintu dan menuruni tangga.

“Baiklah! Kalau gitu see you tomorrow night yah! Don’t forget bring souvenirs! Hahaha! Bye!”

“Sip! Bye!”. Hubungan telepon terputus.

***

Aku melihat Ibu, Ayah, kakaku dan kakaku iparku sedang duduk di meja makan. Sedanga apa mereka? Sepertinya jam makan siang sudah berlalu. Dan aku tidak melihat adanya makanan yang tersaji di atas meja. Hanya satu teko air dan beberapa gelas saja. Mengapa wajah mereka begitu serius sekali?

”Adrian, mengapa Kau lama sekali?”, sahut kakakku

“Iyah, maaf! Tadi Aku bicara dulu dengan Yudha!” Aku menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan kakaku. Posisi kami—Ayah duduk di ujung meja dan juga Ibu, meraka saling berhadapan. Kakaku dan suaminya duduk bersampingan dan aku duduk sendiri. Di sampingku kursi kosong yang biasanya ditempati oleh Abangku. Namun sekarang Abangku sedang ditugaskan di luar kota.

“Ada apa ini? Nampaknya serius sekali?”. tanyaku sambil menuangkan air. “Aku ini baru pulang selama 3 tahun aku pergi! Aku tidak mengharapkan suasana seperti ini loh! Ada apa sih?”, aku meminum segelas air putih. Raut muka ayahku terlihat tidak karuan. Tatapannya kosong! Dan Ibu terlihat tentunduk sambil memegang sapu tangan.

“Ayah dan Ibu akan bercerai!”, tiba-tiba Kakaku berkata dengan nada tingginya. Sontak aku tersedak dan batuk mendengar apa yang kakaku katakan. Ibu yang munundukpun memalingkan mukanya melihat kakaku.

“Aida!”

“Kenapa, bu? Biarlah Adrian mengetahui soal ini sekarang! Tidak ada bedanya mengatakannya sekarang atau nanti! Apa Ibu tidak lihat Adrian sudah besar dan mengerti dengan keadaan yang serius ini!”, ucap kakakku.

“Tapi Adrian baru saja pulang!”

“Sudahlah, Mirna! Tidak perlu Kau melarang Aida untuk bicara!”, Kata ayah.

“Aku tidak melarang Aida untuk berbicara, tapi meminta dia untuk menghargai Adrian!”, tegas ibu.

Apa ini? Selama aku tak di rumah apa yang terjadi sebenarnya? Ayah dan Ibu akan bercerai? Kenapa?. Aku tidak mengerti.

“Omong kosong! Kau ini berbicara soal harga-menghargai, tapi kau sendiri tidak pernah menghargai orang lain!”, Ayahku terlihat begitu kesal.

“Ohhh…sekarang kau mencoba menyudutkanku di depan Adrian! Seolah membuat aku sebagai orang yang bersalah!”, Ibuku melipat tangannya dan memandang ayahku lurus.

“Kau benar-benar wanita yang tak tahu diri, Mirna!”, Ayahku mengepal tanganya. Wajahnya begitu terlihat berapi-api.

“Jika aku wanita tak tahu diri, lantas pria macam apa kau ini?”, ibu menyandarkan duduknya dan memalingkan wajahnya. Ia menarik nafas dan berkata “Bisa-bisanya Kau mengatai aku seperti itu sementara Kau telah menghancurkan keluarga ini! Menghancurkan kepercayaanku dan perasaanku, Edwin! Kau sungguh pria munafik!”. Aku bisa merasakan ada sesuatu tertahan dalam ucapan ibu. Menahan air matanya. Menahan sebuah kesakitan dari pengkhiantan.

“Seharusnya Kau sadar mengapa Aku lakukan ini! Kau sudah tidak pantas menjadi seorang istri atau ibu di sini! Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan?”. Ayah berdiri dan mebelakangi kami.

Aku yang masih kebingunan dengan apa yang telah terjadi merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.

“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang telah terjadi? Apa yang kalian bicarakan?”. Pertanyaanku tidak dijawab oleh ayah dan ibu. Ibu kini mulai menangis dan pergi masuk ke kamarnya.

Aku mencoba menyimpulkan sesuatu dari apa yang mereka katakan.

“Yah, Ada apa ini sebenarnya? Tolong katakana padaku, Yah?”

Ayah hanya diam saja. Dia bahkan tidak membalikan badannya dan menatapku. Aku berdiri dan menghadapi ayah.

“Kenapa kalian harus bercerai?”

“Adrian, Kau sudah dewasa! Seharusnya Kau bisa lebih peka dan tahu mengapa Ayah dan Ibu harus bercerai!”, Ayah pergi begitu saja entah ke mana.

 Okay, jawaban macam apa itu?. Ah entahlah! Aku tidak tahu. Yah sebanarnya aku tidak peduli dengan perceraian mereka. Aku menduga ada yang selingkuh di antara Ayah dan Ibu. Dari situ aku berfikir, jika memang mereka sudah tidak merasa cocok dan tidak bisa bersama lagi, silahkan saja bercerai. Apa aku harus marah? Apa aku harus menuntut alasan dari meraka? Sepertinya tidak! Aku dan kakakku sudah dewasa, bukan waktunya lagi kami mengurusi urusan mereka—urusan yang kekanak-kanakkan. Katakanlah mereka saling mengkhianati satu sama lain, yah setidaknya mereka punya alasan. Jika ayahku tidak mau menjelaskannya atau ibuku tidak akan mengatakan apa yang terjadi, itu hak mereka. Di balik itu pasti ada yang terbaik buat aku dan kakakku. Tentunya terbaik buat ayah dan ibuku.

“Adrian, Kau mau ke mana rapi seperti itu?”, tanya Kakaku.

“Aku mau keluar cari udara segar!”

“Kau belum memberiku uang! Mana? Aku minta uangmu!”. Sudah kuduga kakakku akan berbicara seperti itu. Aku ambil dompetku dan mengekuarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Aku letakan uang itu di atas meja.

“Cuma tiga ratus ribu?”

“Memangnya mau berapa?”

“Buat Rindu mana?”

“Rindu tuh masih kecil! Dia belum tahu uang! Dan aku tidak mau memberinya uang dan mendidik dia mengenal uang di usianya yang masih 3 tahun! Nanti kalau sudah besar seperti ibunya lagi! Ngga ada! Lebih baik aku belikan dia mainan!”. Aku berlalu meninggalkan kakaku dan suaminya yang dari tadi hanya bengong saja.

to be continued.. 























Minggu, 01 Januari 2012

Chapter 3 : #3


Aku merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Entahlah, perasaan macam apa ini?...yang jelas tamparan Hannah membuatku galau. Aku seakan berdiri di antara prasangka dan kenyataan. Aku tidak tahu apa yang harus aku ikuti—prasangkaku atau kenyataan di pipiku?.

Aku mengenakan kaos oblong biruku yang tergeletak di lantai dan celana pendekku. Aku beranjak dari kamar—turun ke bawah. Aku merasa aku harus meminta maaf atas perkataannku, yang aku sendiri belum yakin—apa aku ini salah atau tidak?. Namun aku merasa, aku harus meminta maaf pada Hannah. Bagaimanapun itu, Hannah marah kepadaku. Belum pernah dia menamparku seperti ini.

Perlahan aku turuni anak tangga. Aku melihat Hannah sedang duduk di meja makan. Dengan ditemani botol wine dan gelas berisi wine putih yang tersimpan di meja—ia duduk sambil merokok. Aku hanya mencibir melihat dia menghisap rokok dan menghebuskan asap. Pandangan Hannah sedang melihat kea rah akuarium yang ada di samping meja makan. Aku tidak tahu apakah dia menyadari kalau aku sedang berdiri dan memperhatikannya merokok. Aku berjalan mendekati Hannah. Hannah seolah-olah acuh dengan pendekatanku menghampirinya. Pandangannya tetap ia fokuskan pada akuarium. Aku tarik salah satu kursi meja makan—duduk di depannya. Hannah masih tidak melihatku. Dia seperti malas mengalingkan padangannya untuk melihatku. Aku tahu bahwa Hannah sadar akan kehadiranku. Dia hanya pura-pura saja tidak mengetahuinya. Rokok yang Hannah hisap telah habis. Dia mematikan rokoknya ke dalam asbak. Hannah mengambil satu batang lagi lalu memnyalakan Lighter.

“Untung saja Aku tidak membuang rokok itu!”, kataku memecah kepura-puraan. Hannah memandanganku sesaat dengan sinis. Melihat matanya yang merah dan sembab, aku dapat menyimpulkan—kalau dia habis menangis. Dia meraih gelas berisi wine putih—meneguk wine itu. Melihat itu, aku melihat betapa feminis dan anggunnya Hannah. Bagaimana cara dia merokok dan menghebuskan asap, semua itu terlihat sexy di mataku dan gaya rambutnya yang baru…Oh Tuhan, Aku pria yang beruntung sekali.

“Kau pernah menderngar cerita Dayang Sumbi dan Sangkuriang, Ian?”, pertanyaan yang aneh tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Apa?”, reaksiku. 

Hannah kembali meneguk wine putih, menghisap rokoknya dan mengelurakan asap.

“Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi yang terpisah selama bertahun-tahun. Di saat Sangkuriang dewasa…”
“Yah aku tahu cerita itu, Hannah!”
“…Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita cantik. Wanita itu adalah Dayang Sumbi, Ibunya sendiri. Ibu yang mengandungnya dan melahirkannya dan membuangnya…”, Hannah mematikann rokoknya dan menuangkan wine ke gelas—meminumnya. Ini terasa aneh. Aku tidak mengerti mengapa Hannah menceritakan legenda Gunung Tangkuban Perahu ini kepadaku di saat seperti ini. Aku benar-benar merasa aneh. Namun aku dengarkan saja dia. Akan kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.
“…karena kecantikan Dayang Sumbi, Sangkuriang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi. Sangkuriang kemudian memutuskan untuk meminang Dayang Sumbi sebagai istrinya. Mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anak lelakinya, Dayang Sumbi member ikan Sangkuriang satu persyaratan…Kau tahu syarat apa yang diberikan Dayang Sumbi kepada Sangkuriang, Ian?”, Hannah meneguk kembali wine.
“Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat kapal raksaksa dan sebuah danau dalam waktu satu hari satu malem!”, jawabku.
“Apakah Sangkuriang sanggup melakukan persyaratan itu?”, Tanya Hannah.
“Dengan bantuan jin dan mahkluk gaib lainnya, tentu saja ia sanggup!”, Jawabku.
“Apa Sangkuriang berhasil menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi dalam waktu yang begitu singkat itu?”. Hannah menuangkan wine putihnya ke dalam gelas. “Apa bantuan jin dan makhluk gaib itu ada artinya?”, tanya Hannah seraya memberikan gelas berisi wine itu kepadaku.

Tangan kananku menggapai gelas berisi wine putih, “Dayang Sumbi merasa khawatir mengetahui pekerjaan Sangkuriang hampir selasai. Rasa kekhawatirannya itu membuat Dayang Sumbi berniat  mencurangi Sangkuriang…”, Aku teguk wine putih sambil melayangkan penglihatanku pada Hannah yang sedang menunggu mulutku untuk berbicara—meneruskan cerita Sangkuriang. “Dengan menggunakan selendang panjangnya berwarna kuning kalau aku tidak salah, er..Dayang Sumbi melemparkan selendang panjangnya ke langit dan meminta bantuan jin juga untuk membuat seolah-olah fajar telah tiba. Dayang Sumbi pun membuat suara tiruan ayam berkokok…”. Lanjutku.

“Mengetahui dirinya gagal, Sangkuriang kesal dan menendang perahu yang telah dibuatnya hingga terbalik di dalam danau buatannya. Gunung Tangkuban Perahu dianggap sebagai perahu yang ditendang oleh Sangkuriang!”, Kata Hannah melipat kedua tangannya di atas meja.
“Yah!”, kataku. Mengikuti perbincangan cerita—legenda Gunung Tangkuban Perahu membuatku tidak mengerti. Jarang sekali Hannah membicarakan sesuatu seperti ini. Berbicara dengan penuh antusias. Hannah kembali menyalakan satu batang rokok.

“Menurutmu, mengapa Dayang Sumbi berbuat hal seperti itu?”. Hembusan asap rokok keluar dari mulut Hannah. Asap rokok mengitari ruangan.
“Karena tidak mungkin Dayang Sumbi menikahi anaknya sendiri!”, kataku sambil ketawa kecil.
“Lantas mengapa dia tidak bilang yang sebenarnya saja kalau dia adalah ibu kandung Sangkuriang? Mengapa harus dengan memberi persyaratan bodoh seperti itu dan MEMPECUNDANGI Sangkuriang dengan melakukan tipu daya seperti itu?”. Hannah terdengar begitu menggebu-gebu dalam ucapannya.

Aku semakin tidak mengerti, sebenarnya apa maksud dari semua pembicaraan ini. Niatku yang tadinya mau meminta maaf, terpinggirkan. Aku merasa ada yang aneh dengan Hannah. Hannah menenggak wine putih langsung dari botolnya. Pipinya terlihat memerah. Apa ini pengaruh dari wine itu? Bisa jadi Hannah sedang mabuk.

“She’s a bitch!!!”. Hannah mematikan rokoknya dengan penuh kekuatan di tangannya dan melakukan pandangan itu lagi kepadaku—pandangan tajam dengan emosi yang tersimpan di dalam bola matanya yang coklat. “Apa yang akan kau lakukan jika kau menjadi Sangkuriang?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu, Hannah?”, Aku alihkan pandangan ke arah lain—menghindar dari tatapan Hanah itu. “Kau mabuk sepertinya!”. Aku kembalikan pandanganku menatap mata Hannah yang rasanya tidak berkedip.
“Kau benar tidak mengerti maksudku? Hahaha..Kau ini polos sekali, Ian”, tanya Hannah.

Yah, aku yakin Hannah sedang berada dibawah pengaruh alkohol—dia sedang mabuk. “Lebih baik kau istirahat dan kita teruskan besok!”, kataku seraya menggapai rokok yang ada di depan tangan Hannah. Namun Hannah menepuk tanganku dan memegang tanganku dengan kuat agar aku tidak bisa mengambil rokok .
“Aku tidak mengganti parfumku, Ian!”, kata Hannah pelan sembari memajukan wajahnya ke arahku.
“Apa?”, Aku tarik tanganku perlahan dari cengkramannya. Aku perhatikan wajah Hannah, tatapannya. Aku mencoba untuk membaca apa yang tersirat di matanya. Sebenarnya aku mendengar apa yang Hannah ucapkan dengan jelas. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Jantungku berdetak kencang sekali. Aku merasa siap tidak siap dengan apa yang akan aku dengar—apa yang akan keluar dari mulut Hannah. Walaupun aku memiliki dugaan, namun aku tidak ingin mendengarnya. Di sisi lain aku ingin sebuah kebenaran. Aku siapkan diriku untuk kalimat yang akan terucap oleh Hannah. Aku tarik nafasku, aku menunggu.
“Aku tidak tahu kau memiliki penciuman yang begitu kuat! Aku tidak menyadari perhatianmu yang begitu besar, Ian! Aku memang wanita bodoh!”, Hannah menyandarkan badannya dan tertawa kecil. Tawa penuh leceh.
“Tell me the truth,Hannah!”, kataku dengan pelan menahan emosiku yang apakah akan meledak atau tidak. Yang jelas, jantungku terus berdetak kencang. Aku dapat merasakan panas di kepalaku melihat tingkah Hannah yang kembali menyulut rokok dengan lighterku.
“Aku tidur dengan pria lain, Ian!”. Kata Hannah sembari menghisap rokoknya.

Apa yang aku duga-duga ternyata benar. Aku ambil gelas yang berisi wine putih tadi, aku siramkan wine putih itu pada wajah Hannah. Hannah sempat terhentak kaget menerima siraman wine dariku. Dia diam saja. Hannah bahkan tidak berani melihat wajahku.  Aku sangat merasa dipermainkan olehnya. Kalimat itu bagaikan sebuah klimaks. Hannah membuatku kesal. Hannah membuatku melayang di udara. Hannah membuatku tak berdaya. Dan kini, di depanku sedang duduk wanita yang telah membuatku remuk. Siraman wine itu, aku rasa tidak cukup untuk mencurahkan kekecewaanku.

Aku beranjak dari kursiku dengan emosi. Kedua tanganku aku kepalkan, seolah semua emosi mengalir dan terpusat di sana. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku pergi berjalan cepat meninggalkannya. Langkahku terhenti. Aku merasa belum puas. Tidak tepat rasanya aku meninggalkan Hannah begiu saja. Aku kembali ke meja makan, memandangnya penuh rendah.

“Kau mau melemparkan botol ini ke kepalaku, Ian?”. Suaranya gemeter. Hannah menghisap rokok yang masih tersisiah namun sudah agak basah.
“Hentikan itu!”, Aku rebut rokoknya kemudian aku buang. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Hatiku sakit mendengar pengakuannya. Namun apa aku harus marah?. Apa aku harus menghinanya?. Mencacinya?. Apa siraman wine itu benar-benar tidak cukup?. Aku tarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku kembali duduk di tempatku tadi. Aku memandang Hannah. Wajahnya kini berbeda. Sekarang wajahnya terlihat kuyup. Aku tuangkan wine ke dalam gelas. Aku ambil rokok. Hannah hanya diam saja. Ini seakan checkmate untuknya. Aku bagaikan ksatria yang sedang mengepung sang raja—seorang raja yang tak berdaya.
“Mengapa?”. Aku keluarkan apa yang ada di pikiranku seiring asap rokok yang kuhembusakan.

Hannah mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian Hannah tersenyum kepadaku, “Apa ini yang bisa Kau lakukan,Ian?”

Hannah melecehkanku. Sebenarnya apa maunya dia?.Berani sekali dia berkata seperti itu di saat posisi seperti ini. Apa dia tidak merasa bersalah? Kemana hatinya? Apa hatinya tertinggal di Jogja sana?.

“Mengapa, Hannah?”. Aku kembali bertanya dengan sabar.

Hannah terliha masih tersenyum penuh lecehan. Senyumannya begitu menjengkelkan. Membuat darahku tambah naik.
Tiba-tiba aku tersentak melihat sosok Ramon sedang berdiri di samping meja makan. Pria itu berjalan mendekati Hannah. Aku ketakutan. Mulutku menganga penuh kecemasan. Keringat bercucuran. Ramon menatapku dengan tajam penuh amarah dan kepuasan. Tatapan itu begitu mengitimidasiku. Aku melihat Hannah. Hannah masih tersenyum. Mulutnya terlihat sedang seperti mengatakan sesuatu, namun aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Semuanya seakan berjalan dengan lambat. Ramon kini berada di samping Hannah—dia masih memandangku dengan pandangan itu. Tangannya memegang pundak Hannah. Tubuhku kaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kembali melihat Hannah. Kini dia terlihat diam—tak mengatakan apapun. Hannah tersemyum lagi. Ahh mengapa dia tersenyum seperti itu terus? Apa yang akan Ramon lakukan kepada Hannha?. Jangan kau sentuh dia! Hatiku menjerit namun bibirku terkunci. Ramon membuka kancing celananya. Hannah mengankat wajahnya menatap Ramon. Apa yang akan mereka lakukan di depanku? PERGI KAU BAJINGAN! JANGAN BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUHNYA!!! Ramon mengeluarkan penisnya dan TIDAKKK!!! Ekpresi wajah Ramon menghinaku. Wajah penuh nikmat yang sedang dirasakannya. “Ahhh..Ahhh…Ahhh..”. Ramon mendesah sambil menatapku penuh umpat. Aku benar-benar dibuatnya gila. Aku kumpulkan tenagaku dan keberanianku untuk menghentikan semua ini. Aku beranjak dari kursiku—aku menaiki meja makan lalu aku jambak rambut pendek Hannah. Namun Hannah begitu menikmati kulum yang ia lakukan. Aku jambak terus dengan kuat rambutnya. Aku mendengar Ramon tertawa dengan keras. Aku terus menjambak rambut Hannah. Tawa Ramon semakin terdengar keras dan keras. Aku pun semakin sekuat tenaga menjambak rambut Hannah. Tawa Ramon perlahan-lahan hilang tergantikan dengan suara rintihan kesakitan.

“AAAAAAAAAAAAHHH…Ian hentikan! AAAAAAAAAAAAAHHH!!! Ian kau menyakitiku!”

Aku melepaskan tanganku. Aku memandang ke sekeliling penuh panik. Ramon sudah tidak ada. Di atas meja aku berkeringat. Aku gemetaran. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku tampar-tampar pipiku. Hannah menangis di depanku. Aku benar-benar kacau. Aku melihat wine yang tumpah. Serpihan beling di lantai dari gelas dan botol yang pecah.

“Hannah, kau tidak apa-apa?”, aku memcoba untuk menyentuhnya. “Maafkan aku!”

“Kau gila, Ian! KAU SUDAH GILA! KAU SUDAH GILAAA!”, Hannah bertertiak ke mukaku. Teriakannya begitu melengking. Tanpa pikir panjang lagi, dengan rasa aral dan kacau yang menjadi satu aku tampar Hannah sekuat tenaga hingga ia jatuh ke lantai. Badanya tergeletak tak berdaya. Hannah tidak sadarkan diri. Aku memandang kedua tanganku. Apa yang telah kulakuan?
”Oh Hannah…. Maafkan aku! Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini kepadamu! Aku tidak punya pilihan!”, Aku bersimpuh di atas meja.
“Bunuh Dia!”
“Tidak!”
“Habisi Dia, Pengecut!’
“Tidakk!”
“Wanita pelacur sepertinya tidak pantas mendapatkan cintamu! Dia pantas mati! MATI! MATI!”
“Aku mencintainya! Aku mencintainya! Aku tidak akan membunuhnya!”
“Ambil pistolmu dan tembakan ke kepalanya! Dia tidak akan merasakan kesakitan! Ayo ambil pistolmu, A-dri-an!”
“Dia tidak pantas untuk mati dengan cara itu! Hannah wanita yang baik! Aku mencintainya! Aku tidak ingin dia mati!”
“Dia telah mempecundangimu, Adrian! Wanita ini telah mengkhianati cintamu yang besar dengan pria lain! Wanita ini pelacur! Dia berbagi tubunhya dengan pria lain! Tidakkah kau dengar tadi? Tidakkan kau lihat tadi?”
“DIAM KAU! Aku tidak ingin mendengar itu semua!”
“Kau ini memang pecundang, Adrian! Kau pecundang! Kau pria bodoh!”
“DIAAAAAAAAAAAAMMMMMMM!!!”
“Pecundang!”
“Aku bukan pecundang!”
“Buktikan!”
“Aku bukan pencundang seperti yang kau bilang!”, Aku tersenyum.
“Kalau begitu, ayo ambil pistolmu dan bunuh pelacur ini sekarang juga!”
*****
           Bersambung...