Ini adalah hari pertamaku di Bandung setelah mengahabiskan kurang lebih 3 tahun bekerja di Negri Gingseng, Korea Selatan. Sore tadi aku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dengan mengunakan jasa travel aku sampai di rumahku tadi malam. Keluargaku menyambut dengan senyuman dan pelukan hangat. Jujur saja aku tidak senang pulang ke rumahku—pulang ke keluargaku. Hubunganku dengan ayah dan ibu baik-baik saja sebenarnya, namun semenjak kakak wanitaku berserta suaminya yang gila dan tak berguna itu pindah dan ikut tinggal bersama. Kakakku itu mata duitan. Wanita irit kelas kakap. Pelit buat dirinya sendiri apalagi buat orang lain. Sedangkan suaminya, tidak berguna. Berbicara saja susah. Dia tidak bisu, hanya saja tidak bisa bersosialisasi dengan orang sekitar. Kerjanya hanya diam diam dan diam. Aku curiga, apakah dia seorang autis? Aku rasa tidak. Bego mungkin iya. Kasihan anaknya yang lucu, pintar, dan menggemaskan yang baru berusia 3 tahun. Sudah tentu aku pulang membawa uang yang banyak. Selama kerja di Korea Selatan aku hidup menghemat, sebagian gaji aku simpan buat aku bawa pulang ke Indonesia. Gajiku disana lumayan besar, bisa melebihi 2 kali lipat gaji minimum di Indonesia. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan eletronik Korea. Penghasilan yang aku simpan aku rencanakan untuk aku pakai biaya kuliahku. Setelah lulus SMA tawaran bekerja di luar negri datang dari teman temannya bibi temanku. Aku dan temanku tertarik dan yah sekalian untuk mencari pengalaman, mumpung masih muda dan ada kesempatan, kami memustukan untuk pergi.
Sudah pasti kakaku senang dengan kepulanganku. Dia bisa meminta uangku dan uangku. Aku sih tidak masalah. Aku juga sadar kalau sudah menjadi kewajibanku untuk berbagi dengan keluargaku dan saudara-saudaraku. Tapi aku benci memberi kakaku. Caranya yang nora dan urakan yang sebenarnya aku tidak suka. Dia selalu meminta dengan nada teriak-teriak. Mengapa harus teriak-teriak segala? Aku bisa mendengar dan mengerti. Baginya berteriak-teriak itu bukan berteriak melainkan memang cara bicaranya saja yang seperti itu. Tapi sebelum kakaku menikahi pria bego itu, bicaranya pelan dan punya kontrol. Yang aku perhatikan, semenjak dia menikah dengan suaminya kakaku berubah seratus delapan derajat.
Sore yang cerah. Sudah lama aku tidak menghirup udara sore kota Bandung. Melihat langit yang biru dan cahaya matahari yang hangat. Aku tidak akan menyia-menyiakan sore yang sempurna. Walaupun aku masih merasa lelah, tapi rasa rinduku akan kota tercinta ini tidak bisa dikalahkan. Lelahku seakan runtuh, mati oleh rindu indah ini.
Benar-benar menyenangkan bisa merasakan air kota Bandung. Aku semakin tidak sabar untuk keluar. Sudah lama juga aku tidak belanja. Baiklah aku akan menggunakan beberapa uangku untuk memuaskan nafsu belanjaku. Yah sekalian belanja keperluan buat kuliah nanti. Aku melepas handuk dan memilih baju mana yang akan kupakai. Aku tersentak dengan pintu kamarku yang dibuka. Reflek aku kembali memungut handukku dan menutupi apa yang harus kututupi.
“Oh come on!Bisa ketuk pintu dulu sebelum membuka pintu kamar orang!”, kataku dengan sedikit membentak. Ternyata kakak iparku. Kakak ipar yang bodoh. Sepertinya dia tidak diajarkan sopan santun dan privasi di asalnya sana.
“A-Ayah menunggumu di-di meja makan!”. Dia berbicara dengan gelagat down syndrown—padahal dia bukan penderita down syndrown. Matanya tidak menatapku. Pria bego ini malah celingak-celinguk melihat isi kamarku.
“Iyah!”, jawabku singkat. Aku kembali memilah-milih baju yang akan kukenakan. Bukannya lekas pergi, kakak iparku malah berdiam diri di depan pintu dan memperhatikanku.
“Apa lagi?”, kataku sambil menoleh ke arahnya. Pria menjijikan. Dia malah memperhatikan tubuhku. Matanya seakan melucuti anggota badanku. Kenapa? Belun pernah melihat badan seperti ini? Belum pernah melihat badan orang ditato?
“Bisa Kau pergi sekarang dan tutup pintunya, hah!”. Dengan bentakanku pria bego itu pergi turun ke bawah dengan langkah yang lambat.
Akhirnya kuputuskan untuk memakai kemeja saja dan celana jins abu. Setelah merapikan rambutku dan menyemprotkan minyak wangi aku siap untuk menikmati Bandung sore hari—seperti yang dibilang Denny Malik dalam lagunya “Sore-sore, asiknya jalan-jalan sore-sore…”.
Sebelum turun ke bawah dan menghadapi Ayah yang sedang menungguku, aku pastikan semua yang perlu kubawa sudah tersimpan di tas coklatku. Aku mendengar handphone yang kuletakan di meja bergetar. Dengan sigap aku meraih handphoneku. Sebuah nama yang kukenal dengan baik muncul di layar.
“Hai!”, sapaku.
“Cieeeeeee yang baru pulang kerja rodi! Hahaha!”. Suara yang sangat bersahabat dari seberang sana membuat hatiku senang sekali. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan sahabatku ini. Yudha, dia sahabatku sewaktu SMA dulu.
“Hahahaha…bisa saja Kau ini, Dha! Bagus yah tidak menjemputku di Bandara!”
“Aduhhh…sorry, Yan! Aku akhir-akhir ini sibuk dengan persiapan pernikahanku!”
“Apa? Kau akan menikah?”. Mendengar kabar Yudha akan menikah tentunya membuaku kaget dan tidak menyangka. Wanita tomboy sepertinya akan menikah di usia dini. Yah tidak terlalu dini juga sebenarnya untuk ukuran wanita. “Wah..ada yang tidak benar di sini! Kok baru member itahu aku sekarang? Di chat kau tidak pernah menyinggung masalah ini! Ayo ada apa ini sebenarnya? Kau tidak itu dulu kan? Hahaha!”
“Hahahaha… Kau ini bercandanya kadang suka tidak lucu, Ian! Aku tidak sedang hamil kok! Aku hanya sudah merasa siap saja untuk mengurus suami nanti dan menjadi istri yang baik! Huaahahaha…! Noraknya! Hahaha!”. Di seberang sana Yudha tertawa terbahak-bahak.
“Ohhh…Sukurlah kalau begitu! Siapa nih pria yang beruntung? Chepy?”
“Chepy? Oh tidak! Pria sepertinya tidak mungkin bisa serius! Yang dipikirannya hanya main dan senang-senang! Aku bosan dengan pria seperti itu!”
“Lantas dengan siapa?”
“Nah itu dia, aku menghubungi Kau sekarang mau mengundang Kau datang ke tempatku, yah snack party—beers, and stuffs also dinner! Kecil-kecilan saja, sekalian aku mau mengenalkan calon suamiku ke kalian! Aku juga sudah menghubungi Ramon kok untuk datang nanti!”
“Baiklah! Ini tepat sekali!”
“Tepat sekali bagaimana maksudmu?”
“Tepat sekali denga kedatanganku lah! Okay, kapan nih acaranya?”
“Besok malam jam 8! Oh tolong ingatkan Ramon juga yah! Aku takutnya dia lupa karena yah sekarang dia sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya! Kau punya nomer dia kan?”
“Yah! Tenang saja, nanti aku ingatkan dia! Oh Gosh…I really miss you guys! Oh sore ini kau sibuk tidak?”
“Aku masih di kantor nih, Yan! Dan selesai kantor aku ada acara dengan calon suamiku! Hahaha! Kenapa memangnya?”
“Ohh..tadinya aku mau minta kau menemaniku sore ini jalan-jalan! Tapi sudahlah, tak apa!”
“Hmmmm…mungkin kau bisa coba ajak Ramon! Siapa tahu dia sedang tidak sibuk sore ini?”
“Tidak apa-apa! Aku sepertinya lebih baik pergi sendiri saja! Ramon sepertinya juga sibuk!”. Aku membuka pintu dan menuruni tangga.
“Baiklah! Kalau gitu see you tomorrow night yah! Don’t forget bring souvenirs! Hahaha! Bye!”
“Sip! Bye!”. Hubungan telepon terputus.
***
Aku melihat Ibu, Ayah, kakaku dan kakaku iparku sedang duduk di meja makan. Sedanga apa mereka? Sepertinya jam makan siang sudah berlalu. Dan aku tidak melihat adanya makanan yang tersaji di atas meja. Hanya satu teko air dan beberapa gelas saja. Mengapa wajah mereka begitu serius sekali?
”Adrian, mengapa Kau lama sekali?”, sahut kakakku
“Iyah, maaf! Tadi Aku bicara dulu dengan Yudha!” Aku menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan kakaku. Posisi kami—Ayah duduk di ujung meja dan juga Ibu, meraka saling berhadapan. Kakaku dan suaminya duduk bersampingan dan aku duduk sendiri. Di sampingku kursi kosong yang biasanya ditempati oleh Abangku. Namun sekarang Abangku sedang ditugaskan di luar kota.
“Ada apa ini? Nampaknya serius sekali?”. tanyaku sambil menuangkan air. “Aku ini baru pulang selama 3 tahun aku pergi! Aku tidak mengharapkan suasana seperti ini loh! Ada apa sih?”, aku meminum segelas air putih. Raut muka ayahku terlihat tidak karuan. Tatapannya kosong! Dan Ibu terlihat tentunduk sambil memegang sapu tangan.
“Ayah dan Ibu akan bercerai!”, tiba-tiba Kakaku berkata dengan nada tingginya. Sontak aku tersedak dan batuk mendengar apa yang kakaku katakan. Ibu yang munundukpun memalingkan mukanya melihat kakaku.
“Aida!”
“Kenapa, bu? Biarlah Adrian mengetahui soal ini sekarang! Tidak ada bedanya mengatakannya sekarang atau nanti! Apa Ibu tidak lihat Adrian sudah besar dan mengerti dengan keadaan yang serius ini!”, ucap kakakku.
“Tapi Adrian baru saja pulang!”
“Sudahlah, Mirna! Tidak perlu Kau melarang Aida untuk bicara!”, Kata ayah.
“Aku tidak melarang Aida untuk berbicara, tapi meminta dia untuk menghargai Adrian!”, tegas ibu.
Apa ini? Selama aku tak di rumah apa yang terjadi sebenarnya? Ayah dan Ibu akan bercerai? Kenapa?. Aku tidak mengerti.
“Omong kosong! Kau ini berbicara soal harga-menghargai, tapi kau sendiri tidak pernah menghargai orang lain!”, Ayahku terlihat begitu kesal.
“Ohhh…sekarang kau mencoba menyudutkanku di depan Adrian! Seolah membuat aku sebagai orang yang bersalah!”, Ibuku melipat tangannya dan memandang ayahku lurus.
“Kau benar-benar wanita yang tak tahu diri, Mirna!”, Ayahku mengepal tanganya. Wajahnya begitu terlihat berapi-api.
“Jika aku wanita tak tahu diri, lantas pria macam apa kau ini?”, ibu menyandarkan duduknya dan memalingkan wajahnya. Ia menarik nafas dan berkata “Bisa-bisanya Kau mengatai aku seperti itu sementara Kau telah menghancurkan keluarga ini! Menghancurkan kepercayaanku dan perasaanku, Edwin! Kau sungguh pria munafik!”. Aku bisa merasakan ada sesuatu tertahan dalam ucapan ibu. Menahan air matanya. Menahan sebuah kesakitan dari pengkhiantan.
“Seharusnya Kau sadar mengapa Aku lakukan ini! Kau sudah tidak pantas menjadi seorang istri atau ibu di sini! Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan?”. Ayah berdiri dan mebelakangi kami.
Aku yang masih kebingunan dengan apa yang telah terjadi merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang telah terjadi? Apa yang kalian bicarakan?”. Pertanyaanku tidak dijawab oleh ayah dan ibu. Ibu kini mulai menangis dan pergi masuk ke kamarnya.
Aku mencoba menyimpulkan sesuatu dari apa yang mereka katakan.
“Yah, Ada apa ini sebenarnya? Tolong katakana padaku, Yah?”
Ayah hanya diam saja. Dia bahkan tidak membalikan badannya dan menatapku. Aku berdiri dan menghadapi ayah.
“Kenapa kalian harus bercerai?”
“Adrian, Kau sudah dewasa! Seharusnya Kau bisa lebih peka dan tahu mengapa Ayah dan Ibu harus bercerai!”, Ayah pergi begitu saja entah ke mana.
Okay, jawaban macam apa itu?. Ah entahlah! Aku tidak tahu. Yah sebanarnya aku tidak peduli dengan perceraian mereka. Aku menduga ada yang selingkuh di antara Ayah dan Ibu. Dari situ aku berfikir, jika memang mereka sudah tidak merasa cocok dan tidak bisa bersama lagi, silahkan saja bercerai. Apa aku harus marah? Apa aku harus menuntut alasan dari meraka? Sepertinya tidak! Aku dan kakakku sudah dewasa, bukan waktunya lagi kami mengurusi urusan mereka—urusan yang kekanak-kanakkan. Katakanlah mereka saling mengkhianati satu sama lain, yah setidaknya mereka punya alasan. Jika ayahku tidak mau menjelaskannya atau ibuku tidak akan mengatakan apa yang terjadi, itu hak mereka. Di balik itu pasti ada yang terbaik buat aku dan kakakku. Tentunya terbaik buat ayah dan ibuku.
“Adrian, Kau mau ke mana rapi seperti itu?”, tanya Kakaku.
“Aku mau keluar cari udara segar!”
“Kau belum memberiku uang! Mana? Aku minta uangmu!”. Sudah kuduga kakakku akan berbicara seperti itu. Aku ambil dompetku dan mengekuarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Aku letakan uang itu di atas meja.
“Cuma tiga ratus ribu?”
“Memangnya mau berapa?”
“Buat Rindu mana?”
“Rindu tuh masih kecil! Dia belum tahu uang! Dan aku tidak mau memberinya uang dan mendidik dia mengenal uang di usianya yang masih 3 tahun! Nanti kalau sudah besar seperti ibunya lagi! Ngga ada! Lebih baik aku belikan dia mainan!”. Aku berlalu meninggalkan kakaku dan suaminya yang dari tadi hanya bengong saja.
to be continued..

