Rabu, 30 November 2011

Intimidate by an Addiction ( Requiem of A Dream )


      
            Loneliness might has something to do with an addiction. Well, setidaknya itulah yang bisa saya katakan setelah selesai melihat film besutan Darren Aronofsky, Requiem for a dream (2000). Ketergantungan akan sesuatu, sepeertinya adalah cara untuk mengisi kekosongan yang  ada dalam diri kita. Sebuah gambaran candu yang menarik berhasil Aronofsky sampaikan dengan jelas. Sebuah eksekusi yang tak biasa tentunya, dan sangat Aronofsky sekali. Dengan tehnik Camera-Back Shoulder,sedikit mengingatkan saya akan pergulatan jiwa Sang Angsa Hitam.
Sara Goldfarb, seorang ibu yang memiliki keinginan untuk tampil di televisi. Harry Goldfarb (Jared Leto), junkie dengan keinginan menciptakan uang sebanyak-banyaknya dengan cara menjual serbuk narkotik bersama temannya dan kekasihnya, Marion (Jennifer Connelly). Dengan Plot Summer, Fall, dan Winter, Darren Aronofsky memberikan analogi yang tepat akan cara kerja dan dampak dari sebuah rasa candu. Awalnya, semua akan terasa baik-baik saja di saat rasa candu akan sesuatu mengisi ruang kosong yang ada. Nampu tanpa disadari, kecanduan tidak melengkapi kekososangan itu, malah membuat diri kita terpuruk ke dalam kekosongan dan semakin dalam, semakin dalam, semakin mengitimidasi, semakin menyiksa. Pada akhirnya, kecanduan akan membawa kita kepada tempat yang tidak kita inginkan. Pada titik itu, kita tidak bisa melakukan apa-apa.
Penampilan Ellen Burstyn yang mengagumkan adalah bukti bahwa rasa candu adalah racun. Racun pelaraian. Darren Aronofsky memberikan klimaks yang pas dengan premis yang telah ia bangun, disertai anti klimaks dengan balutan original score dari Clint Mansell, membawa kita pada ending akan hidup yang menyedihkan.

The Verdict :

Make a seat as comfortable as possible. Prepare an injection. Grab a remote control. Roll your dollar. Push the power. Spread the drugs. Take a few of pills. Turn on the television. Turn the lighter on. And smoke. Feel yourself fly away and be free.

Selasa, 29 November 2011

IT’S MY MUSICAL!!!



These are a few of my favorite things
                Dancer in the Dark, judul yang terdengar sangat verbal dan me-representative-kan substansial film arahan Lars Von Trier ini, ternyata memiliki kontradiksi yang pekat dengan apa yang ada di pikiran kita ketika pertama kali mendengarnya atau membacanya. Mendengar kata Dancer, kita akan terbawa dalam alam pikiran bahwa film ini akan meceritakan tentang kehidupan seorang penari dengan perjuangannya, yang diwakili oleh keterangan in the dark. Ini juga bukan sebuah musical bodoh yang menyajikan tarian lemah gemulai, panggung dengan keriangan, dan musik yang bisa dinyanyikan bersama. Buang jauh-jauh dugaan itu. Kunci ekspektasimu, karena Dancer in the dark adalah film bergenre drama satir musical yang dalam dan menghanyutkan.
                Selma Jezkovic adalah Imigran Ceko yang menetap di Amerika. Selma seorang single mother. Dia bekerja sebagai buruh di sebuah industri peralatan stainless. Hidupnya sungguh berat. Dia harus bekerja dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Sebuah kondisi yang menyeramkan. Kegelapan menantinya. Dengan kondisinya itu, dia berkerja keras mengumpulkan uang untuk anaknya, Gene. Kondisi buruknya tersebut dialami pula oleh putranya. Dolar demi dolar Selma kumpulkan untuk membayar biaya operasi Gene agar putranya itu dapat merasakan masa depan yang terang dan bahagia. Selma senang sekali mengkhayal dirinya ada di sebuah musikal. Baginya tidak ada hal yang dapat membuatnya merasa lebih baik selain berhalusinasi tentang musikal. Khayalan itulah yang selalu membuatnya menari dalam masa-masa sulit. Sebuah pengorbanan penuh getir dan mengundang rasa iba. Pengorbanan seorang Ibu yang sangat mencintai anaknya melebihan apapun. Jauh sekali dengan premis musikal kebanyakan. Dancer in the dark tidak hanya sebatas itu saja, polemik ketidakadilan menjadi tulang punggung cerita. Pembelaan yang harus dilakukan membuka gerbang menuju akhir hidup seorang Dancer.
                Lars VonTrier jelas menyiapkan film ini untuk Bjork. Tidak ada actor yang sepertinya bisa memerankan karakter Selma Jezkovic semenawan, adorable, dan menyakinkan layaknya Bjork. Siapa yang tidak kenal Bjork. Selain piawai menciptakan lagu dengan warna yang unik dan nyentrik, ternyata Bjork mampu juga memberi nyawa pada karakter yang ia perankan. Parasnya yang innocent tapi menyembunyikan kegilaan yang terbaring di dalamnya, Bjork melahap naskah dengan sempurna. Sosoknya seolah menarik kita ke dalam sebuah lautan dan meneggalamkan kita hidup-hidup dan terdampar di sebuah pulau candu.  Bjork must be got double money. Selain berakting, dia menjadi composer music untuk proyek filmnya ini.
                The Verdict :
Dancer in the dark is definitely not just a musical. It’s genuinely dark. It contents with intrigue, tragedies, and faith... Bjork certainly hypnotized audience direct to the eyes. She did the terrific hyper job in one ballad..

Director : Lars von Trier
Writer : Lars von Trier
Casts : Bjork, Catherine Deneuve, David Morse and... 

Senin, 28 November 2011

“ Dead is The Ultimate Trick!”. Free is the Point…

Enter The Void (2009)


                Berawal dari perbincangan yang mengasikan antara saya, Menejer Takdir dan si asa ku wow Prima Taufik di salah satu tempat makan yang sangat efisien, Yogya Ekpress. Perbincangan kecil yang akhirnya mengarah kepada pembahsan film Gaspar Noe, Enter The Void dan pengusiran secara halus dari pihak tempat tersebut. Tentunya saya tidak akan curhat panjang lebar menceritakan apa yang kami perbincangkan. Dengan tema menyambut kedatangan T2 (Turis Tasik), Saya akhirnya mendapatkan Enter The Void.
Film pertama Noe yang pertama kali baru Saya nikmati ini berhasil membuat Saya terbuai selama 2 jam lebih. Banyak sekali unsur-unsur cinema yang memanjakan saya. Mulai dari pengenalan identitas film yang dihadirkan dengan penuh nuansa Techno, colorful, dan menghentak cukup mewakali unsur-unsur lain yang ada di dalam film ini, hingga ending yang memperkuat konsep yang diusung.
            Enter The Void bercerita tentang Oscar yang hidup dalam lingkaran hitam narkotika, dan mati di tangan kepolisian Jepang. Walaupun jasadnya telah tak bernyawa, namun arwahnya masih berkeliaran menjelajahi kehidupannya dan orang-orang yang sangat berarti di sekitarnya, khususnya adik perempuannya, Linda. Gaspar Noe menjadikan arwah penasaran Oscar sebgai sudut pandang film ini. Yang menarik lagi adalah, penglihatan kita disamakan dengan apa yang Oscar lihat. Kamera adalah mata Oscar dan Oscar adalah mata kita. Itulah spesifikasi yang menarik dari film ini. Tak lupa eksploitasi seksualitas sangat berperan  juga dalam mencipatakan satu kehidupan hitam nan penuh getir.
            Arwah Oscar menjelajahi setiap dimensi melalui benda-benda unik yang ada. Melalui luka dan cahaya, menembus dinding nista, menari bersama bayang masa lalu. Kematian membuatnya bebas. Suara dan warna film ini adalah kematian. Hal yang melekat di sekitarnya adalah kematian. Enter The Void adalah sebuah kematian.
            Hubungan kelam antara adik dan kakak di gambarkan di sini. Di kala adik bukan sekedar adik, atau kakak bukan sekedar kakak. Hubungan yang melebihi keintiman tertegaskan dengan gila. Jika kau berharap moral di sini, lupakan saja. Jika kau berharap air mata, buang tissue-mu. Ini bukan drama thriller psychology, bukan pula drama kelam. Enter The Void adalah sebuah kematian yang melahirkan kehidupan baru. Kesetian yang abadi. Cerminan kehidupan tak waras. Gila; adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Enter The Void.
             

           

Minggu, 27 November 2011

The Black Shadow

It where secret lies

#2
Hujan pun reda. Dan jam di dinding menunjukan pukul 8 malam. Sekarang aku benar-benar lapar dan ingin makan. Walaupun selera makanku masih belum kembali secara utuh, tapi bagaimanapun, aku dapat merasakan perutku sudah keroncongan. Soto ayam tadi sore masih tersimpan di meja makan. Namun sepertinya soto ayam itu sudah terlihat tidak segar. Ku mencium soto ayam itu, dan benar, aroma asam terasa pekat. Aku buang saja soto ayam itu. Aku membuka lemari es, melihat, apakah ada bahan makanan yang bisa aku olah secara cepat karena aku sudah sangat lapar. Aku termasuk pria mandiri. Selain aku bisa melukis, aku juga pandai memasak. Memasak kadang menjadi kebisaan yang sangat membantu jika tiba waktu seperti ini. Ku temukan sayuran, beberapa dagim ham, dan telor di dalam lemari es. Sepertinya semua itu bisa ku jadikan hidangan yang pas untuk makan siang dan makan malamku kali ini.
Aku dengar suara telepon di ruang televisi berdering. Aku yang sedang mengiris beberapa bawang merasa tanggung untuk berhenti sejenak menerima telepon masuk itu. Jadi aku biarkan mesin penjawab yang menjawabnya. Lalu ku dengar suara kekasihku, “ Sayang, malam ini aku tidak pulang. Tiba-tiba aku harus berangkat ke Jogja… Love you!”.
Satu pesan yang singkat, padat dan jelas. Bukan hal yang langka bagiku ditinggal sendiri di rumah. Kekasihku memang pekerja keras. Karena kerja kerasnya itulah, sekarang dia berada dititik pencapaiannya. Dia seorang pebisnis. Dia sangat ulet sekali. Dia seorang yang opurtunis. Dia tidak pernah menunda atau menolak setiap kesempatan yang datang kepadanya. Sudah menjadi resiko buatku memang untuk selalu ditinggal bisnis plesir olehnya. Aku dan kekasihku memutuskan untuk tinggal bersama. Kita tidak menikah. Kita memutuskan untuk tinggal bersama setelah kita berpacaran selama 6 bulan. Waktu yang singkat memang untuk mengambil keputusan tersebut. Dan perlu pemikiran yang matang untuk memmutuskan tinggal bersama tanpa status pernikahan. Budaya kita menyebut kami sebagai pasangan kumpul kebo. Tapi kita tidak peduli apa yang mereka bilang. Kita merasa ini bukan urusan mereka. Namun untungnya lingkungan tempat tinggal kami adalah lingkungan yang cuek. Lingkungan yang tidak saling mengenal tetangganya. Lingkungan individualis. Rumah ini adalah milik kekasihku. salah satu bukti keberhasilannya.Rumahnya sangat besar. Usianya 25 tahun, 3 tahun di atasku. Di usianya yang masih muda, dia sudah menjadi pebisnis yang sukses. Itu yang membuatku bangga padanya. Aku tidak pernah menyangka dapat menikmati hidup seperti ini. Kumpul kebo bersama sukseswan. Setelah kerja beberapa tahun di Korea Selatan, aku pulang ke Bandung, tempat kelahiranku, aku memutuskan untuk kuliah. Untuk meraih cita-citaku. Tabunganku selama 4 tahun dari pekerjaanku dulu, sepertinya cukup untuk biaya pendidikan hingga sarjana. Dan aku sangat bersyukur akan itu semua.
Aku panaskan wajan. Aku tuangkan minyak goreng secukupnya. Aku tumis irisan bawang merah dan bawang putih. Aromanya sangat harum sekali. Aromanya mulai membangkitkan selera makanku. Lalu ku masukan telor ayam ke dalam gorengan bawang. Tidak lama kemudian aku masukan nasi, irisan daging ham dan sayur mayur. Hingga tidak lama kemudian jadilah nasi goreng ham buatanku. Aku sajikan nasi goreng di atas piring. Aku bawa piring nasi goreng ke ruang televisi. Ku nyalakan televisi. Sambil menikmati acara tv, aku makan nasi goreng dengan lahap sekali. Ku pindahkan channel satu ke channel yang lain. Acara malam ini tidak ada yang menarik. Lalu ku putuskan untuk menyaksikan berita. Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, aku harus mengetahui berita perkembangan politik Nasional maupun Internasional. Itu pikirku. Sebelumnya aku tidak begitu menggemari acara berita. Karena yang aku rasakan berita jaman sekarang hanya memanfaatkan berita sebagai ekploitasi komersil. Media hanya membesarkan-besarkan berita demi menarik sebuah rating pemirsa dengan cara ‘mengadu domba’ tokoh lain dengan yang lain. Yah..aku mengerti semua itu penting untuk kelangsungan acara berita dan unsur menarik saja. Aku juga mengerti bahwa berita itu adalah hal yang sangat krusial. Namun kadang aku berfikir, lebih baik aku mendapatkan informasi dari media Internet saja, karena sangat mudah, praktis dan efisien.
Ku pindahkan channel tv ke News Channel yang terkenal di Indonesia. Satu Breaking News di bacakan. Di beritakan telah terjadi tindak pembunuhan. Berita kriminal itu menarik perhatiannku. Aku saksikan dengan seksama berita tersebut. Nafasku tidak teratur tiba-tiba. Mataku membesar ketakutan. Badanku gemetaran. Aku melihat sosok bayang hitam itu lagi. Aku melihat serpihan beling. Aku dapat merasakan air hujan menerpa tibuhku. Di kupingku terdengar suara amarah. Suara rintihan menyiksaku. Ku lihat celan jins yang tergeletak sembarangan. Ku lihat darah. Ku lihat muka yang tertawa mentertwakanku. Aku tersentak tiba-tiba. Nafasku kembali tak teratur. Ku pegang dadaku. Dengan cepat ku matikan televisi. Aku memcoba untuk menarik nafas dalam-dalam. Aku atur nafasku. Aku tenangkan diriku. Hal ini benar-benar menyiksaku. Entah apa ini. Apa ini yang disebut dengan traumatis?. Aku tidak mengerti. Yang aku tahu saat ini, aku ketakutan. Aku ambil segelas air putih dan ku minum dengan cepat. Aku berkeringat. Aku berjalan menuju kamarku. Lalu ku baringkan badanku di atas kasur. Suara-suara itu seakan samar-samar terdengar di telingaku. Di atas kasurku, aku masih mencoba untuk menenangkan diri. Kupalingkan pandanganku ke arah tasku yang tergelak di bed sofa kamarku. Aku pandangi tas itu. Tas kulit bewarna coklat. Aku tidak bisa seperti ini terus. Sudah beberapa hari ini aku merasa gundah seperti malam ini. Aku seakan dikejar-kejar oleh sesuatu. Sesuatu dari masa laluku. Masa lalaku sudah ku kubur dalam-dalam. Namun seakan masa lalu itu hidup dan bangkit kembali mengejarku. Aku bangkit dan duduk. Aku masih memandang tas kulit coklat milikku. Aku tarik nafas dalam-dalam kembali. Nafasku sudah mulai teratur. Aku bangkit dari dudukku. Aku berjalan menuju tas coklatku itu. Aku buka secara perlahan. Aku ambil Blackberryku, “ah..sial! batrainya habis!”. Aku lempar BB-ku ke atas kasur. Tadinya aku mau BBM-an untuk menghilangkan rasa tak tenangku. Tapi sialnya BB-ku mati. Aku malas untuk men-charging BB-ku. Entah kenapa, hal sekecil itu bisa terasa amat menyiksa. Aku harus mencari charger yang kadang aku lupa menyimpannya. Hal-hal kecil seperti itu saja dapat membuatku stress. Ditambah dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Aku benar-benar kesal. Aku tak suka semua ini. “ ANJINGGG!!!! ”.
Ku rebahkan tubuhku di bed sofa. Aku menangis. Masa lalu kembali hidup dipikiranku. Memori-memori yang membuatku sedih muncul seketika. Semua itu seakan mencekamku. Kali ini aku benar-benar sedang membutuhkan kehadiran kekasihku. aku tatap telepon yang ada di laci sudut kasurku. Apa aku meneleponnya?. Ah, aku tidak mau mengganngunya. Mungkin sekarang dia sedang meeting dengan relasi-relasinya. Air mataku sudah berhenti. Perasaanku mulai sedikit tenang. Walaupun jantungku masih berdetak kencang. Aku balikan badanku sambil menatap kosong. Aku seakan tak ada gairah. Di hawa dinginya malam, aku merasakan kehangatan di dadaku. Aku dapat merasakn belailan tangan yang membelai dadaku. Memainkan puting dadaku. Aku meraskan kenikmatan di situ. Aku memejamkan mata menghayati rasa nikmat yang berasal dari belain tangan. Aku dapat meraskan kecupan-kecupan di leherku. Ahhh..aku bisa merasakan sebuah bibir yang ditempelken di leherku dan memainkannya. Lalu aku dengar desahan nafas di telingaku. Aku membuka mataku.
            “Apa Kau menyesalinya?”, suara seorang pria berbisik di telingaku. Aku dapat merasakan dia menggesek-gesakan penisnya.
            “Menyesal untuk apa, Ramon?”. Jawabku pelan. Aku merasa terkunci tak bisa menggerakan badanku. Aku tak bisa berontak. “Kau bukan apa-apa lagi bagiku!”
            Tangan Ramon masih membelai dadaku. Tangannya merambat menuju leherku. Bibirnya masih menciumin leherku dan aku masih tak bisa berbuat apa-apa. Tangan Ramon membelai leherku kali ini.
            “Kau akan menyeselasinya!!!”. Ramon tiba-tiba mencekik leherku dengan kedua tangannya. Sekarang dia menindihiku. Mencekik leherku keras-keras. Aku tidak bisa bernafas. Aku melihat wajahnya penuh dendam. Matanya membesar. Nafasku terengah-engah. Dengan sekuat tenaga aku memcoba untuk melepaskan tangan kuat Ramon dari leherku. Aku tak mampu. Aku ikut mencekik leher Ramon, namun dia mampu menghindarinya. Dia semakin kuat mencekikku. Aku sekarat. Aku benar-benar sudah tidak bisa bernafas lagi.
“Kringgg…Kringggg..Kringggggg…”. Suara telepon berdering. Aku batuk-batuk. Aku seakan masih dapat merasakn cekikikan itu.  Aku tidak tahu apa yang terjadi. Apa aku bermimpi atau berhalusinasi. Itu semua sangat nyata. Aku dapat merasakan kehadiran Ramon. Aku benar-benar merasa ketakutan. Rasa takut ini tidak pernah aku alami sebelumnya. Aku tidak pernah seperti ini. Ini berawal setelah peristiwa pembunuhan itu.
            “Ayolah.. charge BB-mu!. Dari tadi aku coba menghubungimu! Malam ini aku akan menginap di tempatmu, yah! Aku butuh pendapatmu! Okay! Bye!”. Suara Wisnu teman kuliahku dari mesin penjawab.
Okay, setidaknya malam ini aku tidak sendirian. Ada Wisnu yang akan menginap. Aku sudah mulai tenang. Aku kembali menatap tas coklat yang terjatuh di lantai. Aku mengambilnya. Aku masukan tangganku ke dalam tasku. Aku ambil sebuah pistol. Aku bawa pistol itu menuju lemari pakaianku. Aku simpan pistolku itu di dalam laci lemari pakaianku. Aku kunci laci lemariku itu. Aku simpan kunci laci di bawah pakaianku yang terlipat rapih. Lalu aku tutup lemari pakaianku rapat-rapat..

Rabu, 23 November 2011

The Balck Shadow


1

            Kesakitan yang kurasa saat ini membuatku sangat terpuruk. Semua orang menyalahkanku atas apa yang aku rasakan. Bahkan di kala aku tidak melakukan apa-apa, ucapan dan tatapan orang-orang seakan memangsaku hidup-hidup. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Apa salah jika aku merasa kesal pada keadaan?. Apa salah jika aku merasa kecewa terhadap orang-orang yang ada di dekatku?. Tahukah kalian jika aku merasa kecewa terhadap diri sendiri?. Satu yang bisa aku harapkan untuk dapat melihat, merasakan dan mengerti perasaanku, kekasihku. Rasanya tidak salah jika aku mengaharapkan rasa simpati darinya. Aku bukan tipikal manusia yang pintar mencurahkan apa yang sedang aku rasakan. Aku pun tidak begitu pintar menggambarkan perasaanku. Di saat aku mencoba untuk mengutarakannya dan akhirnya dia tahu, kekasihku tidak bisa menjadi teman yang aku harapkan. Aku tidak kekurangan rasa cintanya. Aku merasa cukup mendapatkan rasa itu darinya. Namun ada kalanya, aku membutuhkan peranan yang sesungguhnya. Mungkin bentuk seperti itu yang tidak aku dapatkan.
            Di tengah rasa sakit hati yang menyesakan dada, aku tersudut dalam hening dan muramnya kamar. Perutku juga terasa lapar. Belakangan ini pola makanku tidak teratur. Selera makanku hilang. Sepulang kuliah, aku hanya mendengarkan musik dan membaca Kamus Panduan Belajar Bahasa Perancis Cepat. Konsentrasi dan fokusku entah sedang berada di mana?. Aku merasa kesal sekali. Rasanya seperti dadaku terhinmpit batu dan aku tidak bisa bernafas dengan normal. Langkahku pun kurasakan seperti orang tak normal, sempoyongan. Di meja makan, kekasihku telah menyiapkan makanan buatku. Soto ayam. Makanan favorit kami. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil piring, sendok dan garpu. Aku ambil nasi yang sudah ada di meja makan. Aku sinduk nasi ke atas piringku. Hanya satu kali sinduk, dan itu pun tidak banyak. Lalu terdiam sejenak. Aku bingung. Makan di ruang televisi atau di meja makan saja. Biasanya aku selalu makan sambil melihat tayangan televisi. Jarang sekali kami menggunakan meja makan untuk makan. Aku simpan piringku di meja makan. Aku berlalu menuju  ruang televisi. Dan beberapa saat kemudia aku kembali ke meja makan. Aku tarik kursi meja makan dan duduk. Aku dekatkan mangkok soto ayam dengan piring nasiku. Kemana nafsu makanku?. Aku tidak memasukan makanan ke dalam mulutku. Yang aku lakukan hanya memaminkan makananku. Mengaduk-ngaduk kuah soto. Membolak-balik daging ayam yang tenggelam dalam kuah soto yang kekuning-kuningan itu. Rasa sesak di dadaku masih ada. Kekesalan itu masih berdiam di diriku. Di tambah lagi, sebelum kekasihku keluar rumah, aku sempat adu mulut. Beradu argument tentang siapa yang paling egois, tentang nilai-nilai sebuah hubungan kekasih. Rasanya ingin kuteriakan saja dan membalikan semua ucapan dia ke mukannya, namun bagaimanapun aku tak sanggup mengatakannya. Dan aku tidak mau memperpanjang perdebatan. Biar saja, yang penting aku tahu satu hal, bahwa kekasihku adalah seorang anti kritik kelas kakap.
            Rasa sayang timbul melihat nasiku sudah tak karuan. Akhirnya aku memaksakan diri untuk membuka mulutku dan mengarahkan makanan masuk ke dalam kerongkongan melalui mulutku. Aku kunyah makanan dalam mulutku. Aku kunyah cukup lama. Sambil mengunyah, pikiranku tidak terisi oleh pikiran untuk menelan makanan itu, malah pikiranku tersugesti kalau, merokok adalah satu hal yang nikmat untuk dilakukan di tengah kekalutanku, kesakitanku, kekesalanku atau apalah. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan kata yang tepat. Aku merasa bagaikan kehidupanku telah diambil dan dibawa pergi. Kemudian aku mengambil rokok dan lighter dari dalam tasku. Aku duduk di ruang tv. Hasrat untuk menonton tv pun tak ada. Aku hanya ingin merokok, merokok dan merokok. Jantungku berdetak kencang. Sesak di dadaku tak kunjung hilang. Di kepalaku seakan diisi oleh sejuta pikiran yang entah datang dari mana?. Aku hisap terus rokokku. Tangan dan jari-jariku gemetaran. Rokok yang aku pegang terlihat goyang, ikut bergetar, namun aku tetap terus menghisap rorkokku itu. Ternyata benar, di saat kau merasa rumit dengan semuanya, dan tak ada yang bisa memahami keadaan, maka rokok adalah pelarian yang tepat untuk mencurhkan dan mengerti semuanya. Batang demi batang rokok tak terasa sudah memenuhi asbak. Dan pikiranku pun sudah mulai sedikit tenang. Namun rasa sesak di dada masih ada. Seakan batu besar masih kerasan di dadaku. Pikiranku menyulutkan ide buatku untuk mandi. Yah, sepertinya berendam air hangat cukup nikmat dilakukan di tengah cuaca sore kota Bandung yang mendung dan dingin. Aku menyiapkan air panas di dalam bath tube. Aku tanggalkan pakaianku. Sebelumnya, aku sudah membawa sebotol red wine milik kekasihku yang tersimpan di dalam lemari es. Aku mencurinya. Sebelumnya aku jarang sekali melakukan rendaman air hangat apalagi sambil menikamti wine. Aku tidak menggilai minuman ekstrak anggur ini. Tidak seperti kekasihku, yang gemar sekali meminum wine dan sering berendam air hangat. Tubuh telanjangku masuk ke dalam bath tube yang sudah terisi oleh air hangat, dan tangan kiriku memegang segelas anggur. Dengan berendam, aku harap pikiranku dan rasa sesak yang tak karuan ini bisa hilang dan aku kembali merasa normal.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Aku lakukan hal itu berulang-ulang. Sigh! Perlahan dadaku terasa ringan. Seakan batu itu mulai lunak. Ku teguk wine dan dapat kurasakan ketajaman sari buah anggur mengalir ke dalam tenggorakanku. Pikiran-pikiran yang ada di kepalaku serasa teratur bergerak, Tak ada lagi pikiran-pikiran suram dalam keplaku. Kehangatan air menyentuh tubuhku membuatku ingat akan kenikmatan yang rasanya sudah lama sekali tidak aku rasakan. Aku tersenyum. Aku pejamkan mataku. Aku bawa pikiran di kepalaku menuju tempat memori-memori indah. Aku teringat masa kecilku. Kebahagian yang murni sekali. Masa kecilku sangat menyenangkan. Aku berlari di lapangan yang luas. Bermain bola sepak bersama teman-temanku dulu. Senyum-senyum polos terpancar. Teriakan-teriakan penuh suka terdengar. Lingkungan yang asri tergambar dalam ilusiku. Aku gemar sekali menaiki pohon mangga milik tetanggaku bersama teman-temanku. Ingatanku seakan memproyeksikan gambaran masa-masa itu. Slide berganti. Pikiranku membawaku pada memori masa-masa bangku sekolah menengah atas. Aku sangat bahagia sekali waktu SMA. Aku memiliki teman banyak yang begitu perhatian padaku. Walaupun dulu aku adalah seorang yang cukup pendiam dan pemalu. Namun teman-temanku selalu berusaha membuatku menjadi seorang yang periang. Mereka mengajakku untuk melakukan hal-hal baru. Aku orang yang tidak pernah konsisten dengan sebuah kegemaran. Teman-temanku pernah mengenalkanku tentang dunia pecinta alam. Aku sempat menggemarinya, dan selalu tertantang untuk berpergian mendaki gunung. Namun seingatku, kegemaran pecinta alamku itu hanya bertahan selama 6 bulan saja. Pernah juga aku tertarik dengan dunia bersepeda. Ketika itu, pacarku adalah seorang yang hobi sekali bersepada dan memiliki komunitas bersepada yang punya nama CRC, singkatan dari Cycling Road Community. Kegiatan pacaranku adalah tidak lain dan tidak bukan bersepeda mengelilingi kota. Bersama teman-teman komunitasnya, aku dan pacarku pernah bersepeda Bandung-Pangandaran. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena menghabisakn waktu yang panjang. Aku tidak ingat berapa hari waktu yang kami tempuh saat itu. Yang aku ingat hanya setelah itu, hubunganku dengan pacarku Feni, kandas. Berakhirnya hubungan kami berimbas kepada kelangsungan kegemaranku terhadap dunia bersepeda. Lucu memang bila mengingatka hal semacam itu.
Aku membuka mataku dan kembali meneguk wine. Tawa kecil terbentuk di bibirku. Ku tatap langit-langit kamar mandi. Pikiranku ku biarkan bebas. Aku berharap aku dapat melihat proyeksi masa lalu yang indah kembali. Ku rasakan hawa sore sudah berganti malam dan dapat kudengar suara rintik hujan di luar. Kembali ku teguk wine-ku dan kembali dapat kurasakan wine membuat tubuhku tambah hangat. Rintikan hujan di luar ku dengar semakin keras. Hujan belakangan ini memang selalu deras, namun tak pernah berlangsung lama. Suara hujan di luar seolah menstimulasi pikiranku. Sambil kuperhatikan suara hujan, aku memejamkan kedua mataku kembali. Pikiranku sedikit kupaksa untuk membawa diriku membuka kembali berkas-berkas memori yang ku simpan di dalam otak kiriku. Aku melihat hujan turun dari langit membasahi jalanan. Membasahiku yang sedang berjalan sendirian. Kepala ku gerakan tak karuan. Mataku memejam kecut ketakutan. Air hujan terus menyerang tubuhku hingga ku basah kuyup. Lalu aku melihat serpihan beling berserakan di lantai. Aku melihat celana jins yang tergeletak sembarangan di atas sofa. Sosok wajah penuh nafsu binatang terlihat sangat jelas dan terasa sangat dekat dengan wajahku. Aku melihat bayangan hitam seorang. Aku mendengar suara amarah. Aku mendengar suara rintihan dan kenikmatan iblis. Tubuhku terkoyak-koyak. Dan kudengar suara gelas jatuh. Aku membuka kedua mataku. Nafasku tak beraturan. Aku melihat pecahan beling di atas lantai kamar mandi dan diwarnai oleh warna merah wine. Aku memcoba mengatur nafasku dan memcoba untuk tenang. Entah mengapa memori hitam itu menyelinap ke dalam pikiranku dan membuatk jantungku berdebar kencang. Aku basuh mukaku dengan air hangat, lalu kubenamkan kepalaku tenggelam terbaring di dasar bath tube.

Bersambung…

*****

Senin, 21 November 2011

"This Rock Has Been Waiting For Me For My Entire Life.."


127 Hours
                Terjebak dalam tebing tanpa seorang pun yang mengetahuinya apalagi menolongnya, Aron Ralston bertahan hidup dalam waktu 127 jam.  Dengan tangan terhimpit batu besar, Aaron tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan perbekalan yang dibawa, dia berusaha untuk membebaskan tangannya dari himpitan batu besar itu.  Sudah semua cara ia lakukan agar dapat bebas. Namun nampaknya semua itu sia-sia dan berakibat membuat kondisinya semakin buruk. Rasa frustasi dan putus asa membawa dirinya untuk mengambil satu keputusan dalam pilihan antara menyerah lalu mati begitu saja atau kehilangan tangannya?
                Cerita nyata pendaki ini berhasil mendapatkan beberapa nominasi Oscar, dan di antaranya nominasi Best Picture. Setelah suskes membawa Anjing Kampung Millioner menang sebagai Best Picture 2009, menumbangkan The Curios Case of Benjamin Button (David Fincher), Danny Boyle kembali berhasil menarik perhatian juri Oscar lewat biopik singkat tentang perjuangan dan penderitaan Aaron Raslton yang sempat dibukukan dengan nama Between Rock and Hard Place yang ditulis langsung oleh Aron Ralston. Kemudian buku ini berubah menjadi film dan diberi judul 127Hours.
                Danny Boyle begitu kompeten melakuan eksekusi dalam tipikal one man show. Dia tahu apa yang harus ia lakukan di film ini. Dia sudah bisa membacanya kalau proyeknya ini harus seperti ini dan seperti itu.  Boyle membuat premis yang mencolok dan sangat mudah diartikan. Pengenalan sang tokoh ia tegaskan melalui gimmick opening yang sangat efesien , belum juga menarik.  Gambaran emosi  film ini sangat tertatur dan konsisten. Hampir tidak ada boring  sequences di sini. Danny Boyle memberikan hiburan melalui imajinasi seorang yang akan menghadapi ajalnya dan sekaligus memberikan rasa iba dalam setiap memori manusia biasa menjadi bayang-bayang ilusi yang menyedihkan. Itu tidak memberikan kesan bahwa emosi kita dibuat campur aduk atau panik, melainkan menjadi satu rasa baru di mana emosi itu diambil, di-treat, disiapkan, dan diarahkan kepada arah yang mengerikan. Dengan vibe yang cukup mendebarkan, akhir film ini memberikan klimaks yang baik. Tidak lupa campur tangan A.R Rahman. Theme song yang ada, membantu menbangun intensitas feel film ini.
                Spotlight tertuju kepada James Franco.  Pemilik paras maskulin ini dipercaya memerankan karakter Aron Ralston. All eyes on him! Head to toe! Penampilan yang dia berikan bukan hal yang mengecewakan namun juga bukan satu penampilan yang luar biasa. Tidak ada tantangan baginya untuk mengeksplor apa yang telah ia miliki. Tidak heran jika ia tidak berhasil dalam Oscar tahun lalu, baik dari acting ataupun hosting. Ooppss!! Walaupun seperti itu adanya, James Franco gave some part would remain in a head. He successfully became a stranger for two lost Climbers. What a mean! Ooppss!!.
                The Verdict :
                Captivating in every shot and tones.
            It’s the right choice if you think Buried is excellent.


Director : Danny Boyle 
Casts : James Franco, Kate Mara and Amber Tamblyn