 |
| It where secret lies |
#2
Hujan pun reda. Dan jam di dinding menunjukan pukul 8 malam. Sekarang aku benar-benar lapar dan ingin makan. Walaupun selera makanku masih belum kembali secara utuh, tapi bagaimanapun, aku dapat merasakan perutku sudah keroncongan. Soto ayam tadi sore masih tersimpan di meja makan. Namun sepertinya soto ayam itu sudah terlihat tidak segar. Ku mencium soto ayam itu, dan benar, aroma asam terasa pekat. Aku buang saja soto ayam itu. Aku membuka lemari es, melihat, apakah ada bahan makanan yang bisa aku olah secara cepat karena aku sudah sangat lapar. Aku termasuk pria mandiri. Selain aku bisa melukis, aku juga pandai memasak. Memasak kadang menjadi kebisaan yang sangat membantu jika tiba waktu seperti ini. Ku temukan sayuran, beberapa dagim ham, dan telor di dalam lemari es. Sepertinya semua itu bisa ku jadikan hidangan yang pas untuk makan siang dan makan malamku kali ini.
Aku dengar suara telepon di ruang televisi berdering. Aku yang sedang mengiris beberapa bawang merasa tanggung untuk berhenti sejenak menerima telepon masuk itu. Jadi aku biarkan mesin penjawab yang menjawabnya. Lalu ku dengar suara kekasihku, “ Sayang, malam ini aku tidak pulang. Tiba-tiba aku harus berangkat ke Jogja… Love you!”.
Satu pesan yang singkat, padat dan jelas. Bukan hal yang langka bagiku ditinggal sendiri di rumah. Kekasihku memang pekerja keras. Karena kerja kerasnya itulah, sekarang dia berada dititik pencapaiannya. Dia seorang pebisnis. Dia sangat ulet sekali. Dia seorang yang opurtunis. Dia tidak pernah menunda atau menolak setiap kesempatan yang datang kepadanya. Sudah menjadi resiko buatku memang untuk selalu ditinggal bisnis plesir olehnya. Aku dan kekasihku memutuskan untuk tinggal bersama. Kita tidak menikah. Kita memutuskan untuk tinggal bersama setelah kita berpacaran selama 6 bulan. Waktu yang singkat memang untuk mengambil keputusan tersebut. Dan perlu pemikiran yang matang untuk memmutuskan tinggal bersama tanpa status pernikahan. Budaya kita menyebut kami sebagai pasangan kumpul kebo. Tapi kita tidak peduli apa yang mereka bilang. Kita merasa ini bukan urusan mereka. Namun untungnya lingkungan tempat tinggal kami adalah lingkungan yang cuek. Lingkungan yang tidak saling mengenal tetangganya. Lingkungan individualis. Rumah ini adalah milik kekasihku. salah satu bukti keberhasilannya.Rumahnya sangat besar. Usianya 25 tahun, 3 tahun di atasku. Di usianya yang masih muda, dia sudah menjadi pebisnis yang sukses. Itu yang membuatku bangga padanya. Aku tidak pernah menyangka dapat menikmati hidup seperti ini. Kumpul kebo bersama sukseswan. Setelah kerja beberapa tahun di Korea Selatan, aku pulang ke Bandung, tempat kelahiranku, aku memutuskan untuk kuliah. Untuk meraih cita-citaku. Tabunganku selama 4 tahun dari pekerjaanku dulu, sepertinya cukup untuk biaya pendidikan hingga sarjana. Dan aku sangat bersyukur akan itu semua.
Aku panaskan wajan. Aku tuangkan minyak goreng secukupnya. Aku tumis irisan bawang merah dan bawang putih. Aromanya sangat harum sekali. Aromanya mulai membangkitkan selera makanku. Lalu ku masukan telor ayam ke dalam gorengan bawang. Tidak lama kemudian aku masukan nasi, irisan daging ham dan sayur mayur. Hingga tidak lama kemudian jadilah nasi goreng ham buatanku. Aku sajikan nasi goreng di atas piring. Aku bawa piring nasi goreng ke ruang televisi. Ku nyalakan televisi. Sambil menikmati acara tv, aku makan nasi goreng dengan lahap sekali. Ku pindahkan channel satu ke channel yang lain. Acara malam ini tidak ada yang menarik. Lalu ku putuskan untuk menyaksikan berita. Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, aku harus mengetahui berita perkembangan politik Nasional maupun Internasional. Itu pikirku. Sebelumnya aku tidak begitu menggemari acara berita. Karena yang aku rasakan berita jaman sekarang hanya memanfaatkan berita sebagai ekploitasi komersil. Media hanya membesarkan-besarkan berita demi menarik sebuah rating pemirsa dengan cara ‘mengadu domba’ tokoh lain dengan yang lain. Yah..aku mengerti semua itu penting untuk kelangsungan acara berita dan unsur menarik saja. Aku juga mengerti bahwa berita itu adalah hal yang sangat krusial. Namun kadang aku berfikir, lebih baik aku mendapatkan informasi dari media Internet saja, karena sangat mudah, praktis dan efisien.
Ku pindahkan channel tv ke News Channel yang terkenal di Indonesia. Satu Breaking News di bacakan. Di beritakan telah terjadi tindak pembunuhan. Berita kriminal itu menarik perhatiannku. Aku saksikan dengan seksama berita tersebut. Nafasku tidak teratur tiba-tiba. Mataku membesar ketakutan. Badanku gemetaran. Aku melihat sosok bayang hitam itu lagi. Aku melihat serpihan beling. Aku dapat merasakan air hujan menerpa tibuhku. Di kupingku terdengar suara amarah. Suara rintihan menyiksaku. Ku lihat celan jins yang tergeletak sembarangan. Ku lihat darah. Ku lihat muka yang tertawa mentertwakanku. Aku tersentak tiba-tiba. Nafasku kembali tak teratur. Ku pegang dadaku. Dengan cepat ku matikan televisi. Aku memcoba untuk menarik nafas dalam-dalam. Aku atur nafasku. Aku tenangkan diriku. Hal ini benar-benar menyiksaku. Entah apa ini. Apa ini yang disebut dengan traumatis?. Aku tidak mengerti. Yang aku tahu saat ini, aku ketakutan. Aku ambil segelas air putih dan ku minum dengan cepat. Aku berkeringat. Aku berjalan menuju kamarku. Lalu ku baringkan badanku di atas kasur. Suara-suara itu seakan samar-samar terdengar di telingaku. Di atas kasurku, aku masih mencoba untuk menenangkan diri. Kupalingkan pandanganku ke arah tasku yang tergelak di bed sofa kamarku. Aku pandangi tas itu. Tas kulit bewarna coklat. Aku tidak bisa seperti ini terus. Sudah beberapa hari ini aku merasa gundah seperti malam ini. Aku seakan dikejar-kejar oleh sesuatu. Sesuatu dari masa laluku. Masa lalaku sudah ku kubur dalam-dalam. Namun seakan masa lalu itu hidup dan bangkit kembali mengejarku. Aku bangkit dan duduk. Aku masih memandang tas kulit coklat milikku. Aku tarik nafas dalam-dalam kembali. Nafasku sudah mulai teratur. Aku bangkit dari dudukku. Aku berjalan menuju tas coklatku itu. Aku buka secara perlahan. Aku ambil Blackberryku, “ah..sial! batrainya habis!”. Aku lempar BB-ku ke atas kasur. Tadinya aku mau BBM-an untuk menghilangkan rasa tak tenangku. Tapi sialnya BB-ku mati. Aku malas untuk men-charging BB-ku. Entah kenapa, hal sekecil itu bisa terasa amat menyiksa. Aku harus mencari charger yang kadang aku lupa menyimpannya. Hal-hal kecil seperti itu saja dapat membuatku stress. Ditambah dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Aku benar-benar kesal. Aku tak suka semua ini. “ ANJINGGG!!!! ”.
Ku rebahkan tubuhku di bed sofa. Aku menangis. Masa lalu kembali hidup dipikiranku. Memori-memori yang membuatku sedih muncul seketika. Semua itu seakan mencekamku. Kali ini aku benar-benar sedang membutuhkan kehadiran kekasihku. aku tatap telepon yang ada di laci sudut kasurku. Apa aku meneleponnya?. Ah, aku tidak mau mengganngunya. Mungkin sekarang dia sedang meeting dengan relasi-relasinya. Air mataku sudah berhenti. Perasaanku mulai sedikit tenang. Walaupun jantungku masih berdetak kencang. Aku balikan badanku sambil menatap kosong. Aku seakan tak ada gairah. Di hawa dinginya malam, aku merasakan kehangatan di dadaku. Aku dapat merasakn belailan tangan yang membelai dadaku. Memainkan puting dadaku. Aku meraskan kenikmatan di situ. Aku memejamkan mata menghayati rasa nikmat yang berasal dari belain tangan. Aku dapat meraskan kecupan-kecupan di leherku. Ahhh..aku bisa merasakan sebuah bibir yang ditempelken di leherku dan memainkannya. Lalu aku dengar desahan nafas di telingaku. Aku membuka mataku.
“Apa Kau menyesalinya?”, suara seorang pria berbisik di telingaku. Aku dapat merasakan dia menggesek-gesakan penisnya.
“Menyesal untuk apa, Ramon?”. Jawabku pelan. Aku merasa terkunci tak bisa menggerakan badanku. Aku tak bisa berontak. “Kau bukan apa-apa lagi bagiku!”
Tangan Ramon masih membelai dadaku. Tangannya merambat menuju leherku. Bibirnya masih menciumin leherku dan aku masih tak bisa berbuat apa-apa. Tangan Ramon membelai leherku kali ini.
“Kau akan menyeselasinya!!!”. Ramon tiba-tiba mencekik leherku dengan kedua tangannya. Sekarang dia menindihiku. Mencekik leherku keras-keras. Aku tidak bisa bernafas. Aku melihat wajahnya penuh dendam. Matanya membesar. Nafasku terengah-engah. Dengan sekuat tenaga aku memcoba untuk melepaskan tangan kuat Ramon dari leherku. Aku tak mampu. Aku ikut mencekik leher Ramon, namun dia mampu menghindarinya. Dia semakin kuat mencekikku. Aku sekarat. Aku benar-benar sudah tidak bisa bernafas lagi.
“Kringgg…Kringggg..Kringggggg…”. Suara telepon berdering. Aku batuk-batuk. Aku seakan masih dapat merasakn cekikikan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Apa aku bermimpi atau berhalusinasi. Itu semua sangat nyata. Aku dapat merasakan kehadiran Ramon. Aku benar-benar merasa ketakutan. Rasa takut ini tidak pernah aku alami sebelumnya. Aku tidak pernah seperti ini. Ini berawal setelah peristiwa pembunuhan itu.
“Ayolah.. charge BB-mu!. Dari tadi aku coba menghubungimu! Malam ini aku akan menginap di tempatmu, yah! Aku butuh pendapatmu! Okay! Bye!”. Suara Wisnu teman kuliahku dari mesin penjawab.
Okay, setidaknya malam ini aku tidak sendirian. Ada Wisnu yang akan menginap. Aku sudah mulai tenang. Aku kembali menatap tas coklat yang terjatuh di lantai. Aku mengambilnya. Aku masukan tangganku ke dalam tasku. Aku ambil sebuah pistol. Aku bawa pistol itu menuju lemari pakaianku. Aku simpan pistolku itu di dalam laci lemari pakaianku. Aku kunci laci lemariku itu. Aku simpan kunci laci di bawah pakaianku yang terlipat rapih. Lalu aku tutup lemari pakaianku rapat-rapat..