Rabu, 19 Februari 2014

Ngidam Gurame, Ingat Sindang Reret




Bandung dikenal sebagai destinasi yang memiliki daya tarik para wisatawan nusantara. Ibu Kota Jawa Barat ini memiliki daya pikat yang eksotis, permai dan damai. Dikelilingi oleh pegunungan membuat Bandung terasa sangat sejuk. Tujuan wisata yang asri pun menjadi hipnotis tersendiri untuk mereka yang ingin menghabisi waktu liburan bersama keluarga dan orang tersayang. Sebut saja Tangkuban Perahu yang berletak di daerah Lembang, Bandung Utara dan Kawah Putih yang menghampar mempesona di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan. Kedua tujuan pariwisata ini adalah warisan alam yang mampu membawa para penikmat travel nusantara bahkan dunia untuk singgah di Kota yang memiliki julukan Kota Kembang.

Selain suhu yang sejuk, tempat wisata yang mengundang decak takjub, Bandung adalah surga bagi penikmat kuliner. Jika anda berwisata ke Bandung, anda akan menemukan banyak sekali aneka jajanan khas Bandung, atau makanan kreasi unik yang belum pernah anda nikmati. Rasanya akan sangat kurang sekali jika anda berkujung ke Bandung tanpa mencicipi hindangan khas sunda yang sangat terkenal. Atau, untuk yang merasa dibesarkan di Bandung, pastinya lidah anda sudah tidak sabar menahan rasa kangen anda akan masakan khas sunda.

Masakan khas sunda dikenal dengan aneka sayuran segar yang sering dijadikan teman hidangan utama yang sedap. Sayuran yang disajikan dengan mentah dikenal dengan lalab. Biasanya lalab ini disajikan bersama menu utama. Bukan makanan khas sunda namanya jiga tidak menyajikan hidangan ikan. Banyak sekali olahan sunda yang menjadikan ikan sebagai menu utama yang lezat.

Bagi anda para wisatawan yang berniat untuk mengujungi kota parahyangan ini, jangan sampai melewatkan sebuah hindangan khas sunda dari menu Rumah Makan Sindang Reret. Penikmat menu sunda, sangat direkomendasikan untuk mencicipi hindangan Ikan Gurame dari Rumah Makan Sindang Reret yang terletak di kawasan perkotaan Kota Bandung (Jl. Surapati 53 - Depan Gedung Sate).

Ikan Gurame Kering adalah salah satu menu yang harus anda coba. Jika kita lihat dari cara penyajian yang sederhana namun mengguggah selera, Ikan Gurame Goreng Kering ini dihidangkan dengan cara modern, yaitu ikan gurame ini dipotong fillet. Nampak sekali kesan classy dari cara penghindangannya. Tentunya citra rasa khas sunda tidak dihilangkan. Agar santap anda terasa lebih nikmat, sajian Ikan Gurame Goreng Kering ini bisa anda nikmati dengan sentuhan rasa dari sambal terasi yang bisa membuat lidah anda bergoyang. Atau anda bisa memilih aneka sambal yang anda inginkan, seperti sambal kecap atau sambal dadak. Citra rasa sunda yang sempurna bisa anda nikmati dengan merasakan gurame goreng kering, sambal dalam paduan nasi timbel yang pulen. Dan menariknya lagi, anda tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk menikmati menu gurame goreng kering ini.

Jika anda berkujung ke Rumah Makan Sindang Reret, tidak hanya lidah anda saja yang dipuskan oleh nuansa sunda, tetapi suasana Rumah Makan Sindang Reret memberikan suasana sunda yang selalu membuat anda betah (hommy). Jika anda sudah tidak sabar lagi untuk berlibur ke Kota Bandung dan menikmati esensi nuansa parahyangan, silahkan mampir ke Rumah Makan Sindang Reret, Bandung.

Djati.

posted from Bloggeroid

Senin, 23 Desember 2013

I ALWAYS WANTED TO BE IN THE MOVIES

"Love conquers all. Every cloud has a silver lining. Faith can move mountains. Love will always find a way. Everything happens for a reason.Where there is life, there is hope"

Sebelum kisah kasus pembunuhan Zodiac difilmkan, kronikel hidup Aileen Wournus terlebih dahulu dipaparkan dalam bentuk gambar bergerak. Seorang pelacur yang terjebak dalam dunia kriminal yang kelam sekaligus mengundang simpati akan kehidupan yang dijalaninya. Dalam film arahan Patty Jenkins yang juga merangkap sebagai penulis film ini, harapan Aileen untuk bisa tampil di dalam film "terwujud".

Perempuan dengan perawakan yang besar, paras sangar, dihiasi dengan hati yang tulus, dan di dalamnya hidup sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang tidak ingin kita jumpai, yang tidak ingin kita ketahui keberadaanya. Satu kata yang mampu menghapus senyuman. Satu kata yang pas untuk menggambarkan Aileen yang kejam, satu kata yang kita kenal dengan Monster.

Jika ada orang yang bilang hidup itu mudah, well, mereka hanya beruntung dan belum melihat bagaimana kerasnya hidup yang dijalani oleh Aileen.

Seperti biasanya, Aileen berdiri di pinggir jalan mencari pria-pria yang haus akan birahi atau sensasi atau... tak puas dengan istri. Malam itu berbeda dengan malam biasanya. Dengan motivasi cintanya pada Shelby, Aileen tidak sabar untuk bisa mendapatkan uang dan pergi memulai hidup lebih baik dengan orang yang ia sayang. Tangan kekarnya itu ia ayunkan untuk mendapatkan pelanggan. Sebuah mobil berhenti di hadapannya. Tanpa banyak bicara Aileen masuk dan duduk di samping pria pemegang kemudi.

Aileen tidak suka berbasa-basi. Dengan cepat dia menawarkan jasa untuk membuat pria itu senang. Malam itu benar tidak seperti malam biasanya. Sang pelanggan meminta Aileen untuk melakukan yang bukan biasanya ia lakukan. Situasi menegang. Kekerasan pun diterima Aileen. Pria penuh nafsu itu menjadi brutal dan meyiksa Aileen hingga lemas, tak berdaya. Di saat itulah, hal yang terkubur di dalam diri Aileen keluar. Untuk pertama kali Aileen menodai tangannya dengan darah segar.

Sebuah gambaran hidup yang sangat sarat dengan pesan sosial dan moral. Masyarakat memang selalu memandang bahwa pelacur adalah pekerjaan yang hina. Dan terkadang mereka tidak peduli dengan latar belakang yang meyebabkan seorang wanita terjerumus dalam dunia kelam itu. Parahnya, ketika seorang pelacur mencoba untuk menjadi benar, kadang kala masyarakat masih tetap tidak bisa menerimanya.

Patty Jenkins dengan sangat mulus berhasil memberikan gambaran betapa kerasnya hidup yang dijalani oleh Aileen. Dialog-dialog yang kasar yang ia tulis berhasil mendeskripsikan sosok Aileen Wournus dengan tepat. Tidak hanya itu saja, Jenkins menampilkan kisah cinta yang tak biasa dan berakhir tragis.

Aileen Wournus berreinkarnasi dalam tubuh semampai dan anggun yang di miliki oleh Charlize Theron. Totalitas Theron dengan kasat mata terlihat. Ia berhasil menaikan berat badannya untuk kembali menghidupkan Sang Monster.

Yang menarik adalah, Theron begitu menyatu dengan karekter ini. Bagaimanapun wanita adalah makhluk yang lembut dan tidak bisa dipisahkan dari predikat feminimnya. Sosok Aileen sangat jauh dari feminin, tapi senyum Theron berhasil memberikan predikat tersebut. Hal ini adalah yang membuat saya merasa, apapun tindakan biadab yang telah ia lakukan, dia tetap seorang wanita. Seorang wanita yang ingin hidup normal. Sungguh penampilan yang luar biasa yang diberikan oleh Theron. Academy telah mengamininya sehingga gelar Best Actress berhasil didapatnya untuk setiap tatapan mata yang tajam ketika dia harus membunuh.

Monster, sebuah biopik kriminal yang akan membuatmu simpatik dan terkesan melihat sebuah pencapaian yang dilakukan oleh Charlize Theron.

posted from Bloggeroid

Selasa, 26 November 2013

REMEMBER WHO THE REAL ENEMY IS!






Nama Francis Lawrence sebelumnnya kita kenal sebagai sutradara video klip manca negara. Kehandalannya dalam menggarap video musisi dunia membawa nama Francis Lawrence mentereng di dunia industri perfilman Hollywood. Di tahun 2005, beliau dipercaya men-direct Keanu Reeves dan Rachel Weiz untuk genre fantasy, Constantine, lalu disusul dengan proyek survival I am Legend pada tahun 2007. Kredibelitas yang ia miliki sepanjang karirnya, mampu membuat pihak Liongate melirik sutradara kelahiran Austria ini untuk menangani proyek film based on science fiction Novel karangan Suzanne Collins, Catching Fire, babak kedua dari Novel yang fenomenal itu, The Hunger Games.

Gary Ross adalah nama yang membawa halaman demi halaman The Hunger Games ke layar lebar dengan begitu membosankan. Padahal, di dalam proyek film ini bertebaran banyak potensi yang mampu membangkitkan selera pecinta film. Adalah Jennifer Lawrence yang dipercaya untuk memberi spirit karakter fiktif Katnis Everdeen, namun performa yang nampak adalah sia-sia. Kemudian, unsur politik dan otoriter pihak Capitol dipersembahkan dengan penuh basa-basi dan tidak adanya impressive-strategy di dalam Hunger Games. Sehingga, permainan yang ditakuti berubah menjadi bak nina bobo.

Keluar sebagai pemenang Hunger Games yang ke 74, Katnis dan Peeta harus menjalani setiap ketentuan yang dibuat oleh Presiden Snow. Sandiwara mereka tercium, cukup untuk membuat Katnis panik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dampak Hunger Games meninggalkan trauma tersendiri untuk Katnis. Kedua Lawrence berhasil menyampaikan kesan kejamnya kebijakan pihak Capitol akan Hunger Games itu. Sungguh mengejutkan.

Catching Fire adalah tempat di mana Jennifer Lawrence membuktikan bahwa dia adalah bunglon. Dan kita bisa melihat wajah baru Jennifer Lawrence setelah Oscar mengganjarnya untuk amarah, teriakan, dan tatapan bola mata gila di sebuah dinning lewat Silver Lining Playbook.

Di tangan Francis Lawrence, babak kedua saga ini terasa terkonsep dan tahu arah. Memang, alurnya cenderung sama dengan babak sebelumnnya, tetapi ada hal yang tidak dimilili oleh putaran pertama. Kembali bahwa ini adalah permainan hidup dan mati, Francis Lawrence berhasil menampilkan aspek emotional dan mental breakdown yang pekat. Ternyata tidaklah mudah mendapatkan gelar juara. Konflik batin itu terasa nyata ketika Katnis harus melihat seorang kakek di eksekusi untuk sekedar bersuara jujur. Adegan itu juga sangat memberikan pengertian betapa jahatnya Capitol dan sengsaranya menjadi orang-orang Distrik Panem. Untuk yang kecewa dengan upaya Gary Ross, apa yang dilakukan Francis Lawrence adalah sebuah layangan maaf.

Pelan-pelan Francis Lawrence memaparkan kehidupan pasangan juara The Hunger Games dari sebuah traumatis dan romansa menuju central film ini. Quarter Quell adalah mimpi buruk yang harus dijalani lagi oleh Katnis serta perwakilan semua distrik. Sebelum memasuki arena, lagi-lagi kita disuguhkan kualitas akting Jennifer Lawrence. Babak kedua ini sangat memukul emosianal seorang Katnis. Dan pada saat jam itu nyala dan berjalan mundur, pertarungan singkat pun terjadi. Intensitas arena bertumbuh dewasa. Katnis tidak lagi terlihat begitu beruntung. Kecurigaan bercampur dengan arena hidup dan mati. Kemunculan karekter Finnick yang mengundang kewaspadaan serta Joanna yang begitu eksentrik dan free,ditambah karakter pasangan jenius yang dikombinasikan dengan tipikal permainan Quater Quell adalah ornamen yang digarap Francis Lawrence dengan apik, mebuat Quater Quell sebagai persembahan yang bergizi baik. Menjadikan Katnis sebagai target Capitol adalah langkah yang tepat untuk mengecoh sang presiden Snow. Capitol telah membabat habis distrik 12. Kini yang tersisa hanya tinggal pion-pion pemberontak yang siap berperang dalam medan hitam dan putih.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 23 November 2013

DON'T FUCK WITH THE ORIGINAL




Wes Craven sukses menghentak spectacle belia dengan karya horrornya yang terkenal itu. Tentang rentetan peristiwa pembunuhan sadis yang memakan korban-korban remaja yang tak berdosa. Pelaku yang memiliki kelainan jiwa dengan motif balas dendam, dengan sangat cerdik dan triky, Wes Craven masuk bersama ide di rumah sendirian, telepon berdering, suara parau orang asing, dan wajah di balik topeng Ghostface. Ide tersebut sangat membekas di kenangan setiap orang yang terbawa hanyut oleh kesadisan dan misteri akan wajah yang tersembunyi dalam topeng yang iconic itu. Berjubah hitam, bertopeng setan, dan pisau tajam, dibawa oleh Wes Craven sejajar dengan tokoh horror legend besutannya juga, yaitu, Freddy Kruger. Bahkan, cerita yang diemban olehnya di kota Woodsborrow lebih menarik dan real ketimbang mati dalam sebuah skenario mimpi buruk yang terkesan "Really?".

Karyanya ini dapat diakui menghasilkan keturunan yang identik. Dengan aspek komersil yang sama, Wes Craven memicu penggelut lain genre ini membuat atau mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Sebut saja yang sangat familiar di telinga kita seperti, Urban Legend yang beranak pinang dan diberi nama panjang Final Cut serta Bloody Marry. Sebelumnya, ada I Know What You Did Last Summer yang nampaknya belum mencapai level bloodgasm, sehingga sequelnya di beri judul I STILL Know What You did Last Summer. Lalu masih ada juga beberapa judul yang menetas dan mengusung ide serupa, seperti peristiwa kolam berdarah The Pool, dan sebuah malam untuk diingat berubah menjadi maut dalam Prom Night. Mereka seakan mengkiblatkan diri kepada karya Wes Craven di tahun 1996 yang kita kenal dengan, Scream.

Sebuah loncatan masa yang cukup jauh setelah Wes Craven sukses merusak citra cult horror yang dibuatnya sendiri dengan meneruskan kisah Sidney Prescott yang tak kunjung usai dalam 3 jilid. Dalam kurun waktu 8 tahun setelah jilid 3 dirilis, Wes Craven membenamkan dirinya menyutradai beberapa film yang cukup dikenal. Red Eye (2005) dan ikut ambil porsi penyutradaraan dalam romansa kota di mana menara Eifel berdiri prestis, Paris, Je t'aime (2006). Hingga akhirnya, setelah 8 tahun darah yang bercucuran di tangan Ghostface pudar, Wes Craven kembali mengangkat pisau tajam itu, membunuh siapapun yang ingin ia bunuh dan mencoba kembali mencari darah segar melalui sebuah motif anyar. Tahun 2011 adalah tahun di mana Woodsborrow kembali berteriak untuk ke-4 kalinya.

Kembali bersama Kevin Williamson yang menulis cerita jilid 4 ini, Wes Craven memberikan sebuah penyesuaian zaman dalam rules yang telah dianut sebelumnya. Dibuka dengan gimmick Facebook Stranger yang diduga sebagai pembunuh berdarah dingin, sangat jelas sekali bahwa Craven 'mencintai' perkembangan kehidupan usia belia dan bagaimana dengan jelas juga ia memaksakan meneruskan teriakan - teriakan sumbang. Multiply opening killing scene jauh dari kesan tegang nan mencekam. Menghadirkan beberapa Cameo yang malahan membuatnya nampak bagai parodi murahan yang tidak menyayat tajam. Ditambah dengan adanya mediasi blog online yang dimaanfatkan sebagai penyesuaiannya, dieksekusi dengan tumpul dan begitu saja.

Kembalinya Sidney Prescott ke kampung halamannya adalah cerminan dari ide yang sudah buntu. Sebelum darahnya habis, sepertinya akan selalu ada inovasi struktur cerita yang bisa diramu dengan cupu. Karena untuk sebuah pembunuhan berantai yang sadis, motif yang terstimulasi dalam otak seorang psikopat untuk ingin terkenal adalah sebuah ketidak-pentingan Wes Craven kembali muncul mengayunkan pisau tajam, menusuk, dan menyayat. Cukup gila memang, namun tidak cukup untuk menerima semuannya. Menariknya, sebuah ironi muncul ketika akhir riwayat Ghostface ditutup dengan kalimat "DON'T FUCK WITH ORIGINAL!"
Really?

Tidak ada yang bisa menggantikan trio Neve Campbell, Courteney Cox, dan David Arquette. Dan tidak ada kata lain selain "datar" yang bisa menggambarkan kontribusi emosi yang mereka berikan.

Jika berbicara Slasher/Horror, Scream adalah film yang akan muncul pertama di ingatan saya. Bukan Scream 2, Scream 3 atau bahkan Scream 4. Tetapi Scream. Di mana kita bisa melihat Drew Barrymore bersiap untuk menonton horror, mempersiapkan pop corn sebagai temannya sampai deringan telepon itu berbunyi. "Kriiingg!!! Kriiingg!!! Kriiing!!!".

^,^ Nyc.

posted from Bloggeroid

Rabu, 13 November 2013

I'VE BEEN ASKED TO PROM!!

Seperti yang kita ketahui bahwa ketika muncul sebuah film remake dari film yang cukup dikenal dan begitu ikonik, ada sebuah resiko yang dipertaruhkan. Apakah versi barunya akan berakhir lebih bagus atau malahan akan sangat buruk dan mengundang cibiran dari para fanatik?

Di tahun 1976, Brian De Palma merampungkan film Drama Horror yang diadaptasi dari novel yang dituturkan oleh specialist horror dunia, Stephen King dalam Carrie. Sambutan yang baik dari para pemerhati film dan antusiastis horror, mengundang pihak Metro-Goldwyn- Mayer Studio untuk mengambil resiko berat itu dan menyuguhkannya kembali ke khalayak masa kini.

Di antara mereka ada yang sudah pernah melihat bagaimana Sissy Spacek berperan sebagai Carrie dan tentunya, ada yang belum sempat melihat Mrs. Spacek menggerakan benda-benda tanpa sentuhan jari-jemari. Seperti saya, yang sama sekali tidak tahu bahwa Carrie memiliki pendahulu. Artinya, itu membuat ekspektasi saya masih sangat perawan, dan "keperjakaan" ini saya berikan kepada Chole Grace Moretz, dalam Carrie (2013).



Petama kali melihat dara yang belum bergenap usia 21 tahun ini, Chole Grace Moretz berperan mencuri sekali sebagai seorang adik yang supportive lewat drama romantic comedy (500) Days of Summer. Karirnya bagai roket appolo 11 yang meluncur ke awan, dengan cepat Moretz menjadi aktor pemula yang tidak bisa diremehkan. Terbukti setelah kemunculannya dalam kisah Tom dan Summer, Moretz dipilih untuk bermain sebagai karakter central dalam remake Let The Right One In yang berubah ngaran menjadi Let Me In. Namanya semakin digandrungi ketika Matthew Vaughn mengajaknya bergabung dalam kisah superhero berdarah yang kita kenal, Kick Ass. Bahkan, Martin Scorsese pun melihat bakat belia ini sebagai penunjang proyek dedikasinya untuk film klasik, mempersilahkan Moretz untuk berpetualang bersama Hugo. Track Record yang cemerlang untuk seorang remaja yang belum diperbolehkan berpose nude untuk Playboy.

Di usia Moretz yang masih sangat hijau, Kimberly Peirce mengarahkan Moretz untuk menjadi reinkarnasi Sissy Spacek, menjalani kehidupan seorang remaja yang memiliki kekuatan (telekinetic). Carrie White yang selalu menyembunyikan paras cantiknya dalam tundukan kepala. Sikapnya yang pendiam dan pemalu membuat dia tidak memiliki seorang teman. Di tambah, dengan kekangan sang ibu Margaret White (Julianne Moore) yang mendidik Carrie dengan ketat berdasarkan fanatik-isme agama dan kegilaan. Issue bullying sudah tentu menjadi percikan api yang akan menjalar pada sumbu cerita ini.

Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Penonton seakan tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam kompleksitas tokoh Carrie yang sangat 'menarik'. Dari awal, sepasang mata sudah disuguhkan ledakan dari aktifitas telekinetic yang dimiliki oleh Carrie. Serta adu akting dua jaman antara Moretz dan Moore tidak hadir dengan hangat, belum cukup menyelimuti cerita horror yang dingin sama sekali tidak ada hal yang berbau horror atau bahkan menegangkan. Bahkan ketika memasuki scene pamungkas sekalipun, film ini tidak memberikan surprise! surprise! And really? When the blood sheds, is it have to take three time in a row and end up like.... CGI?

Stephen King dikenal sebagai master yang handal dalam memberikan atmosfir menegangkan. Sayangnya Kimberly Peirce tidak berhasil memberikan nyawa tegang di film ini. Tidak ada satupun suspense shot/sequence atau gimmicks yang bisa dikenang dan menjadi long lasting signature, kecuali gerakan tangan Carrie yang terlihat aneh dan kaku. Dengan rambut pirang dan bibirnya yang mengundang, Chole Grace Moretz bukanlah wajah yang tepat untuk mengisi ruang seram film ini. Satu-satunya kepuasan berkencan dengan Carrie adalah ketika saya dapat melihat bagaimana wajah-wajah sengak nan kampungan para pembuli mendapatkan ganjaran yang pantas.

Seperti yang kita ketahui bahwa ketika muncul sebuah film remake dari film yang cukup dikenal dan begitu ikonik, ada sebuah resiko yang dipertaruhkan. Apakah versi barunya akan berakhir lebih bagus atau malahan akan sangat buruk dan mengundang cibiran dari para fanatik?

Saya yang tidak tahu bahwa Carrie mememiliki pendahulu, membuat ekspektasi ini masih perawan. Carrie bukanlah prom night yang diharapkan. Bukan pengalaman melepas "keperjakaan" yang istimewa -
So far away from the 'magical night' but quite a simply night to remember though. And yes, I will know her name because I've been asked to prom.







posted from Bloggeroid

Senin, 14 Oktober 2013

IF LIVE IS MOVIE AND MOVIE IS LIFE




Untuk sebagian orang, khususnya mereka yang jatuh hati pada cara menikmati film dengan otak sebagai sendok dan garpu, atau mereka yang suka cara memanjakan mata dengan melihat adegan indah, dahsyat, dan ledakan seru, genre Drama Romantic/Comedy sudah pasti bukan pilihan pertama untuk dilihat. Atau mungkin genre ini adalah genre yang bisa memenuhi hasrat mereka dengan menyaksikannya di balik lemari (?)

Ayolah, akui saja jika Rom-Com itu adalah sebuah guilty-pleasure yang kau jadikan sebagai pelarian dari kegalauan kisah cinta yang rumit. Setidaknya, rom-com berupa sajian yang secara empiris, mampu membuat hati anda semua teriris. Paling tidak, anda bisa berucap "GW BANGET!" dengan seemosional itu atau mengumpat dalam hati.

Genre yang satu ini sering disebut "Chic-Flick" di mana label itu memberi batasan gender pada penikmat film. Secara tidak langsung, Drama Romantic/Comedy dicap 'girly' karena kebanyakan cerita di ambil dari point of view perempuan, sehingga kaum maskulin merasa 'enggan' untuk mengambil sajian drama mellow nan flamboyan dari pajangan rak DVD.

"Duuuuuude! Are you kidding me? P.S I Love You, Serendipity, When in Rome, Leap Year, Bridgette Jones, While You Were Sleeping, He's Just Not That Into You? And, what the hell on earth is this? SEX-AND-THE-CITY? Is it porn?___Are seriously serious gonna watch all these stuffs? Get out!!!"

Mungkin, (khususnya lelaki) di sini pernah menerima reaksi seperti itu. Tapi janganlah berkecil hati karena, when it comes to guilty-plesure, it really works pleases you and kills you. Percayalah, genre Drama Romantic/Comedy ini memiliki kandungan vitamin yang tersembunyi dan mampu menyentuh sisi sensitiv kaum adam, dan ketika itu jatuh, tidak hanya menyentuh, tetapi mampu membuatmu diam membisu. Atau, secara tragis kau akan mengeluh pada entah siapa dengan berkata sambil memeluk guling, "If life is movie and movie is life..!". Dan ketika layar kaca memudar dan menjadi hitam, satu kata yang terlontar adalah, "SAMPAH!!!"
Admit it.

Tapi, tunggu dulu, sepertinya stereotype "Chic-Flick" tidak lagi bisa berdiri kokoh untuk Drama Romantic/Comedy, karena dipenghujung tahun 80, Cameron Crowe telah membuat pedoman "Chic-flick" yang menempel di genre ini dipertanyakan. Lewat Say Anything, Crowe memberikan sajian yang baik yang akan membuat pria nyengir melihat pola tingkah laku Lloyd. Drama Romance/Comedy dihamparkan dengan greget yang alami lewat akting menawan dari John Cussack yang masih sangat muda saat itu. Kemudian, still from the delicate hands of Crowe, di tahun 1996, Crowe hadir bersama Tom Cruise dan Renee Zellweger, dalam drama yang sudah pasti film ini sangat membekas sekali di kepala anda.. atau hati anda, apalagi jika mendengar kalimat Tom Cruise, "You complete me!", saya jamin memory pikiran anda akan melakukan pemindaian secara cepat dan mengingat satu film yang sensasional. Yup, Jerry Maguire. Drama Romantic/Comedy yang menuai banyak pujian dan akan selalu mentereng di dalam list anda jika diminta untuk membuat daftar film Drama Romantic/Comedy sepanjang masa, bukan?
Admit it.

Dalam menyampaikan sebuah perasaan, especially, perasaan terdalam untuk lawan jenis, tidak harus selamanya kekeh di atmosfir galau, mellow, dengan iringan musik irama minor, tapi bisa secara gamblang disampaikan dengan cara penuh attitude dan confidence. Formula baru dalam menggarap Drama Romantic/Comedy dilakukan oleh Stephen Frears di tahun 2001 lewat High Fidelity. Berkisah tentang Gordon, pemilik record store yang mengalami pasang surut sebuah hubungan. Lagi-lagi John Cussack yang dipercaya memerankan karekter yang takut untuk kembali membangun sebuah komitmen karena dibayangi oleh kisah cinta yang tidak didampingi oleh peruntungan yang baik. Frears memberikan gambar di mana penonton adalah sudut pandang ke dua. Dan itu bagus untuk lelaki agar tidak perlu merasa sendiri. High Fidelity memberikan gimmick yang tidak membosankan. Bagaimana bisa, film yang memiliki karatek central 'geek music" ini membuat anda menguap terlelap ?. Anda akan dibawa ke masa jaya musik lawas dan saya jamin perasaan nyaman serta betah akan hinggap di sofa. Pada saat film ini usai, cuma satu kata yang keluar....Rocks! Karena anda bukan pria sempurna yang kadang takut untuk berkomitmen and it what makes you save.
Admit it.

Dan film yang satu ini, saya tidak akan bicara panjang lebar, karena akan membawa kembali ke masa perdebatan panjang yang sampai sekarang tak berujung. Sebuah film yang mewakili perasaan hancur, remuk dan terinjaknya seorang pria, dan memberikan citra ganda untuk perempuan yang selalu handal dalam memecundangi pasangannya. Menciptakan dua kubu dengan egoisme masing-masing. Drama Romantic/Comedy yang fenemonal di tahun 2009. Guilty- Pleasure terbesarmu. You better get ready, Dude!
" I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps.".
Itu adalah awal dari bencana cinta seorang pria, (500) Days of Summer.
Admit it.

Yah, untuk sebagian orang, khususnya mereka yang jatuh hati pada cara menikmati film dengan otak sebagai sendok dan garpu, atau mereka yang suka cara memanjakan mata dengan melihat adegan indah, dahsyat, dan ledakan seru, genre Drama Romantic/Comedy sudah pasti bukan pilihan pertama untuk dilihat. Atau mungkin genre ini adalah genre yang bisa memenuhi hasrat mereka dengan menyaksikannya di balik lemari (?)
Anda tahu jawabannya.


^,^

posted from Bloggeroid

Selasa, 08 Oktober 2013

GRAVITY REVIEW

RYAN STONE HAD A BAD DAY!!

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan Childern of Men adalah salah dua film besutan dari sutradara berdarah latinMexico, Alfonso Cuaron. Keduanya mampu menarik sanjuangan dan menjadi buah bibir sinema yang manis. Bermain dalam teritory genre thriller, Drama, sekaligus Sci-Fi, Cuaron adalah nama yang mampu menyajikan warna dan sensasi gambar yang berkelas. Lewat sentuhannya, kisah petualangan penyihir dari Hogwarts mengalami progess yang signifikan. Adalah pilihan yang tepat ketika Warner Bross menunjuk Alfonso Cuaron menggarap halaman demi halaman jilid 3 dari novel karya J.K Rowling itu. Dan apa hasilnya? Excellent. Dari kisah Potter yang tergambar bagai jajanan anak-anak, berubah menjadi hidangan utama yang matang dengan bumbu intrik dan citra remaja yang alami. Tentunya bumbu itu bisa kita rasakan dari peubahan wujud dementors dan intrik persahabatan usia belia. Namun, tidak hanya itu saja, warna yang mebalut adaptasi novel penyihir ini pun berubah pekat dan "mendung".

Sukses melakukan renovasi pada seri Harry Potter, dua tahun setelahnya, Alfonso Cuaron kembali mendobrak mata penikmat film dengan Childern of Men. Sekali lagi dia berhasil meberikan gambar kekacauan London dengan begitu gaduh dan kalut dalam kekacauan yang terjadi di sebuah fenomena langka
beautifully. Bermain dengan cerita yang diadaptasi dari tulisan P.D James, Cuaron kembali berhasil membangun sugguhan yang solid dan asik untuk dinikmati. Sebuah prestasi yang luar biasa. Dan track record tersebut tentunya, secara otomatis menjadi jaminan para penikmat film untuk menarik kakinya ke bioskop, memanjakan mata mereka, melayang di luar angkasa, melihat pesona bumi melawan Gravity.

Gravity.
Kali ini Cuaron tidak hanya menjadi man behind camera saja, dia juga merangkai kata demi kata, menggabungknya menjadi kalimat dan bermetamorfosis menjadi sebuah cerita yang sederhana nan visioner. Memang, Gravity bukan yang pertama berdiri dalam daftar survival, tapi apa yang Cuaron tulis bisa menjadi sebuah visioner untuk kategori ini. Berkisah tentang Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) yang bekerja sama melakukan sebuah misi. Namun di tengah misi itu sedang berjalan, sebuah kecelakan terjadi yang mengakibatkan keduanya terpisah, terpental, mengapung dalam laut hitam dengan bumi sebagai karangnya. Lalu apa yang terjadi? Untuk yang satu ini, untuk mengetahuinya yang perlu anda lakukan adalah ikut melayang dan tersesat bersama Sandra Bullock dan George Clooney. Bersedia?

Sesunggunya, seperti apa yang saya utarakan sebelumnya, Cuaron ini memang pandai dan cerdik dalam memberikan sebuah pesona di setiap gambar. Terbukti dalam waktu 5-15 menit (kurang lebih), Cuaron memberikan cinta pada mata kita melalui visual bumi yang menakjubkan nan agung. Tidak hanya mata, tetapi jantung pun seakan terhenti melihat penampakan bumi dari titik pandang astronot. Saya yang tidak nyaman dengan ketinggian, mengalami hal tersebut. It takes my breath away. Serta, ada satu adegan, di mana Cuaron mengahadirkan satu gambar dengan mengekploitasi kemolekan tubuh Sandy yang berputar disertai tali menjadi sebuah kehidupan awal manusia dalam rahim lengkap dengan tali pusar. It's so beautiful. *Sigh*

Struktur Gravity bisa saya bilang, tidak hanya ditopang oleh visualisasinya saja, namun peran peraih predikat Academy Award Winner, Sandra Bullock, memiliki andil yang jelas, yang mana membuat Gravity sebagai film visioner.
Gelar Best Actres membuat dirinya matang. Sandy mampu melepas image gadis flamboyan yang galau karena pria. The Blind Side membuktikan bahwa dia layak dan Gravity adalah gema dari kualitasnya yang sempat diragukan oleh sebagian khalayak.

Jika visualisasi dari cerita yang epic adalah pondasi, dan performa Sandra Bullock adalah pilar, maka drama berupa pesan moral Gravity adalah atapnya. It occurred to me that when you lose hope...... d o n' t let go.



posted from Bloggeroid