Loneliness might has something to do with an addiction. Well, setidaknya itulah yang bisa saya katakan setelah selesai melihat film besutan Darren Aronofsky, Requiem for a dream (2000). Ketergantungan akan sesuatu, sepeertinya adalah cara untuk mengisi kekosongan yang ada dalam diri kita. Sebuah gambaran candu yang menarik berhasil Aronofsky sampaikan dengan jelas. Sebuah eksekusi yang tak biasa tentunya, dan sangat Aronofsky sekali. Dengan tehnik Camera-Back Shoulder,sedikit mengingatkan saya akan pergulatan jiwa Sang Angsa Hitam.
Sara Goldfarb, seorang ibu yang memiliki keinginan untuk tampil di televisi. Harry Goldfarb (Jared Leto), junkie dengan keinginan menciptakan uang sebanyak-banyaknya dengan cara menjual serbuk narkotik bersama temannya dan kekasihnya, Marion (Jennifer Connelly). Dengan Plot Summer, Fall, dan Winter, Darren Aronofsky memberikan analogi yang tepat akan cara kerja dan dampak dari sebuah rasa candu. Awalnya, semua akan terasa baik-baik saja di saat rasa candu akan sesuatu mengisi ruang kosong yang ada. Nampu tanpa disadari, kecanduan tidak melengkapi kekososangan itu, malah membuat diri kita terpuruk ke dalam kekosongan dan semakin dalam, semakin dalam, semakin mengitimidasi, semakin menyiksa. Pada akhirnya, kecanduan akan membawa kita kepada tempat yang tidak kita inginkan. Pada titik itu, kita tidak bisa melakukan apa-apa.
Penampilan Ellen Burstyn yang mengagumkan adalah bukti bahwa rasa candu adalah racun. Racun pelaraian. Darren Aronofsky memberikan klimaks yang pas dengan premis yang telah ia bangun, disertai anti klimaks dengan balutan original score dari Clint Mansell, membawa kita pada ending akan hidup yang menyedihkan.
The Verdict :
Make a seat as comfortable as possible. Prepare an injection. Grab a remote control. Roll your dollar. Push the power. Spread the drugs. Take a few of pills. Turn on the television. Turn the lighter on. And smoke. Feel yourself fly away and be free.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar