![]() |
| It where the sounds come |
Serpihan roti pizza berceceran di atas sofa. Empat kardus heksagonal tertumpuk di atas meja. Tidak ada satu slice pun pizza yang tersisa. Kaleng-kaleng Heineken tergeletak di lantai. Asbak dipenuhi dengan punting rokok. Keadaan ruang TV yang tadinya rapih dan bersih, kini berubah menjadi bencana. Aku tidak bisa membayangkan jika Hanna melihat semua ini. Tentunya dia akan bernyayi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan aku hanya menunduk berguman Mengheningkan Cipta.
Wisnu sedang tidur pulas dengan celana pendeknya dan singlet hitamnya. Kakinya mendarat di pahaku. Setengah sadar, aku mencoba untuk bangkit dari sofa. Aku melihat ke arah jam dinding. Ternyata belum pagi. Aku melihat jarum panjang jam menunjuk ke angka 9 dan jarum pendek jam ke angka 1. Aku angkat pelan-pelan kaki Wisnu. Aku tidak ingin dia terbangun.
Aku berdiri. Aku berdiri sejenak untuk mengumpulkan kesadaranku. Aku mencium aroma alkohol dari nafasku. Aku berjalan menuju dapur. Aku buka lemari es, aku ambil satu botol red wine. Aku ambil gelas beling panjang. Aku berjalan mengarah ke meja makan yang ada di tengah-tengah dapur. Aku duduk. Aku letakan red wine dan gelas di atas meja. Aku sandarkan badanku pada sandaran kursi. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Wisnu yang sedang tertidur dan sampah-sampah yang berceceran.
Aku masih bersandar. Red wine yang ada di depanku aku perhatikan. Red wine itu memiliki kemasan botol yang bening transparan. Aku terus melihatnya. Warna merah yang begitu menggoda—menggairahkan dahaga. Warna merah yang sangat seksi sekali. Aku raih red wine itu. Aku perhatikan merahnya secara seksama. Semakin aku perhatikan dalam-dalam, semakin aku merasa Red Wine ini meamanggil namaku dan berbisik kepadaku. Aku deketkan botol red wine itu ke telingaku. Aku memcoba mendegarkan apa yang dikatakan oleh Red Wine ini. Aku tidak mendengar apa-apa. Lalu aku mendengus dan tertawa kecil. Dasar bodoh! Mana mungkin benda ini dapat berbicara!. Hinaku pada diriku.
Aku membuka tutup botol red wine itu. Aromanya menguap dan tercium oleh hidungku. Aromanya enak sekali menyentuh indra penciumku. Aromanya begitu seksi—seseksi merahnya. Aromanya membuatku lega dan tenang. Mungkin ini alasan mengapa Hannah begitu menyukai wine. Aku tuangkan red wine ke dalam gelas bening panjang tadi. Oh Tuhan! Indah Sekali. Aku merendahkan kepalaku dan mensejajarkan pandanganku dengan gelas. Aku menuangkan kembali red wine dengan perlahan ke dalam gelas. Aku sangat takjub sekali melihat cairan warna merah itu terjatuh memenuhi ruang dan mendominasi transparan gelas dengan merah seksinya. Merahnya menenggelamkan setengah gelas. Aku angkat gelas itu. Aku dekatkan dengan mataku. Aku tersenyum. Yah, aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan ini.
Aku bawa botol dan gelas berisi red wine ke studioku. Yah, di dalam rumah ini aku memiliki satu ruangan yang aku jadikan studio seniku, studio lukisku. Aku tidak pandai melukis sebenarnya, aku hanya menyukai warna-warna. Aku suka menuangkannya ke dalam kanvas. Aku senang sekali menungkannya di tembok. Aku suka warna. Aku duduk di depan kanvas yang masih putih. Dengan botol dan gelas bersisi red wine tentunya. Aku simpan red wine itu di meja kecil, di samping kanvas. Aku kembali memperhatikan red wine itu dengan seksama kembali. Aku pandangi kanvas yang masih bersih. Bolak-balik pandangan ku arahkan red wine—kanvas, kanvas—red wine.
Aku celupkan jariku-jariku ke dalam red wine itu. Aku percikan red wine ke atas kanvas. Kanvas itu kini terisi dengan titik-titk bercak warna merah. Namun merahnya tidak seperti yang ku harapkan. Merahnya pudar. Ahh.. ini benar-benar tidak terpikirkan olehku. Aku siram saja seluruh red wine ke atas kanvas. dan..aku terdiam melihat satu pola tekstur abstrak yang tertangkap olehku. Aku melihat samudra. Samudra Merah dengan ombak tenang yang berlari-lari. Aku mendengar hembusan ombaknya. Hembusan itu merangsangku untuk melukis. Yah..aku akan melukis. Aku akan membenamkan diriku dan emosiku ke dalam lautan warna. Aku siapkan kuas dan berberapa warna dominan yang senyawa dengan warna merah wine ini. Aku mulai menggoreskan kuasku dengan mengikuti emosi yang sedang aku rasa. Aku kerasukan merah. Aku seakan lepas dari kehidupkan. I am untouchable.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar