Minggu, 01 Januari 2012

Chapter 3 : #3


Aku merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Entahlah, perasaan macam apa ini?...yang jelas tamparan Hannah membuatku galau. Aku seakan berdiri di antara prasangka dan kenyataan. Aku tidak tahu apa yang harus aku ikuti—prasangkaku atau kenyataan di pipiku?.

Aku mengenakan kaos oblong biruku yang tergeletak di lantai dan celana pendekku. Aku beranjak dari kamar—turun ke bawah. Aku merasa aku harus meminta maaf atas perkataannku, yang aku sendiri belum yakin—apa aku ini salah atau tidak?. Namun aku merasa, aku harus meminta maaf pada Hannah. Bagaimanapun itu, Hannah marah kepadaku. Belum pernah dia menamparku seperti ini.

Perlahan aku turuni anak tangga. Aku melihat Hannah sedang duduk di meja makan. Dengan ditemani botol wine dan gelas berisi wine putih yang tersimpan di meja—ia duduk sambil merokok. Aku hanya mencibir melihat dia menghisap rokok dan menghebuskan asap. Pandangan Hannah sedang melihat kea rah akuarium yang ada di samping meja makan. Aku tidak tahu apakah dia menyadari kalau aku sedang berdiri dan memperhatikannya merokok. Aku berjalan mendekati Hannah. Hannah seolah-olah acuh dengan pendekatanku menghampirinya. Pandangannya tetap ia fokuskan pada akuarium. Aku tarik salah satu kursi meja makan—duduk di depannya. Hannah masih tidak melihatku. Dia seperti malas mengalingkan padangannya untuk melihatku. Aku tahu bahwa Hannah sadar akan kehadiranku. Dia hanya pura-pura saja tidak mengetahuinya. Rokok yang Hannah hisap telah habis. Dia mematikan rokoknya ke dalam asbak. Hannah mengambil satu batang lagi lalu memnyalakan Lighter.

“Untung saja Aku tidak membuang rokok itu!”, kataku memecah kepura-puraan. Hannah memandanganku sesaat dengan sinis. Melihat matanya yang merah dan sembab, aku dapat menyimpulkan—kalau dia habis menangis. Dia meraih gelas berisi wine putih—meneguk wine itu. Melihat itu, aku melihat betapa feminis dan anggunnya Hannah. Bagaimana cara dia merokok dan menghebuskan asap, semua itu terlihat sexy di mataku dan gaya rambutnya yang baru…Oh Tuhan, Aku pria yang beruntung sekali.

“Kau pernah menderngar cerita Dayang Sumbi dan Sangkuriang, Ian?”, pertanyaan yang aneh tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Apa?”, reaksiku. 

Hannah kembali meneguk wine putih, menghisap rokoknya dan mengelurakan asap.

“Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi yang terpisah selama bertahun-tahun. Di saat Sangkuriang dewasa…”
“Yah aku tahu cerita itu, Hannah!”
“…Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita cantik. Wanita itu adalah Dayang Sumbi, Ibunya sendiri. Ibu yang mengandungnya dan melahirkannya dan membuangnya…”, Hannah mematikann rokoknya dan menuangkan wine ke gelas—meminumnya. Ini terasa aneh. Aku tidak mengerti mengapa Hannah menceritakan legenda Gunung Tangkuban Perahu ini kepadaku di saat seperti ini. Aku benar-benar merasa aneh. Namun aku dengarkan saja dia. Akan kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.
“…karena kecantikan Dayang Sumbi, Sangkuriang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi. Sangkuriang kemudian memutuskan untuk meminang Dayang Sumbi sebagai istrinya. Mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anak lelakinya, Dayang Sumbi member ikan Sangkuriang satu persyaratan…Kau tahu syarat apa yang diberikan Dayang Sumbi kepada Sangkuriang, Ian?”, Hannah meneguk kembali wine.
“Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat kapal raksaksa dan sebuah danau dalam waktu satu hari satu malem!”, jawabku.
“Apakah Sangkuriang sanggup melakukan persyaratan itu?”, Tanya Hannah.
“Dengan bantuan jin dan mahkluk gaib lainnya, tentu saja ia sanggup!”, Jawabku.
“Apa Sangkuriang berhasil menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi dalam waktu yang begitu singkat itu?”. Hannah menuangkan wine putihnya ke dalam gelas. “Apa bantuan jin dan makhluk gaib itu ada artinya?”, tanya Hannah seraya memberikan gelas berisi wine itu kepadaku.

Tangan kananku menggapai gelas berisi wine putih, “Dayang Sumbi merasa khawatir mengetahui pekerjaan Sangkuriang hampir selasai. Rasa kekhawatirannya itu membuat Dayang Sumbi berniat  mencurangi Sangkuriang…”, Aku teguk wine putih sambil melayangkan penglihatanku pada Hannah yang sedang menunggu mulutku untuk berbicara—meneruskan cerita Sangkuriang. “Dengan menggunakan selendang panjangnya berwarna kuning kalau aku tidak salah, er..Dayang Sumbi melemparkan selendang panjangnya ke langit dan meminta bantuan jin juga untuk membuat seolah-olah fajar telah tiba. Dayang Sumbi pun membuat suara tiruan ayam berkokok…”. Lanjutku.

“Mengetahui dirinya gagal, Sangkuriang kesal dan menendang perahu yang telah dibuatnya hingga terbalik di dalam danau buatannya. Gunung Tangkuban Perahu dianggap sebagai perahu yang ditendang oleh Sangkuriang!”, Kata Hannah melipat kedua tangannya di atas meja.
“Yah!”, kataku. Mengikuti perbincangan cerita—legenda Gunung Tangkuban Perahu membuatku tidak mengerti. Jarang sekali Hannah membicarakan sesuatu seperti ini. Berbicara dengan penuh antusias. Hannah kembali menyalakan satu batang rokok.

“Menurutmu, mengapa Dayang Sumbi berbuat hal seperti itu?”. Hembusan asap rokok keluar dari mulut Hannah. Asap rokok mengitari ruangan.
“Karena tidak mungkin Dayang Sumbi menikahi anaknya sendiri!”, kataku sambil ketawa kecil.
“Lantas mengapa dia tidak bilang yang sebenarnya saja kalau dia adalah ibu kandung Sangkuriang? Mengapa harus dengan memberi persyaratan bodoh seperti itu dan MEMPECUNDANGI Sangkuriang dengan melakukan tipu daya seperti itu?”. Hannah terdengar begitu menggebu-gebu dalam ucapannya.

Aku semakin tidak mengerti, sebenarnya apa maksud dari semua pembicaraan ini. Niatku yang tadinya mau meminta maaf, terpinggirkan. Aku merasa ada yang aneh dengan Hannah. Hannah menenggak wine putih langsung dari botolnya. Pipinya terlihat memerah. Apa ini pengaruh dari wine itu? Bisa jadi Hannah sedang mabuk.

“She’s a bitch!!!”. Hannah mematikan rokoknya dengan penuh kekuatan di tangannya dan melakukan pandangan itu lagi kepadaku—pandangan tajam dengan emosi yang tersimpan di dalam bola matanya yang coklat. “Apa yang akan kau lakukan jika kau menjadi Sangkuriang?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu, Hannah?”, Aku alihkan pandangan ke arah lain—menghindar dari tatapan Hanah itu. “Kau mabuk sepertinya!”. Aku kembalikan pandanganku menatap mata Hannah yang rasanya tidak berkedip.
“Kau benar tidak mengerti maksudku? Hahaha..Kau ini polos sekali, Ian”, tanya Hannah.

Yah, aku yakin Hannah sedang berada dibawah pengaruh alkohol—dia sedang mabuk. “Lebih baik kau istirahat dan kita teruskan besok!”, kataku seraya menggapai rokok yang ada di depan tangan Hannah. Namun Hannah menepuk tanganku dan memegang tanganku dengan kuat agar aku tidak bisa mengambil rokok .
“Aku tidak mengganti parfumku, Ian!”, kata Hannah pelan sembari memajukan wajahnya ke arahku.
“Apa?”, Aku tarik tanganku perlahan dari cengkramannya. Aku perhatikan wajah Hannah, tatapannya. Aku mencoba untuk membaca apa yang tersirat di matanya. Sebenarnya aku mendengar apa yang Hannah ucapkan dengan jelas. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Jantungku berdetak kencang sekali. Aku merasa siap tidak siap dengan apa yang akan aku dengar—apa yang akan keluar dari mulut Hannah. Walaupun aku memiliki dugaan, namun aku tidak ingin mendengarnya. Di sisi lain aku ingin sebuah kebenaran. Aku siapkan diriku untuk kalimat yang akan terucap oleh Hannah. Aku tarik nafasku, aku menunggu.
“Aku tidak tahu kau memiliki penciuman yang begitu kuat! Aku tidak menyadari perhatianmu yang begitu besar, Ian! Aku memang wanita bodoh!”, Hannah menyandarkan badannya dan tertawa kecil. Tawa penuh leceh.
“Tell me the truth,Hannah!”, kataku dengan pelan menahan emosiku yang apakah akan meledak atau tidak. Yang jelas, jantungku terus berdetak kencang. Aku dapat merasakan panas di kepalaku melihat tingkah Hannah yang kembali menyulut rokok dengan lighterku.
“Aku tidur dengan pria lain, Ian!”. Kata Hannah sembari menghisap rokoknya.

Apa yang aku duga-duga ternyata benar. Aku ambil gelas yang berisi wine putih tadi, aku siramkan wine putih itu pada wajah Hannah. Hannah sempat terhentak kaget menerima siraman wine dariku. Dia diam saja. Hannah bahkan tidak berani melihat wajahku.  Aku sangat merasa dipermainkan olehnya. Kalimat itu bagaikan sebuah klimaks. Hannah membuatku kesal. Hannah membuatku melayang di udara. Hannah membuatku tak berdaya. Dan kini, di depanku sedang duduk wanita yang telah membuatku remuk. Siraman wine itu, aku rasa tidak cukup untuk mencurahkan kekecewaanku.

Aku beranjak dari kursiku dengan emosi. Kedua tanganku aku kepalkan, seolah semua emosi mengalir dan terpusat di sana. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku pergi berjalan cepat meninggalkannya. Langkahku terhenti. Aku merasa belum puas. Tidak tepat rasanya aku meninggalkan Hannah begiu saja. Aku kembali ke meja makan, memandangnya penuh rendah.

“Kau mau melemparkan botol ini ke kepalaku, Ian?”. Suaranya gemeter. Hannah menghisap rokok yang masih tersisiah namun sudah agak basah.
“Hentikan itu!”, Aku rebut rokoknya kemudian aku buang. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Hatiku sakit mendengar pengakuannya. Namun apa aku harus marah?. Apa aku harus menghinanya?. Mencacinya?. Apa siraman wine itu benar-benar tidak cukup?. Aku tarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku kembali duduk di tempatku tadi. Aku memandang Hannah. Wajahnya kini berbeda. Sekarang wajahnya terlihat kuyup. Aku tuangkan wine ke dalam gelas. Aku ambil rokok. Hannah hanya diam saja. Ini seakan checkmate untuknya. Aku bagaikan ksatria yang sedang mengepung sang raja—seorang raja yang tak berdaya.
“Mengapa?”. Aku keluarkan apa yang ada di pikiranku seiring asap rokok yang kuhembusakan.

Hannah mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian Hannah tersenyum kepadaku, “Apa ini yang bisa Kau lakukan,Ian?”

Hannah melecehkanku. Sebenarnya apa maunya dia?.Berani sekali dia berkata seperti itu di saat posisi seperti ini. Apa dia tidak merasa bersalah? Kemana hatinya? Apa hatinya tertinggal di Jogja sana?.

“Mengapa, Hannah?”. Aku kembali bertanya dengan sabar.

Hannah terliha masih tersenyum penuh lecehan. Senyumannya begitu menjengkelkan. Membuat darahku tambah naik.
Tiba-tiba aku tersentak melihat sosok Ramon sedang berdiri di samping meja makan. Pria itu berjalan mendekati Hannah. Aku ketakutan. Mulutku menganga penuh kecemasan. Keringat bercucuran. Ramon menatapku dengan tajam penuh amarah dan kepuasan. Tatapan itu begitu mengitimidasiku. Aku melihat Hannah. Hannah masih tersenyum. Mulutnya terlihat sedang seperti mengatakan sesuatu, namun aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Semuanya seakan berjalan dengan lambat. Ramon kini berada di samping Hannah—dia masih memandangku dengan pandangan itu. Tangannya memegang pundak Hannah. Tubuhku kaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kembali melihat Hannah. Kini dia terlihat diam—tak mengatakan apapun. Hannah tersemyum lagi. Ahh mengapa dia tersenyum seperti itu terus? Apa yang akan Ramon lakukan kepada Hannha?. Jangan kau sentuh dia! Hatiku menjerit namun bibirku terkunci. Ramon membuka kancing celananya. Hannah mengankat wajahnya menatap Ramon. Apa yang akan mereka lakukan di depanku? PERGI KAU BAJINGAN! JANGAN BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUHNYA!!! Ramon mengeluarkan penisnya dan TIDAKKK!!! Ekpresi wajah Ramon menghinaku. Wajah penuh nikmat yang sedang dirasakannya. “Ahhh..Ahhh…Ahhh..”. Ramon mendesah sambil menatapku penuh umpat. Aku benar-benar dibuatnya gila. Aku kumpulkan tenagaku dan keberanianku untuk menghentikan semua ini. Aku beranjak dari kursiku—aku menaiki meja makan lalu aku jambak rambut pendek Hannah. Namun Hannah begitu menikmati kulum yang ia lakukan. Aku jambak terus dengan kuat rambutnya. Aku mendengar Ramon tertawa dengan keras. Aku terus menjambak rambut Hannah. Tawa Ramon semakin terdengar keras dan keras. Aku pun semakin sekuat tenaga menjambak rambut Hannah. Tawa Ramon perlahan-lahan hilang tergantikan dengan suara rintihan kesakitan.

“AAAAAAAAAAAAHHH…Ian hentikan! AAAAAAAAAAAAAHHH!!! Ian kau menyakitiku!”

Aku melepaskan tanganku. Aku memandang ke sekeliling penuh panik. Ramon sudah tidak ada. Di atas meja aku berkeringat. Aku gemetaran. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku tampar-tampar pipiku. Hannah menangis di depanku. Aku benar-benar kacau. Aku melihat wine yang tumpah. Serpihan beling di lantai dari gelas dan botol yang pecah.

“Hannah, kau tidak apa-apa?”, aku memcoba untuk menyentuhnya. “Maafkan aku!”

“Kau gila, Ian! KAU SUDAH GILA! KAU SUDAH GILAAA!”, Hannah bertertiak ke mukaku. Teriakannya begitu melengking. Tanpa pikir panjang lagi, dengan rasa aral dan kacau yang menjadi satu aku tampar Hannah sekuat tenaga hingga ia jatuh ke lantai. Badanya tergeletak tak berdaya. Hannah tidak sadarkan diri. Aku memandang kedua tanganku. Apa yang telah kulakuan?
”Oh Hannah…. Maafkan aku! Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini kepadamu! Aku tidak punya pilihan!”, Aku bersimpuh di atas meja.
“Bunuh Dia!”
“Tidak!”
“Habisi Dia, Pengecut!’
“Tidakk!”
“Wanita pelacur sepertinya tidak pantas mendapatkan cintamu! Dia pantas mati! MATI! MATI!”
“Aku mencintainya! Aku mencintainya! Aku tidak akan membunuhnya!”
“Ambil pistolmu dan tembakan ke kepalanya! Dia tidak akan merasakan kesakitan! Ayo ambil pistolmu, A-dri-an!”
“Dia tidak pantas untuk mati dengan cara itu! Hannah wanita yang baik! Aku mencintainya! Aku tidak ingin dia mati!”
“Dia telah mempecundangimu, Adrian! Wanita ini telah mengkhianati cintamu yang besar dengan pria lain! Wanita ini pelacur! Dia berbagi tubunhya dengan pria lain! Tidakkah kau dengar tadi? Tidakkan kau lihat tadi?”
“DIAM KAU! Aku tidak ingin mendengar itu semua!”
“Kau ini memang pecundang, Adrian! Kau pecundang! Kau pria bodoh!”
“DIAAAAAAAAAAAAMMMMMMM!!!”
“Pecundang!”
“Aku bukan pecundang!”
“Buktikan!”
“Aku bukan pencundang seperti yang kau bilang!”, Aku tersenyum.
“Kalau begitu, ayo ambil pistolmu dan bunuh pelacur ini sekarang juga!”
*****
           Bersambung... 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar