Sabtu, 30 Maret 2013

Chapter #5: One Evening



Chapter #5
One Evening

Langit mulai menguning. Cahaya matahari tak lagi panas dan terik. Kehangatan surgawi seakan menghujani tubuku ketika aku turun dari taksi. Aku berdiri di depan gedung apartment yang bertempat di jalan Braga, Bandung.

Sejenak aku menghirup dalam-dalam udara sore kota Bandung yang aku rindukan. Aku melempar pandangan ke setiap sudut Paris Van Java, alangkah aku cinta kota ini. Di mana kreatif seni sangat melekat. Aku melihat pelukis jalanan yang sedang melakukan pekerjaannya. Nampak dia sedang konsentrasi penuh menyelesaikan lukisannya itu. Di sudut lain, pandanganku menangankap sekelompok orang yang sedang asik mengabadikan bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Aku tersenyum melihat aktifitas fotografi mereka. Kemudian Braga membawaku pada sebuah adegan manis yang memancing senyum lebar di bibirku . Aku melihat pasangan kakek nenek yang sedang bergandengan membelakangi anak-anaknya yang sudah dewasa bersama dua orang anak laki-laki. Dalam benakku, andai saja Ayah dan Ibu tidak memutuskan untuk bercerai, mungkin kami akan terlihat seperti mereka--keluarga besar dengan rasa harmonis yang luar biasa. Tapi sudahlah, hidup tak mungkin sama.

Sudah tidak sabar aku ingin segera bertemu dengan sahabatku, Yudha. Aku mempercepat jalanku agar rasa rindu ini terlampiaskan. Aku menaiki beberapa anak tangga eskalator. Berlari kecil sambil menjingjing goody bag berisi souvenir dan setangkai bunga mawar merah. Bunga mawar merah? Rasanya aku salah jika memberikan bunga ini untuknya. Tapi tak apalah, siapa tahu dia sudah menjadi wanita seutuhnya. Dan seperti yang mereka bilang, wonen does love flower!

Aku pun kini berdiri di depan pintu apartment Yudha. Aku ketuk pintu kayu yang berlogo nomer 0169. Sesekali aku melirik jam tanganku. Mudah-mudahan aku tidak terlambat.
Aku ketuk pintu sekali lagi, dan setelah beberapa detik dari itu pintu pun terbuka. Di depanku berdiri seorang pria mengenakan sweater merah v-neck yang melapisi kemeja hitam di dalamnya. Pria yang bersahaja dan wangi tersenyum lebar kepadaku.

"Adrian!". Dia memlukku. Aroma wewangian dari tubuhnya tidak akan pernah hilang dari ingatan. Pria itu adalah Ramon, temanku, sekaligus sahabatku sewaktu SMA. Orang yang sangat konsisten dan yah.. dia sahabatku!

"Oh my God! Look at you now, buddy, you so different! Ayo masuk!". Ramon merangkulku dan membawaku ke dalam. Aku hanya tersenyum ramah, tanpa sepatah kata pun. Terus terang aku sama sekali tidak berpikir akan bertemu dengan Ramon malam ini. Entahlah, walaupun kami bersahabat, namun rasanya ada yang berubah antara aku dan dia. Ada jarak yang besar setelah sore itu di masa lalu.

"Yudhaaaa, coba tebak siapa yang baru datang!", Ramon sedikit berteriak dan melirik padaku sambil terus tersenyum. Walaupun aku tidak melihat ia melirik dan tersenyum padaku, aku dapat merasakannya.

"ADRIAAAAANNN!!". Yudha menjerit.
Akhirnya aku bertemu dengan Yudha. Aku berjalan menghampirinya, memeluknya. Perubahan yang drastis jelas aku lihat pada sahabat wanitaku yang satu ini. Dia tidak lagi terlihat gemuk. Tubuhnya langsing ideal. Rambutnya dia potong pendek. Di telinganya kini bergantung earings elegan. Selera fashionnya sudah tidak boyish. Long dress merah maxi-nya memeprlihatkan bentuk tubuhnya. Namun celemek yang ia pakai, rasanya dia sudah siap mengurus suami.

"Oooohhh lalalala ini pasti oleh-oleh buatku!". Yudha menyambar goody bag dari tanganku. "Mawar? Ohh Adrian, kamu manis sekali membawakan bunga untukku! Korea benar-benar telah merubahmu! Kapan kamu pernah memberikanku bunga? Baru kali ini! Ohh thank you, my friend!", Yudha memelukku. Suasana pun dapat kurasa begitu hangat.

"Lantas ke mana itu semua? Bagaimana ceritanya semua itu bisa hilang?". Tanyaku pada Yudha sambil menarik kursi meja makan.

"Itu apa maksudmu?". Yudha meletakan vas bunga yang sudah terisi bunga mawar di tengah meja makan.

"Lemak diperutmu!". Balasku dingin. Dapatku dengar Ramon tertawa kecil di tengah ia sedang membantu menyajikan hidangan.

"Oh itu! Hahahaha! Sialan kau! Dulu kau boleh panggil aku Yudha Gendut Karung semen. Tapi sekarang lihat aku sekarang!". Yudha memamerkan lekuk tubuhnya dengan centil. Aku tersenyum.

"Ceritanya ada yang ngerengek ingin belajar hidup sehat! Minta tolong untuk di trainning nge-gym biar kurus! Bela-belain makan dikit, perut bunyi, perang dengan kulkas tiap hari agar jadi kurus. Eh ternyata bukan pingin kurus tapi ingin move on! Yah syukurlah kesampean juga!". Ramon meletakan hidangan ikan bumbu balado kemudian menuangkan minuman ke dalam gelas dan memberikannya padaku, "Thank you!". Kataku.

"Hahaha Ramon ini memang orang yang paling berjasa dalam urusan lemak ini. Dia yang mengatur jam makan, menu dan jadwal gym. Inilah hikmah aku putus dari Chepy. Aku bisa kurus dan bertemu dengan Bram!". Yudha meletakan mangkok besar yang berisi sayur asem. Di susul dengan Ramon yang menyajikan aneka gorengan, perkedel, tahu, tempe mendoan. Sedangkan aku hanya duduk di tengah lalu lalang persiapan makan malam yang sederhana.

"Lalu di mana Bram? Bukankah kau akan mengenalkannya?"

"Dia sedang di jalan menuju pulang dari Surabaya ke sini! Yah sebentar lagi!". Jawab Yudha.

"Surabaya?"

"Bram itu pengusaha sibuk! Maklum tendernya kelas daerah kakap! Sehari bisa 2 kali dia ke luar kota!". Jawab Ramon sembari mengambil posisi duduk di sampingku.

"Yah sangking sibuknya Bram, kadang aku suka dongkol! Yah tapi mau apa lagi memang itu pekerjaannya. Dan dia sudah mengambil hatiku dengan romantis...hmmm!"

"Dan tentunya Bram sudah terlanjur kaya!!". Celetuk Ramon dengan khas.

"Hahahaha itu bonus buatku!"

Kau tahu, terkadang aku merasa pertemuan ini asing bagiku. Faktor 3 tahun aku bekerja di Korea mungkin alasan mengapa aku merasa sedikit canggung. Melihat perubahan pada Yudha yang kini begitu feminin, dengan gaya bicara yang berbeda dibandingkan dulu, semuanya begitu asing kurasa dan ini terlalu cepat, tidak terasa. Di tambah dengan adanya Ramon duduk di sampingku, aku merasa terintimidasi. Padahal seharusnya aku bisa bersikap lebih fleksibel dengan situasi ini, terutama dalam hal menghadapi Ramon. Paling tidak aku bisa menatapnya ketika berbicara.

"Ceritakan bagaimana kau bertemu dengan Bram, Yu?". Aku berusaha menambah suasana jadi lebih hangat dan dekat dengan pertanyaan wajar. Okay!

"Ceritanya panjang dan penuh dengan kejutan. Bram adalah pria yang menyimpan sejuta misteri!", Yudha membawa hidangan terakhir yaitu sambal terasi. "Ohh aku tahu kau pasti rindu sekali dengan sambal terasi kan, Ian?". Yudha mencolek sambel terasi yang aromanya memang bikin rasa rindu kuliner sunda bangkit.
Aku hanya tertawa menangggapi tentang sambal terasi itu.

"Hey, kau tidak membawakanku oleh-oleh?". Ramon menepuk pundakku. Dan seketika, ...

*

Aku melihat Hannah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Aku memukulnya terlalu keras berkali-kali. Oh Tuhan apa yang telah kulakukan? Aku telah menyakiti orang yang aku sayangi. Dan kini aku melihat ia tidak berdaya.

Susana duka menyelimuti. Aku hancur setelah peristiwa itu. Ku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah semua ini nyata atau hanya halusinasi atas ketakutanku saja? Entahlah! Yang aku tahu saat ini Hannah tergelatak di lantai dalam keadaan pingsan atau mati. Kepanikan meliputi. Ini sungguh menekanku. Sangat dan teramat. Tubuhku gemetar.

Pelan-pelan aku menurunkan tubuhku. Dengan posisi jongkok aku menatap wajah Hannah. Aku tidak segera membopong tubuhnya. Yang aku lakukan hanya terus menatapnya. Dengan perlahan aku mencoba menggerakan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Oh, Tuhan, wajahnya dingin sekali. Apa Hannah mati? Aku belai rambutnya yang pendek. Aku mengusapnya sambil meratap. "Maafkan aku, sayang! Aku tidak bermaksud membunuhmu! Aku tidak akan mungkin melakukan itu!".

Malam yang panjang dan mencekam. Seakan semua kebahagian hilang direnggut oleh kegelapan yang kurasakan. Aku bahkan tidak bisa berpiki apa yang harus aku lakukan. Pikiranku berkata untuk membopong tubuh Hannah ke kamar. Namun energi yang aku miliki nampak hilang. Aku hanya lemas dan menunduk. Tanpa aku sadari aku menangis.

Di tengah rasa duka yang sedang aku rasakan, aku dapat merasakan hawa lain yang menyelinap merasukiku. Aku merasa aku tidak sendirian di runah ini. Ketika hawa itu menyelinap, aku merasa sedikit demi sedikit rasa dukalu hilang, teralihkan.

"Jangan bodoh kau ini, Adrian! Dia belum mati!". Tiba-tiba aku mendengar suara yang familiar di telingaku.

"Kau?". Aku terhenyak. Tiba-tiba Ramon sudah jongkok di sampingku sambil ikut menatap Hannah.

"Dia wanita yang baik tapi dia bukan yang terbaik untukmu!"

Aku masih tercengan tidak percaya bahwa Ramon ada tepat di sampingku, persis di depan mataku.

"Angkat dia! Pindahkan dia ke tempat yang lebih hangat! Dia masih dalam pengaruh alkohol!". Ramom melemparkan pandangannya padaku kemudian tersenyum.

"Kau tidak mungkin ada di sini! Kau tidak mungkin nyata! Ini pasti halusinasiku saja!".

"Kau tidak perlu bersikap seperti itu! Kau tahu apa yang terjadi, tapi kau terus mengingkarinya! Kau memang pencundang!"

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Satu tahun yang lalu!"

"Omong kosong! Aku tidak mungkin kembali ke masa itu! Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya!"

"Aku tidak berharap berakhir seperti ini, tapi apa yang telah kita lakukan sudah terlalu jauh! Kau tahu itu!"

"Itu semua di luar kendaliku!"

"Aku ingin kau kembali ke tempat itu dan temukan jasadnya! Sebelum semua terlambat!"

"Tidak mungkin! Jasadnya pasti sudah di makan oleh tikus! Jangan gila kau ini, Ramon!"

"Tapi tidak tulang-tulangnya! Percaya padaku! Jika kau tidak melakunnya, aku tidak akan pernah pergi dan terus membuatmu tidak tenang!"

"Kau tidak akan pernah pergi, bukan! Hahaha kau ini lucu!"

"Temukan jasadnya, dan hormati Bram sebagai manusia! Dia bukan binatang!". Kemudian Ramon pergi dan tiba-tiba aku mendengar suara Hannah meringkih! Sukurlah, dia sudah siuman. Aku tersenyum.

"Apa yang telah terjadi? Mengapa aku bisa tergelatak di sini?". Kata Hannah dengan lemas.

"Tidak ada apa-apa! Tadi kau hanya terjatuh karena mabuk!". Jawabku.

*

"Hey, kau tidak membawakanku oleh-oleh?". Ramon menepuk pundakku.

"Apa?"

"Kau melamun yah? Mana oleh-oleh buatku!"

"Haha.. maafkan aku! Tentu saja aku punya oleh-oleh buatmu!"

"Lantas mana oleh-oleh itu?"

"Here it is!". Aku merogoh saku dan mnegeluarkan Jam tangan. Ramon langsung menyambutnya.

"Wow this is must be an expensive watch! Thank you!". Ramon memelukku.

Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Itu pasti Bram. Yudha tidak sabar membukakan pintu dan menyambut calon suaminya. Aku dan Ramon secara bersamaan berdiri dari tempat duduk kami siap untuk memyambut Bram.

"Hai, apa kabar?" Bram menyapaku dengan ramah dan lembut. "Aku harap tidak keberatan jika aku membawa temanku, perkenalkan, ini Hannah!". Oh, Tuhan! Dia adalah wanita yang kulihat di toko buku tadi. Dia cantik sekali mengenakan gaun makan malam warna merah dengan belahan seksi di dadanya.

"Andrian!". Aku mengulurkan tangan dan menjabat tangannya. Tangan yang lembut.

"Hannah!"

***


Bersambung...

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar