I had never been saw two movies in a row before. But My Friday seems so boring so I decided to do that. Well, film pertama yang saya saksikan adalah film berbahasa Perancis, saya tidak tahu apakah film ini produksi Perancis atau bukan, karena ada dua bahasa yang berbeda namun terlihat serupa, entahlah. Film yang berbahasa Perancis itu punya nama In The City of Slyvia. Film independent yang sangat miskin dialog, namun kaya akan visualisai prespektif kosmoplit kehidupan suatu daerah kecil di belahan Perancis sana. Tidak banyak gambar yang berbicara mengenai aspek apa yang sebenenarnya akan disampaikan. Namun…mungkin, In The City of Slyvia hanya menonjolkan tehnik yang menekankan segi art pada sinematografi. Yah..banyak frame yang menarik di film ini. Di tambah dengan observasi terhadap orang-orang di sebuah cafĂ© yang diselipkan juga di sini. That might one thing that probably would remain in my head. Sebagian besar durasi film ini, anda akan dibawa dalam situasi stalking. For all those stalker may it can suit you. You are would feel quite there. Untuk pencinta film non-mainstream tipikal In The City of Slyvia, may would say that it such a nice and deep, but for me, it was seemed slides that lead eyes to somewhere that endless. Film ini tidak memiliki antiklimaks. So just enjoy the uhm..slides
Film berikutnya adalah, Howl’s Moving Castle. Saya bukan tipikal pencinta animasi. I’m just not that into it. Walupun begitu, saya tidak mendeskreditkan yang namanya animasi. Katakanlan saya terbuai. Yah, selama kurang lebih 2 jam, saya bisa menikmati film animasi Ghilbi Studio, Howl’s Moving Castle dengan sehat. Walaupun saya tidak merasa terikat dengan ceritanya yang berkutit dengan perang yang tidak jelas, lalu tiba-tiba muncul intervensi penyihir yang berbicara soal mantra dan kutukan. Lalu, kutukan yang tiba-tiba hilang entah dengan deskripsi apa, dan yang paling klise, tidak lain dan tidak bukan adalah true love. True love is found, War is ended. Oh Okay! That’s so uhm..wow! Namun ada beberapa dialog yang membuat saya tertawa. Scenario Nenek Sophie yang ngedumel sendiri akan keadaanya yang berubah secara tiba-tiba. Satu kalimat yang masih saya ingat dan membuat saya tertawa terbahak-bahak, “ Slow down! For Heaven’s sake, make up your mind, are you gonna let me in or not?”, dan “ If you’re a Demon, how do I know how I can trust you?”…*tepok jidat*.
Dan sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kelanjutan Novel yang akan saya buat? Sebelumnya saya belum pernah seniat ini, mudah-mudahan ini tidak bersifat temporary.
Oh well…
Oh well…

keren kan sylvia-nya? saya suka banget. unik. minim dialog. :mrgreen:
BalasHapuskalo kata saya sih biasa ajah :D
BalasHapus