Sabtu, 03 Desember 2011

#3


One is never enough.

Satu batang Marlboro light aku ambil. Aku simpan batang rokok di mulutku. Ku nyalakan lighter berhargaku yang aku beli sewaktu aku kerja di Korea Selatan. Lighter ini berbentuk kotak warna coklat dengan gambar butterfly metalik kecil di tengahnya, sama persis dengan tato yang ku miliki di punggung. Asap rokok mengisi beranda atas. Sambil menunggu Wisnu datang, aku mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Dari beranda atas aku dapat mengamati daerah komplek. Jalanan komplek sangat sepi. Jalanan yang basah mungkin tanda tidak ada satupun orang atau kendaraan yang melintas. Padahal, sekarang masih jam 9 malam, belum cukup larut juga. Memang jika cuaca seperti ini lebih baik berdiam diri di rumah saja. Bersenda gurau dengan keluarga atau bercengkrama dengan teman atau kekasih. Dari berandaku aku juga dapat mengamati beranda rumah orang lain. Perumahan ini memiliki tipe rumah yang sama. Sebagian masih ada yang belum terisi. Dan sebagian ada yang sudah direnovasi. Kegiatan merokokku kali ini sangat terasa nikmat sekali. faktor udara yang dingin dan pikiranku yang sedang tak karuan mungkin alasan dari kenikmatan ini. Sudah lama aku menjadi seorang perokok. Aku tidak ingat sejak kapan aku candu dengan nikotin ini. Adakalanya rokok dapat menjadi temanku yang setia. Yang selalu bisa menjadi pelarianku di kala aku sedang sendiri membutuhkan seseorang yang tak bisa ada di sampingku, hisapan dan asap rokok seakan menjadi teman berbicara. Walaupun aku sadar bahwa rokok bukanlah sesuatu yang baik, namun aku tetap melakukannya. Perokok itu adalah suatu bukti keironisan yang ada di hidup ini. Kekasihku selalu mengingatkanku untuk berhenti merokok atau paling tidak menguranginya. Semuanya masuk ke telinga kananku dan keluar dari telinga kiriku. Aku tidak pernah mendengarkannya jika dia mulai berbicara soal rokok, karena aku tahu, kalo dia adalah seorang perokok juga. Aku tidak pernah melihat dia memegang rokok atau merokok secara langsung, tapi aku dapat mencium aroma rokok dari mulutnya di kala kita sedang bercumbu saat bercinta.
Aku melihat taksi berhenti di depan rumah. Sesosok laki-laki tinggi atletis keluar dari tasik itu dengan menggunakan sweater merah. Akhirnya Wisnu datang juga. Wisnu adalah teman yang aku kenal semenjak aku masuk Kuliah dulu. Kedekatan kita dan rasa solidaritas masing-masing menjadikan kita sahabat. Wisnu seorang blasteran. Ayahnya asli orang sunda dan menikah dengan ibunya yang berkewarganegaraan Australia. Campuran Sunda-Australia menghasilkan anak pria yang tampan, tinggi dan perawakan yang sempurna. Wisnu cukup update masalah gaya. Kadang dia selalu bertindak layaknya Fashion Police kalau-kalau penampilanku ada yang tidak berkenan di matanya. Dalam masalah berpenampilan aku termasuk orang yang biasa saja. Pernah suatu ketika ada acara undangan salah satu teman yang menikah, Wisnu mencela penampilanku. Katanya aku terlihat seperti orang yang mau nge-mall ketimbang orang yang datang ke resepsi pernikahan.
Dari bawah Wisnu melihatku dan menjempoliku. Entah apa maksudnya.
“apa kau akan duduk di situ terus,hah?”, tanyanya sedikit teriak seiring laju taksi
“kau naik saja, pintunya tidak ku kunci!”
“kau ini memang pemalas..”. Wisnu berjalan menuju pintu depan rumah.
Pemalas. Itulah panggilan Wisnu buatku. Yah aku akui kalau aku memang pemalas. Tapi aku tidak sepemalas yang dia kira.
Langkah kaki Wisnu menaiki tangga terdengar. Aroma maskulinnya mulai tercium. Kurasakan tangannya menepuk pundakku.

“kau ini bagaimana sih, punya BB bukannya di-charge? Bagaimana kalau ada panggilan penting untukmu..”. sapa Wisnu yang lalu duduk di sampingku.
“kau ini yang bagaimana. Apa kau tidak tahu ada yang namanya voice mail?”
“maksudku di Indonesia ini kan jarang yang menggunakan teknologi voice mail, kalau sudah terhubung dengan mailbox, mereka lebih prefer sms ketimbang meningkalkan pesan.”
“itu salah mereka sendiri, kalau memang penting, mengapa tidak meninggalkan pesan!”
“janganlah kau samakan di sini dengan di Korea sana dong!”
“sudahlah..kau ini cerewet sekali yah..”

            Aku mengambil satu batang rokok lagi untuk aku hisap.

“Hannah kemana?”
“biasalah…sibuk urusan bisnisnya!”
“pantas kau bebas merokok. Pergi ke mana sekarang dia?”
“Jogja!”
“tapi kau baik-baik saja, kan?”
“apa maksudmu?”
“aku tahu kau habis menangis, matamu terlihat sembab, tidak seperti biasanya!”
“don’t be such a smart ass..”, sangkalku.
Aku matikan rokokku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Wisnu memandangiku secara seksama, seakan sedang memastikan apa aku menangis atau tidak.
“I know you cried, dude! Come on.. tell me what’s wrong?”

“as I know you the one who want to tell me something..mengapa jadi kau yang bertanya?”
“well, If you won’t to tell me, it’s fine! But you cried, didn’t you?”.
“yeah I did! So, what do you care?”
“what do I care? Are you kidding? Of course I do care! We’re a friend for God’s sake!  We’re bloddy bestfriend! Come on..why did you cry?”

“well, it’s not about Hannah!”
“so what is about?”
“it’s something else!”
“yeah..I’m listening!”
“shit! You never give up, don’t you!”
“you don’t know me…what is something else?”
“you don’t wanna know!”
“oh give me a break. I’m dying for it!”,
Wisnu menatap mataku sangat tajam. Matanya sudah layaknya Brooker yang sedang mengamati slot saham.
            Aku tidak dapat membayangkan apa reaksi Wisnu jika dia mengetahui apa yang membuatku menangis. Wisnu memang teman baikku dan aku percaya padanya. Namun, entahlah, aku belum merasa nyaman untuk menceritakan apa yang menjadi rahasia terbesarku. Bahkan aku sendiri belum bisa menerima semua itu. Jadi kuputuskan untuk tidak memberitahu Wisnu.
“aku tidak bisa memberitahumu! Sorry!”
Aku bisa merasakan kekecewaan Wisnu. Mukanya berubah kecut. Wisnu hanya mendengus dan menyandarkan badannya di sandaran kursi.
“oh well, me probably know nothing, but I can sense what lies within you, Ian!”.
Aku tidak mengerti maksud ucapan Wisnu. Ah, biarlah. Mungkin dia hanya mengigau kecewa.
“lalu bagaimana pertunanganmu? Hey, what don’t you tell me about that?, sahutku mengganti topik pembicaraan.
“sebenarnya itulah yang aku mau tanyakan. Aku pikir, aku akan membatalkan pertunangan ini..!”, katanya sambil menerawang ke langit.
“apa?”
“are you not listening?”
“are you insane?”
“Of course not!”

“apa kau yakin?”
“What do you think?”. Wisnu mengambil sebatang Marlboro milikku dan menyalakannya.
“menurutku ini gila! Kau tidak bisa melakukan itu..”
“tentu saja aku bisa!”. Asap rokok mengisi udara.
“tapi mengapa?”
“sederhana saja, I’m not love her!”.
“apa?”
“kau ini terlalu lama tinggal di Korea, daritadi bisanya, apa, apa, apa, dan apa! Can you say something except APA?”
“Kau benar-benar gila jika kau melakukannya!”
“are you suggesting me that I bloody mad because I’m not love her? Is that so?”
“yeah..setelah bertahun-tahun kau pacaran dengan Sinta hingga sampai dititik ini, tiba-tiba kau bilang kau tidak mencintainya? Do you think is that sane, huh?”
“aku punya alasan untuk itu!”
“Apa? Alasan kau bilang? Alasan apa? Alasan apa yang dapat Sinta tidak merasa dikhianati, huh?”.
“come on dude, can you calm down?”
“apa aku tidak terlihat tenang?”
“daripada kau cemas dengan keputuskannku, lebih baik kau cemasi rambutmu itu. Kapan terakhir kali kau ke barbershop?”
“jangan kau alihkan pembicaraan. Sekarang katakana padaku, mengapa kau baru bilang sekarang?”
Wisnu tidak menjawab pertanyaanku. Dia sedang asik menikmati hisap demi hisap batang rokok.
“hey, kau dengat tidak?”. Kataku
Wisnu tiba-tiba mematikan rokoknya ke asbak. Di memandangku. Ada apa dengan Wisnu malam ini? aku perhatikan dia hobi sekali melakukan pandangan ini. Aku melihat matanya, aku dapat merasakan ada sesuatu di dalam matanya yang tersirat. Itu seakan, memintaku untuk menyelami perasaan Wisnu dan mengerti. Ini aneh. Aku belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya bersama Wisnu. Apa yang terjadi dengan orang ini sebenarnya. Wisnu mengulurkan tangannya. Aku dapat merasakan tangan Wisnu mendarat di pahaku. Mau apa dia sekarang.
“Ian, bagaimana kalau kau order pizza? Aku lapar sekali!”. Wisnu melepaskan tangannya dari pahaku. Kini dia memegang tanganku dan mengarahkan ke perutnya.
“kau dengar itu? Cacing-cacing di perutku sudah berorasi. Teriak-teriak PIZZA! PIZZA! PIZZA!”, Wisnu tersenyum dan kemudian tertawa..
“look at that face. The bloody dramatic face of Adrian Admadjaya…HAHAHAHAHAHA!”
“Norak sekali kau ini!”.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar