Selasa, 13 Desember 2011

Women on the Book Shelf


Harmony

Badanku terasa segar sekali. Pancuran shower air hangat rasanya telah melunturkan semua lelah yang hinggap di tubuhku. Ah betapa nikmatnya mandi air hangat.  Aku ambil handuk putih yang tergantung di aksesoris kamar mandi yang serba stainless. Aku lap sekujur tubuhku yang basah hingga kering—kepala sampai ujung kaki. Setelah tubuhku kering, aku lipatkan handuk itu di pinggangku hingga menutupi lutut.
Aku bercermin. Menggerak-gerakan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Lalu aku dekatkan mukaku ke cermin, memastikan jika mukaku sudah bersih dan tidak ada jerawat yang bersarang di sana. yah, beberapa hari ini aku cukup sering mendapati jerawat hinggap di mukaku. Kadang aku suka memainkannya. Memainkan jerawat kadang bisa sangat mengasikan. Yah, ternyata mukaku sudah bersih dari jerawat. aku tegakan badanku. Melihat bayangan tubuhku di cermin, aku merasa, sepertinya aku butuh olahraga. Gumpalan lemak di perut sudah terlihat. Sudah cukup lama memang aku tidak melakukan jogging. Melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di dadaku, sepertinya tidak akan sangat sinkron jika perutku membulat.
Dari luar kamar mandi, ku mendengar suara pintu kamar tertutup. Ku dengar suara Hannah yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
Yah, aku tahu itu! Aku butuh waktu untuk mengatakannya!. Iya-iya! Ini, ini tidak semudah yang kamu pikirkan…”., sayup-sayup percakapan Hannah di telpon terdengar. Aku tidak tahu dengan siapa dia berbicara. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Walaupun dari nada bicaranya ada yang membuatku curiga.
            Aku tidak mau mendengar pembicaraan itu. Aku buka keran air. Suara air yang keluar lumayan meredam percakapan Hannah yang bocor. Sebenarnya aku masih sangat kesal dengan apa yang terjadi tadi sore—ketika Hannah pulang dari Jogja. Ingin rasanya aku menampar dia. Namun aku bukan laki-laki yang dengan mudah bisa melakukan itu. Sore itu terjadi perselisihan kecil yang membuatku merasa tak ada artinya di matanya. Perselisihan itu dapat ku lihat di dalam cermin yang seakan menjadi layar dari proyeksi memoriku.
            Bandung sore hari masih diselimuti dengan awan mendung. Hujan masih menuggu untuk turun. Seorang diri aku duduk di meja makan. Hanya ditemani dengan kopi instant dan laptopku. Tidak lupa Marlboro Light dan Lighterku.Tugas kuliahku mulai numpuk. Sedangkan deadline tinggal beberapa hari lagi. Ini salahku sebenarnya. Aku yang terlalu santai memang, jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain.
“Saya mau kamu mantau terus perkembangannya. Jangan sedikitpun kau berkedip. Ini slot yang sangat menjajikan. Tahan dulu, saham mereka pasti turun!”. Aku melihat Hannah sedang berbicara lewat ponselnya. Dari tempat dudukku, aku memperhatikan Hannah yang terlihat berbeda. Rambutnya. Hannah mengubah gaya rambutnya—dari rambutnya yang panjang bergelombang menjadi pendek, pendek sekali. Aku perhatikan, gaya rambutnya sama dengan gaya rambut Emma Watson. Aku tidak tahu apa alasan dia merubah gaya rambutnya, yang jelas aku suka sekali dengan gaya rambut baru Hannah.
            Aku beranjak dari dudukku, berjalan menghampirinya.
“Mengapa kau tak telpon aku? Aku kan bisa jemput kamu?”, tanyaku mendekat.
“Handphone-mu tak aktif!”, Hannah menjauh menuju lemari es. “Kau meminum wine-ku?”, tanyanya.
Aku merasakan sesuatu yang aneh hidup di perbincangan ini. Aku dapat mendengar nada emosi terpendam dari cara bicara Hannah. Perasaanku mulai tak enak. Yah aku merasa bersalah karena BB-ku tidak aku aktifkan karena baterai habis. Tapi aku merasakan hal yang lainnya. Apa ini masih ada kaitannya dengan pertengkaran kami yang terakhir—sebelum Hannah pergi ke Jogja?. Aku rasa bukan itu. Mungkin Hannah hanya kelelahan saja, atau mungkin sedang ada masalah pekerjaan.
“Aku hanya memakainya unt..”
“KAU MINUM WINE-KU ATAU TIDAK?”, Hannah memotong ucapkanku dengan nada yang tidak aku suka. Dia membentakku. Dan aku tidak suka pembicaraanku dipotong seperti itu. Aku berjalan mendekatinya. Aku merasa emosi, namun aku simpan emosiku itu. Aku tidak mau, ini menjadi berantakan. Aku tidak ingin bertengkar dengannya. Melihatnya datang, aku ingin bercinta dengannya, karena sudah lama kita tidak melakukan itu.
Aku dapat merasakan tatapannya begitu mengintimidasiku.
“Ya!”, jawabku seraya mendekatinya.
“Lalu apa itu? Kau merokok lagi? Selama aku tidak ada, kau merokok, hah?”, Hannah menunjukan pandangannya ke asbak yang penuh dengan puting rokok.. “Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu merokok! Dan tolong benarkan aku jika aku salah, kau berjanji untuk tidak merokok lagi, kan?”, tambah Hannah makin mengintimidasi.
Apa ini sebenarnya?. Ada apa dengan Hannah?. Aku benar-benar tidak suka dengan prilakunya. Aku seakan dipojokan olehnya. Dia seakan terus mencari kesalahanku. Aku bagaikan tempat pelampiasan masalahnya. Aku bukan tong sampah untuk menampung amarahnya dengan cara seperti ini. Aku kesal sekali. Namun, aku tidak boleh terpancing. Sekali lagi, aku tidak ingin bertengkar dengannya.
“Ya aku ingat itu, untuk berhenti tidak semudah itu! Butuh proses, sayang!”, kataku lembut sembari memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku!”, tangkisnya sambil menatapku dengan keji. Itu semakin membuat bertanya-tanya dan apakah aku bisa menahan emosiku?.
“Aku merindukanmu, Hannah! Apa apa denganmu?”, sekali lagi kataku dengan lembut.
Hannah tak menjawab pertanyaanku. Dia mengambil asbak yang penuh dengan putting rokok itu dan membuangnya ke tong sampah yang terletak tidak jauh dari situ. Aku merasakan kekesalannya dari bahasa tubuhnya dan raut wajahnya. Andaikan dia tahu bahwa aku sedang menahan emosiku. Jika hanya karena sebotol wine yang habis Hannah bertingkah seperti ini, itu artinya dia tak lebih dari wanita pelit. Aku tahu di lemari yang ada di basement, Hannah menyimpan beberapa botol wine. Aku tidak terima dibentak hanya karena sebotol wine. Nilai perasaanku tak ada harganya. Nilai perasaanku tak bisa disamakan dengan nilai wine itu.
“Ini! Aku mau kau membuangnya sendiri!”, Hannah memberikanku sisa rokokku.
Aku yakin tingkah Hannah seperti ini bukan gara-gara aku merokok. Walaupun memang dia tidak suka melihatku merokok. Dan sebenarnya juga, Hannah tak memintaku untuk berhenti merokok secara posesif. Hannah hanya menyarankanku untuk mengurangi rokok. Aku tahu bahwa di sini, aku bukan penyebab dari kekesalan Hannah dan kemarahannya. Di sini aku merasa tidak bersalah. Aku tahu juga, Hannah adalah wanita mandiri dan dewasa. Segala sesuatunya kebanyakan ia lakukan sendiri. Jadi tidak mungkin kekesalannya ini dipicu karena BB-ku yang mati. Hannah bisa pulang sendiri.
Aku memandang mata Hannah yang terlihat besar. Mungkin ini karena pengaruh dari gaya rambutnya. Suara dering handphone Hannah terdengar. Dia berjalan menuju sumber suara. Perasaanku tambah tak tenang mendengar bunyi itu. Melihat Hannah berbicara di telepon kekhawatiranku menjadi-jadi. Aku melihat Hannah berbisik-bisik. Hannah menutup pembicaraanya di telepon. Dia mengambil tasnya dan akan pergi lagi.
“Mau pergi ke mana lagi, Kau?”, tanyaku dengan agak sedikit kaget dan sinis. Apa ini? Di mana pikirannya? Baru datang sudah mau pergi lagi. Dia anggap apa aku ini?.
“Untuk apa kau tahu? Ini tidak penting buatmu!”, jawabnya.
Ini sudah keterlaluan. Aku tidak bisa lagi menahan kesabaranku. Aku berjalan mendekatinya. Menghadapinya.
“Kau tahu apa? Aku sudah muak melihat sikapmu yang kekanak-kanakan seperti ini! Marah-marah tidak jelas. Aku bicara baik-baik, kau balas dengan ketus. Dan demi tuhan, aku tidak suka kau membentakku seperti tadi!”, Yah apa yang aku tahan-tahan, keluar juga. “Aku tidak tahu apa sebenarnya yang telah aku lakukan kepadamu! Dan jawaban macam apa itu? Apa aku tidak boleh tahu tentang kesibukanmu di luar sana? Dan apa ini..baru saja kau datang, sekarang kau akan pergi lagi? Kau anggap apa aku di sini sebenarnya?”, lanjutku. Aku berusaha tidak mengelurakan emosiku dengan amarah memecah langit. “Maafkan aku jika BB-ku mati! Maafkan aku jika aku mengahbiskan wine-mu! Maafkan aku jika aku belum berhenti merokok! Maafkan aku jika aku salah!”.
Semuanya telah aku lepaskan dengan tenang. Aku memang emosi, tapi aku tidak mau emosi itu memakanku. Setelah apa yang aku ucapkan, Hannah tidak memberikan reaksi apa-apa. Dia diam. Tatapan matanya pun seakan tak berarti.
“Apa Kau tidak mau mengatakan sesuatu?”, tanyaku.
“Kau ini terlalu banyak bicara! Jika kau tidak suka aku seperti ini, mengapa tidak kau pergi saja dari sini?”, Hannah membalikan badanya dan pergi.
Kata-kata dari mulut Hannah benar-benar menyakitiku. Aku tidak percaya Hannah berkata seperti itu. Aku mendengar suara mobil dinyalakan. Aku melihat Honda Jazz putih keluar dari garasi dan melaju dengan cepat.
*****

            Aku keluar dari kamar mandi. Hannah sudah ada di kasur dengan menggunakan lingeri warna hitam, mengenakan kacamata dan memegang buku bacaan. Entah buku apa yang sedang dibacanya. Aku berjalan menuju lemariku yang sejajar dengan tempat tidur, lemari pribadiku. Kamar ini besar sekali memang. Hannah memiliki walking closet di dalam kamar ini, lemari pribadinya. Aku memakai kaos oblong biruku. Aku tanggalkan handuk dan mengenakan celana pendek. Malam ini aku tidak mau satu ranjang dengan Hannah. Aku melihat Hannah masih asik membaca. Aku ambil bantal dan guling dan melangkah pergi.
“Adrian!”, tiba-tiba Hannah memanggilku pelan.
Aku berhenti.
“Kau mau ke mana?”, tanyanya.
“Aku mau tidur di sofa!”, jawabku sambil melangkah perlahan.
“Kau tidak akan tidur denganku mala mini?”, tanyanya lagi.
Aku masih membelakanginya. Ini aneh, Hannah malam ini terasa berbeda dengan Hannah tadi sore. Nada bicaranya begitu lembut dan manis.
“Lebih baik aku tidur di bawah saja!”, jawabku sambil menoleh padanya.
“Kemarilah!”, Hannah tersenyum kepadaku. Tangganya mengepak-ngepak kasur.  Dia benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat. Tingkahnya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita. Apa ini adalah muslihatnya? Memperlakukan dengan semena-mena, lantas bersikap manis dan menggemaskan secara tiba-tiba, tanpa memikirkan perasaanku dan sakit hatiku? Apa dia pikir aku ini adalah mainan yang bisa dia perlakukan seenaknya?.
“Ayo kemarilah!”, Hannah tersenyum lagi.
Aku masih tidak bisa melupakan kejadian sore tadi. Namun melihat dia memaksaku seperti itu, memprovokasiku dengan senyumnya, wajahnya yang bening dan bahasa tubuhnya yang seksi dilapisi dengan transparannya lingeri hitam, aku tidak bisa menolak. Aku melangkahkan kakiku. Hannah tetap tersenyum kepadaku. Rasa sakitku aku kesampingkan sejenak. Aku sudah berada di sampingnya. Hannah membuka kacamatanya. Hannah memandangku. Aku memandangnya. Hannah memegang pipiku. Aku merasakan sentuhan yang telah lama aku rindukan. Aneh sekaligus lucu bagiku. Malam ini sangat kontras dengan sore tadi. Lucunya, jantungku berdebar kencang ketika tangan Hannah menjamah pipiku dan dadaku. Bagaikan pertama kalinya badanku diraba oleh lembutnya tangan wanita seperti kekasihku ini. Hannah kini mencium bibir atasku. Kami saling berpandangan selama beberapa detik. Aku kemudian mencium bibir Hannah. Hannah menciumku penuh dengan nafsunya. Tanganku berkeliaran menjamah punggung, pundak Hanna. Meremas dadanya. Bibir kami terpisah sejenak. Hannah sepertinya sudah terkuasi nafsu. Dia menaggalkan kaos oblong biruku. Meraba-raba dadaku. Kami bercumbu lagi.
Aku merasakan hawa yang beberda. Sesuatu yang tak biasa. Hal yang aneh dapat kucium. Nafsuku tak kalah memuncak, aku mulai menanggalkan lingeri Hannah dan menciumin lehernya. Bibirku menjamah dadanya. Hannah terlihat keenakan. Desahan-desahan kecil terdengar, memecut nafsuku. Yah, setelah lama aku tidak menyentuhnya, betapa aku merindukan Hannah, akhirnya kami bercinta. Tubuh dan peluh kami menyatu hingga orgasme yang nikmat tiada tara.

bersambung...

           
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar