![]() |
| The Black Rose |
Aku belai wajah Hannah. Kami saling berpandangan satu sama lain. Perasaanku senang luar biasa. Aku merasa bahagia berbagi tempat tidur bersama kekasihku. Kesibukan Hannah membuatku sering tidur sendiri. Bercinta dengannya malam ini adalah hal yang aku rindukan. Hannah memegang tanganku. Dia menutup matanya, meresapi sentuhanku. Aku tersenyum bahagia. Aku merasa tidak sendiri. Hannah membuka matanya dan berbisik, “Don’t ever leave me, Ian!”. Kalimat yang keluar dari mulutnya membuat ku merasa seperti lelaki sejati. Lelaki yang dibutuhkan. Untuk sesaat aku merasa sempurna.
“I’ll never leave you! I’m here!”. Aku terus membelai wajahnya lembut. Aku belai rambutnya yang pendek. Hannah membuka matanya. Dia menggenggam tanganku. Dengan bibirnya yang tipis—merah muda, dia mencium tanganku. Tanganku yang satunya aku lingkarkan ke kepalaku dan membelai rambutnya.
“Kenapa kau merubah gaya rambutmu menjadi pendek seperti ini?”, tanyaku. Pertanyaan yang daritadi ingin aku sampaikan baru bisa aku katakan.
“Kau suka?”, jawabnya bertanya balik sambil tersenyum. Oh Tuhan! Senyuman yang manis sekali. Hannah tersenyum sembari menyelipkan tawa kecil dengan gigi depanya yang rapih terlihat.
“Aku suka sekali! Kau terlihat semakin cantik dan menarik dengan gaya rambutmu sekarang ini!”, kataku.
Hannah mendekati wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Kami bercumbu lagi. Aku merasakan hawa yang berbeda kembali. Sesuatu yang tak wajar dapat aku rasakan melalui indera penciumku. Sebuah aroma yang tercium dan sangat janggal dan mengganggu pikiranku.
“Hannah..”, kataku berhenti menciumnya.
“Hmm…”, gemingnya seraya terus menyerang bibirku. Aku balas serangan cumbunya sedikit demi sedikit,.
“Kau tercium berbeda?”, kataku.
Hannah tiba-tiba berhenti menyerang bibirku.
“Berbeda bagaimana maksudmu?”, tanyanya sambil menyandarkan badannya.
“Er..aku mencium aroma maskulin dari badanmu!”, jawabku. Sekilas kecurigaan terbesit di benakku. Namun aku memcoba berfikir positif. “Apa kau mengganti parfummu?”
Hannah tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terlihat tidak senang dengan pertanyaanku. Hannah memakai lingeri hitamnya, seakan tidak peduli dengan pertanyaanku. Aku kembali merasakan sesuatu yang salah.
“Hannah, Kau tidak menjawab pertanyaanku?”, tanyaku.
“Aku tidak suka pertanyaanmu itu!”, jawabnya.
“Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”, tanyaku kembali.
“Tentu saja! Pertnyaanmu itu seakan menyiratkan kecurigakan! Aku tidak suka!”, jawabnya dengan sedikit keras.
“Aku hanya bertanya apa kau ganti parfummu atau tidak! Itu saja!”, belaku. “Aku tidak merasakan ada yang salah dengan pertanyaanku..terkecuali jika kau menyembunyikan sesuatu dariku!”, jelasku.
“Apa maksudmu?”, Hannah menatapku dengan tatapan yang tegas. Tatapan itu seperti memanggil emosiku, emosi yang aku pendam sejak tadi sore.
“Maksudku sudah cukup jelas, bukan?”, aku turun dari tempat tidur bertelanjang membelakangi Hannah yang masih ada di atas tempat tidur. Hal yang tak ingin aku ketahui kebenarannya lalu-lalang di pikiranku.
“Apa? Apa kau pikir aku telah tidur dengan pria lain? Apa itu maksudmu!”, katanya dengan pelan. “OH MY GOD!” Aku tidak percaya ini!”, serunya. Aku seakan diremehkan olehnya.
“I’M NOT SAID THAT! I’M JUST ASKING YOU ONE SIMPLY QUESTION!!!! YOU ONLY NEED TO ANSWER MY QUESTION! DID YOU CHANGE YOUR BLOODY PERFUME OR NOT?”, teriakku. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Sebelumnya aku belum pernah berteriak seperti ini, membentak kekasihku, karena aku begitu menyayanginya dan menghormatinya. Hannah terdiam tersentak. Dia menatapku penuh dengan rasa takut. Sedikit aku merasa bersalah telah bicara kasar dan keras kepadanya. Aku kesal sekali. Aku muak dengan sangkalan-sangkalannya yang selalu berakhir kepada aku yang disudutkan. Ucapanku membuat Hannah terdiam. Dia menatapku tanpa berkedip.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Aku memcoba untuk menenangkan emosiku. Aku duduk di atas tempat tidur. Aku membalikan badannku sehingga aku dapat melihat ekspresi raut wajah Hannah dengan jelas. Hannah terlihat masih kaget. Dia terlihat begitu shock.
“Tolong jawab pertanyaanku, Apa kau mengganti parfummu atau tidak?”, tanyaku kembali dengan normal. Hannah tidak menjawabnya. Dia malah menamparku dan pergi begitu saja. aku terdiam. Aku tidak percaya dengan apa yang telah Hannah lakukan kepadaku. Tamparannya aku rasakan bagaikan hinaan yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa aku salah bertanya seperti itu? Ahh..aku tidak yakin. Bagaimana jika dugaanku salah? Ahh..entahlah. Satu hal yang jelas bagiku, Hannah menamparku, dia membenciku dan aku begitu mencintainya…
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar