Selasa, 08 Oktober 2013

GRAVITY

RYAN STONE HAD A BAD DAY!!

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan Childern of Men adalah salah dua film besutan dari sutradara berdarah latinMexico, Alfonso Cuaron. Keduanya mampu menarik sanjuangan dan menjadi buah bibir sinema yang manis. Bermain dalam teritory genre thriller, Drama, sekaligus Sci-Fi, Cuaron adalah nama yang mampu menyajikan warna dan sensasi gambar yang berkelas. Lewat sentuhannya, kisah petualangan penyihir dari Hogwarts mengalami progess yang signifikan. Adalah pilihan yang tepat ketika Warner Bross menunjuk Alfonso Cuaron menggarap halaman demi halaman jilid 3 dari novel karya J.K Rowling itu. Dan apa hasilnya? Excellent. Dari kisah Potter yang tergambar bagai jajanan anak-anak, berubah menjadi hidangan utama yang matang dengan bumbu intrik dan citra remaja yang alami. Tentunya bumbu itu bisa kita rasakan dari peubahan wujud dementors dan intrik persahabatan usia belia. Namun, tidak hanya itu saja, warna yang mebalut adaptasi novel penyihir ini pun berubah pekat dan "mendung".

Sukses melakukan renovasi pada seri Harry Potter, dua tahun setelahnya, Alfonso Cuaron kembali mendobrak mata penikmat film dengan Childern of Men. Sekali lagi dia berhasil meberikan gambar kekacauan London dengan begitu gaduh dan kalut dalam kekacauan yang terjadi di sebuah fenomena langka
beautifully. Bermain dengan cerita yang diadaptasi dari tulisan P.D James, Cuaron kembali berhasil membangun sugguhan yang solid dan asik untuk dinikmati. Sebuah prestasi yang luar biasa. Dan track record tersebut tentunya, secara otomatis menjadi jaminan para penikmat film untuk menarik kakinya ke bioskop, memanjakan mata mereka, melayang di luar angkasa, melihat pesona bumi melawan Gravity.

Gravity.
Kali ini Cuaron tidak hanya menjadi man behind camera saja, dia juga merangkai kata demi kata, menggabungknya menjadi kalimat dan bermetamorfosis menjadi sebuah cerita yang sederhana nan visioner. Memang, Gravity bukan yang pertama berdiri dalam daftar survival, tapi apa yang Cuaron tulis bisa menjadi sebuah visioner untuk kategori ini. Berkisah tentang Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) yang bekerja sama melakukan sebuah misi. Namun di tengah misi itu sedang berjalan, sebuah kecelakan terjadi yang mengakibatkan keduanya terpisah, terpental, mengapung dalam laut hitam dengan bumi sebagai karangnya. Lalu apa yang terjadi? Untuk yang satu ini, untuk mengetahuinya yang perlu anda lakukan adalah ikut melayang dan tersesat bersama Sandra Bullock dan George Clooney. Bersedia?

Sesunggunya, seperti apa yang saya utarakan sebelumnya, Cuaron ini memang pandai dan cerdik dalam memberikan sebuah pesona di setiap gambar. Terbukti dalam waktu 5-15 menit (kurang lebih), Cuaron memberikan cinta pada mata kita melalui visual bumi yang menakjubkan nan agung. Tidak hanya mata, tetapi jantung pun seakan terhenti melihat penampakan bumi dari titik pandang astronot. Saya yang tidak nyaman dengan ketinggian, mengalami hal tersebut. It takes my breath away. Serta, ada satu adegan, di mana Cuaron mengahadirkan satu gambar dengan mengekploitasi kemolekan tubuh Sandy yang berputar disertai tali menjadi sebuah kehidupan awal manusia dalam rahim lengkap dengan tali pusar. It's so beautiful. *Sigh*

Struktur Gravity bisa saya bilang, tidak hanya ditopang oleh visualisasinya saja, namun peran peraih predikat Academy Award Winner, Sandra Bullock, memiliki andil yang jelas, yang mana membuat Gravity sebagai film visioner.
Gelar Best Actres membuat dirinya matang. Sandy mampu melepas image gadis flamboyan yang galau karena pria. The Blind Side membuktikan bahwa dia layak dan Gravity adalah gema dari kualitasnya yang sempat diragukan oleh sebagian khalayak.

Jika visualisasi dari cerita yang epic adalah pondasi, dan performa Sandra Bullock adalah pilar, maka drama berupa pesan moral Gravity adalah atapnya. It occurred to me that when you lose hope...... d o n' t l e t.... g o



posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar