Selasa, 26 November 2013

REMEMBER WHO THE REAL ENEMY IS!






Nama Francis Lawrence sebelumnnya kita kenal sebagai sutradara video klip manca negara. Kehandalannya dalam menggarap video musisi dunia membawa nama Francis Lawrence mentereng di dunia industri perfilman Hollywood. Di tahun 2005, beliau dipercaya men-direct Keanu Reeves dan Rachel Weiz untuk genre fantasy, Constantine, lalu disusul dengan proyek survival I am Legend pada tahun 2007. Kredibelitas yang ia miliki sepanjang karirnya, mampu membuat pihak Liongate melirik sutradara kelahiran Austria ini untuk menangani proyek film based on science fiction Novel karangan Suzanne Collins, Catching Fire, babak kedua dari Novel yang fenomenal itu, The Hunger Games.

Gary Ross adalah nama yang membawa halaman demi halaman The Hunger Games ke layar lebar dengan begitu membosankan. Padahal, di dalam proyek film ini bertebaran banyak potensi yang mampu membangkitkan selera pecinta film. Adalah Jennifer Lawrence yang dipercaya untuk memberi spirit karakter fiktif Katnis Everdeen, namun performa yang nampak adalah sia-sia. Kemudian, unsur politik dan otoriter pihak Capitol dipersembahkan dengan penuh basa-basi dan tidak adanya impressive-strategy di dalam Hunger Games. Sehingga, permainan yang ditakuti berubah menjadi bak nina bobo.

Keluar sebagai pemenang Hunger Games yang ke 74, Katnis dan Peeta harus menjalani setiap ketentuan yang dibuat oleh Presiden Snow. Sandiwara mereka tercium, cukup untuk membuat Katnis panik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dampak Hunger Games meninggalkan trauma tersendiri untuk Katnis. Kedua Lawrence berhasil menyampaikan kesan kejamnya kebijakan pihak Capitol akan Hunger Games itu. Sungguh mengejutkan.

Catching Fire adalah tempat di mana Jennifer Lawrence membuktikan bahwa dia adalah bunglon. Dan kita bisa melihat wajah baru Jennifer Lawrence setelah Oscar mengganjarnya untuk amarah, teriakan, dan tatapan bola mata gila di sebuah dinning lewat Silver Lining Playbook.

Di tangan Francis Lawrence, babak kedua saga ini terasa terkonsep dan tahu arah. Memang, alurnya cenderung sama dengan babak sebelumnnya, tetapi ada hal yang tidak dimilili oleh putaran pertama. Kembali bahwa ini adalah permainan hidup dan mati, Francis Lawrence berhasil menampilkan aspek emotional dan mental breakdown yang pekat. Ternyata tidaklah mudah mendapatkan gelar juara. Konflik batin itu terasa nyata ketika Katnis harus melihat seorang kakek di eksekusi untuk sekedar bersuara jujur. Adegan itu juga sangat memberikan pengertian betapa jahatnya Capitol dan sengsaranya menjadi orang-orang Distrik Panem. Untuk yang kecewa dengan upaya Gary Ross, apa yang dilakukan Francis Lawrence adalah sebuah layangan maaf.

Pelan-pelan Francis Lawrence memaparkan kehidupan pasangan juara The Hunger Games dari sebuah traumatis dan romansa menuju central film ini. Quarter Quell adalah mimpi buruk yang harus dijalani lagi oleh Katnis serta perwakilan semua distrik. Sebelum memasuki arena, lagi-lagi kita disuguhkan kualitas akting Jennifer Lawrence. Babak kedua ini sangat memukul emosianal seorang Katnis. Dan pada saat jam itu nyala dan berjalan mundur, pertarungan singkat pun terjadi. Intensitas arena bertumbuh dewasa. Katnis tidak lagi terlihat begitu beruntung. Kecurigaan bercampur dengan arena hidup dan mati. Kemunculan karekter Finnick yang mengundang kewaspadaan serta Joanna yang begitu eksentrik dan free,ditambah karakter pasangan jenius yang dikombinasikan dengan tipikal permainan Quater Quell adalah ornamen yang digarap Francis Lawrence dengan apik, mebuat Quater Quell sebagai persembahan yang bergizi baik. Menjadikan Katnis sebagai target Capitol adalah langkah yang tepat untuk mengecoh sang presiden Snow. Capitol telah membabat habis distrik 12. Kini yang tersisa hanya tinggal pion-pion pemberontak yang siap berperang dalam medan hitam dan putih.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar