Jumat, 20 September 2013

"THAT IS WEIRD"

Weekend (Andrew Haigh, 2011)

Problema kehidupan homosexual biasanya selalu ditampilkan dengan wajah yang depressive, penuh aura merana, dan kegalauan yang mencabik hati. Kita lihat saja bagaimana Ang Lee berdiri di balik kameranya menyuguhkan pemandangan Brokeback Mountain yang indah, namun tidak seindah kisah tautan hati cowboy macho Jack Twist dan Ennis Del Mar. Selain itu, dari Israel, kisah serupa hadir dalam kemasan semu, biru, dan dingin, kisah kasih terlarang antara Butcher dan seorang pemuda asing yang berjudul Eyes Wide Open. Atau Korea, yang membuat tema serupa dengan penuh ketidakjelasan dan ending yang kabur dalam No Regret. Semuanya memiliki mimik yang sama, yaitu depressive. Entahlah apa sebenarnya maksud dari kegundah-gulanaan mereka dengan menyajikan raut keputus asaan dari tema ini.

Di tahun 2011, dari tanah Elizabeth, UK, Andrew Haigh muncul dengan cerita dan tema yang serupa. Menggandeng Tom Cullen dan Chris New, Andrew Haigh menawarkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu itu ia beri ngaran Weekend.

Adalah Russell (Tom Cullen) yang bertemu dengan lawan One Night Stand-nya, yaitu Glen (Chris New). Setelah melewati malam bersama dan mengatasi rasa canggung yang jelas terpancar dari mereka lewat perbincangan personal atau sedikit gurauan, sesuatu yang lain berkembang--sebuah perasaan after One Night Stand.
Yes, storyline Weekend ini memang bisa dibilang pasaran, namun yang berbeda adalah bagaimana Andrew Haigh menyampaikan film ini kepada audience.

Andrew Haigh menyajikan cerita sesama jenis ini dengan ringan, sesederhana mungkin, namun cukup untuk menyinggung aspek-aspek perbedaan antara straight dan gay. Haigh mencoba menjelaskan isu ini dengan cara universal, tentang mana yang dianggap sepele dan berarti bagi kehidupan seseorang. Dia tidak menekankan tentang perasaan yang terjalin antara Adam dan Adam, itu point yang saya apresiasi dari film yang sangat realistis ini. Andrew Haigh mencoba menjelaskan perbedaan akan selalu menjadi perbedaan dan itu bukan hal yang mengada-ada.

Dalam balutan sinematografi yang sederhana nan elegan, Cullen dan New bermain sangat natural di setiap frame. Kesederhanaan menjadi pondasi yang kuat. Tidak terlalu mendramatisir dan gadai a.k.a galau badai.

Jika bicara galau, mungkin satu-satunya scene galau dalam film ini adalah ketika John Grant menganlunkan lagu Marz setelah akhirnya Russell melakukan apa yang berarti untuknya dan hatinya.

Weekend, sangat modern dan realistis. Itu.


posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar